Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Festival Ruwahan Sendang Sebagai Wujud Pelestarian Budaya

Hakam Alghivari • Jumat, 23 Februari 2024 | 01:00 WIB
MERAWAT SEJARAH: Bupati Yes saat menghadiri Haul Sunan Sendang Duwur yang ke-439. (IST./RDR.LMG)
MERAWAT SEJARAH: Bupati Yes saat menghadiri Haul Sunan Sendang Duwur yang ke-439. (IST./RDR.LMG)

LAMONGAN, Radar Lamongan - Festival Ruwahan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan dan Haul Sunan Sendang Duwur yang ke-439 berlangsung meriah. Kegiatan yang digelar selama dua hari di Halaman Masjid Noer Rahmad Sendang Duwur, Kecamatan Paciran ini dikemas sangat menarik, sehingga mampu memikat sejumlah pengunjung dari kecamatan sekitar.

Bupati Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, MBA mengaku senang, semua warga tumplek-blek. Banyak warga yang berdatangan. Tidak hanya dari Paciran saja, tapi dari kecamatan lain juga ikut menyaksikan Festival Ruwahan yang menjadi agenda tahunan Desa Sendang Duwur.

Bupati Yes mengucapkan selamat atas terselenggaranya Festival Ruwahan dan Haul Sunan Duwur ini. Harapannya kegiatan ini setiap tahunnya lebih meriah sebagai bentuk syukur dan memelihara budaya. ‘’Alhamdulillah, semoga dengan kegiatan ini, kita senantiasa dilimpahi keberkahan, kesehatan, dan keselamatan,” ujar Bupati Yes.

Menurut Bupati Yes, kegiatan ini sudah masuk kalender event tahunan Pemkab Lamongan. Tujuannya untuk mengetahui asal muasal, memelihara budaya dan adat istiadat. ‘’Sehingga pengunjung yang hadir tidak hanya bisa menyaksikan pameran batik, budaya, dan makanan saja, tapi mereka bisa belajar sejarah,’’ ucapnya.

Kades Sendang Duwur, Bahrur Rohim mengucapkan terima kasih kepada Bupati Yes yang selalu hadir dalam Festival Ruwahan dan Haul Mbah Sunan Sendang.  Rangkaian festival ini sudah dimulai sejak tanggal 20-21 Februari. Yakni, diawali dengan pasar tradisional bayarnya dengan kayu. Biasanya pasar ini diadakan setiap minggu legi, tapi kemarin masuk dalam rangkaian ruwahan.

Kemudian membatik bersama dengan 100 motif. Tujuannya menghidupkan kembali motif lama agar bisa digunakan lagi. Karena nenek moyang dulu membuat desain tersebut juga memakan waktu lama. Sehingga dengan menghidupkan kembali merupakan bentuk terima kasih. Dilanjutkan kegiatan nguras (membersihkan) sumur yang sudah hampir 56 tahun tidak dilakukan, babat makam, pawai, dan sedekah 1.000 kuliner. 

Menurut dia, kegiatan ini merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan. Serta kirim doa kepada leluhur, karena sudah mewariskan ilmu dan kebudayaan yang melimpah bagi warga Sendang Duwur Paciran.

‘’Terima kasih untuk seluruh masyarakat yang hadir, dan semoga kita senantiasa sehat, dan bisa menyelenggarakan kegiatan dengan lancar,” ungkapnya. (rka/ind)

Editor : Hakam Alghivari
#festival #bupati yes #pelestarian #Budaya #lamongan