BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Satu per satu buah naga dipetiknya dari pohon ke pohon. Meski matahari mulai terbenam di Desa Kedewan Rabu (21/2). Namun tak sedikit pun, pria dengan kaus berkerah itu beranjak dari ladang. Tanah seluas seribu meter persegi itu juga ditanami rumput gajah tepat di antara pohon buah naga.
Ladang tersebut disulapnya menjadi laboratorium pribadi. Sebab, tepat di samping ladang miliknya, juga berdiri kandang berbahan kayu yang berisi sekitar 20 ekor kambing. Kandang tersebut, berisi puluhan jeriken berisi bahan olahan pupuk dari kotoran tenak miliknya.
’’Buah naga, rumput gajah, dan kambing ini saling berhubungan,” jelas Nuri, saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro. Ia menceritakan, bahwa mulanya dirinya dan temannya yang juga perangkat desa yakni Suparman mencoba mencari inovasi untuk mengembangkan ekonomi desa.
Melihat kesuburan tanah di desanya yang telah menghasilkan berbagai buah seperti rambutan, kelengkeng, hingga alpukat. Hal itu membuatnya berinisiatif mengembangkan buah naga. Selain dirasa lebih mudah dalam perawatan, nilainya juga tinggi di pasaran.
Namun, gambaran awal itu ternyata tidak sesuai dengan praktik di lapangan. ’’Masa panen pertama masih belum berbuah, sampai setahun tidak ada hasilnya. Itu pun harus mengeluarkan biaya sampai Rp 300 ribu per bulan untuk perawatan,” keluhnya.
Meski kegigihannya tak kunjung membuat tanaman berbuah. Namun, dari sanalah ia menemukan ide. Yakni, dengan menggabungkan konsep pertanian dan peternakan. ’’Akhirnya, saya tanami rumput gajah bersamaan di antara buah naga dan saya buatkan kandang kambing,” ungkap Nuri dengan tersenyum.
Rumput tersebut dimanfaatkannya untuk pakan ternak. Bahkan, kotoran kambing bisa dibuat pupuk diolah kembali menjadi pupuk untuk tanaman. Proses tersebut sedikit demi sedikit membuahkan hasil, melihat mulai suburnya rumput gajah. Dan, buah naga yang ditanam bersamaan mulai berbuah.
Metode yang ia temukan di tengah keputuasaan itu, ternyata mampu membuahkan hasil maksimal. Terbukti, buah naga yang mulai ditanam pada 2021 lalu itu, akhirnya berhasil berbuah pada akhir tahun lalu. ’’Mulai musim hujan kemarin, akhirnya untuk pertama kalinya berhasil berbuah,” bebernya.
Bahkan, sejak November lalu, buah tersebut sudah dipanennya sebanyak tiga kali. Tak hanya itu, buah yang dihasilkan pun tak kalah berkualitas dibanding buah naga yang sudah ada di pasaran. ‘’Kalau kata orang-orang yang sudah mencoba, rasanya memang lebih manis,” tambahnya.
Keberhasilan buah naga tersebut, akhirnya mendapat animo tinggi dari masyarakat. Rerata warga di tempat tinggalnya, kini mulai belajar menanam buah naga di pekarangan rumah masing-masing. Buah naga pun kini tampak menghiasi hampir setiap rumah di Dusun/Desa Kedewan.
Uniknya, Nuri masih tak tertarik menjual buah naga itu kepada pengepul. Justru pembeli yang berminat dapat langsung datang, dan memetik sendiri di ladang yang berada tepat di samping rumahnya. ’’Saat ini, sudah hampir habis saya bagi-bagikan ke warga sekitar,” ungkapnya dengan sumringah. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari