BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Sejarah dan masa lalu dengan berbagai latar belakang sosial dan politik menjadi isu yang kurang menarik bagi sebagian orang, khususnya anak muda. Tapi, berbeda dengan Muhammad Andre, pegiat muda atau konten kreator media sosial (medsos) instagram dan tiktok yang santer membahas konten seputar sejarah dan budaya di Bojonegoro.
Dengan penuh semangat, dia mulai menceritakan awal mula dirinya dan teman-teman muda lainnya menggagas platform medsos konten sejarah dan budaya di Bojonegoro.
Dengan banyaknya media untuk memperoleh informasi termasuk melalui platform digital, masyarakat bisa mengakses di manapun dan kapan pun. Tanpa, terpaku hanya dari satu sumber atau sudut pandang.
Andre mengungkapkan, adanya Bodjonegoro History harapannya bisa menjadi informasi tambahan tentang bagaimana ruang lingkup kebudayaan Kabupaten Bojonegoro di masa lalu dengan berbagai latar belakang sosial dan politiknya.
Dia menyampaikan, Bodjonegoro History ada sejak 15 Januari 2023. Digagas beberapa pemuda yang ingin melestarikan budaya.
Selain informasi tambahan, juga menjadi arsip digital bagi warga Bojonegoro. ‘’Jadi, ketika melihat Bojonegoro dulu cukup melihat Bodjonegoro History yang cukup bisa menjadi rujukan informasi seputar sejarah,’’ tuturnya.
Pemuda asal Kecamatan Sugihwaras itu mengungkapkan, komunitas sejarah Bodjonegoro History didominasi kaum milenial atau generasi Y dan mahasiswa yang masih berkuliah. Khususnya jurusan sejarah.
Kegaitannya mencakup kluyuran atau jalan-jalan mengeksplor hal bersejarah Bojonegoro. Seperti kata kunci peradaban Bojonegoro yang lahir dari hutan jati dan tembakau. Jadi, mengunjungi pabrik tembakau terbengkalai.
Serta, berkungjung di kawasan hutan jati masa pemerintahan kolonial Belanda yang pertama kali melakukan konsesi (pemberian hak atau izin) hutan untuk membangun jalur transportasi kereta lori di Desa Ngorogunung, Kecamatan Bubulan.
‘’Kami juga mencoba mengeksplorasi kawasan di Bojonegoro barangkali menemukan sesuatu yang baru. Karena persilangan budaya pasti terjadi ketika masa kolonial Belanda dan penjajahan jepang,” lanjut pria 30 tahun tersebut.
Andre mengakui banyak tantangan, tapi berupaya maksimal dan seoptimal mungkin, komunitasnya memiliki ruang khusus untuk mencari dan mengumpulkan serpihan bangunan tua masa kolonial Belanda dan Jepang.
‘’Dan, dari situ muncul program Bojonegoro Walking Tour yang merupakan proyek pertama kami untuk mengembangkan dan mengampanyekan sejarah Bojonegoro,” jelasnya.
Program diadakan mulai Februari mendatang. Harapannya memberi pengalaman lebih mendalam. Agar dapar melihat dan merasakan suasana kota atau tempat wisata dari dekat, berinteraksi dengan penduduk lokal, dan menemukan tempat tersembunyi yang berkemungkinan tidak tercantum dalam peta maupun brosur. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari