BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Tingginya angka pemilih pemula baik di Bojonegoro maupun secara nasional, perlu diimbangi dengan pendidikan politik. Terlebih dengan hadirnya 50 persen pemilih dari generasi Y dan Z, yang rerata lebih banyak mendapatkan informasi politik melalui media sosial (medsos). Sehingga, urgensi literasi digital menjadi sangat vital.
Manajer Riset Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Danang Wahyuono menjelaskan, bahwa pendidikan politik didapat utamanya dari keluarga, sekolah, dan penyelenggara pemilu. ’’Namun, saat ini juga berjubel informasi yang didapat dari medsos dan lebih familier dengan pemilih pemula,” terangnya.
Menurutnya, hadirnya generasi digital native atau yang lahir dan berkembang dengan ketersediaan teknologi internet, membuat suara pemilih pemula ini strategis dan diperhitungkan. ’’Dalam hal ini, literasi digital penting, mengingat lebih banyaknya sumber informasi yang didapat dari sana,” jelas pria asal Kecamatan Kalitidu tersebut.
Tetapi, pemilih pemula perlu lebih banyak informasi terkait calon wakil rakyat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga calon presiden. Sebab, dikhawatirkan apatisme politik dalam pemilu ini bukan hanya menyangkut faktor ideologis.
Namun juga, pengetahuan yang minim tentang pemilu. ’’Kalau pemuda terjebak pada preferensi yang sangat sempit, akan menjadi sasaran money politic hingga disinformasi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Bojonegoro Mahmudi menyampaikan, bahwa pentingnya penguatan literasi dalam menangkal disinformasi, khususnya literasi digital. ’’Karena itu, kami juga melakukan upaya sosialisasi untuk mengawal media sosial pada pemilu 2024,” jelasnya.
Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur M Hasan Bisri menjelaskan, terdapat sedikitnya tiga ancaman siber. Yakni, misinformasi yang dibuat untuk menyebabkan kerugian.
Kemudian disinformasi untuk menyesatkan kelompok tertentu, dan malinformasi yakni informasi yang didasari fakta namun di luar konteks. ’’Solusinya bisa dengan cek fakta dan penguatan literasi,” jelasnya. (dan/bgs)
Editor : Hakam Alghivari