BOJONEGORO,Radar Bojonegoro- Tak kenal lelah, langkah Niko Fatkuria terus menjelajah ke berbagai tempat. Menyusuri belahan Indonesia untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah.
Kesenangan terhadap arkeologi dan sejarah membuatnya banyak mengetahui hal baru. Seperti, tempat, budaya, hingga orang baru.
Baginya, bisa berkunjung dan blusukan hingga ke pelosok-pelosok desa merupakan petualangan terbaik.
‘’Bagian paling menyenangkan saat blusukan untuk melihat situs cagar budaya atau sejarah adalah bertemu dengan teman-teman baru,’’ ujar pria 33 tahun itu.
Seolah membawa ke memori masa lalu, begitulah perasaan Niko saat berpetualang ke desa terpencil atau tempat-tempat indah dengan cerita sejarah yang melekat di dalamnya.
Mengenal penduduk lokal dengan segala keunikan dan keramahan juga merupakan suatu hal menggagumkan yang ditemuinya saat menjelajah.
Dibalik segala cerita mengesankan yang didapatkannya tersebut, tak jarang pula terdapat halang rintang menghadang.
Niko mengaku, sering tersesat saat berkunjung ke tempat-tempat baru. Terlebih, lokasi bersejarah kerap berada di daerah pedalaman.
Tidak hanya tersesat, ia juga sering mendapat stigma negatif saat berkunjung ke candi atau makam. ‘’Dikira mau mencari pesugihan,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Niko mulai menyukai bidang arkeologi dan sejarah sejak duduk di bangku SMA. Ketika sering berlibur dan mengunjungi museum di Trowulan dan candi-candi di Majapahit.
Ia merasa takjub dengan seni karya dan peninggalan leluhur Bangsa Indonesia. Baginya, seni karya dan peninggalan leluhur memiliki keindahan tak ternilai. Bahkan, berbeda dengan tata bangunan di India.
Pernah melakukan penelitian di Bali selama lima hari. Mengunjungi Candi Gunung Kawi dan Candi Goa Gajah. Melihat perbedaan candi di Jawa dan Bali, serta perkembangan ajaran hindu zaman Majapahit dengan hindu Bali saat ini.
‘’Saya juga tertarik dengan sejarah masa kerajaan pra islam di Bojonegoro. Saat ini masih sangat minim informasi dan temuin situs sejarah,’’ kata pria asal Desa Bendo, Kecamatan Kapas tersebut.
Dengan hobinya, Niko mengaku bisa banyak belajar hal-hal baru tentang arkelogi dan sejarah. Termasuk, menemukan desa-desa kuno yang tercatat dalam Prasasti Naditira Pradeca pada zaman Majapahit. Juga, melihat perkembangan zaman.
Seperti, Dusun Gembloraseh yang dulu bernama I Rasi. Merupakan desa utama penghubung Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban dan Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro dengan menggunakan perahu. ‘’Saat ini berubah menjadi dengan jembatan kare yang megah,’’ tegasnya.
Dia berharap, generasi muda saat ini tidak melupakan sejarah. Mengingat, masih banyak peninggalan sejarah di Bojonegoro yang perlu dirawat dan dipelajari. Dengan begitu, akan semakin mengerti dan merasa bangga sebagai warga Bojonegoro.
‘’Kurangnya minat masyarakat dalam merawat situs budaya atau sejarah membuat banyak situs terbengkalai,’’ ujarnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari