Warga Desa Koripan, Desa Napis Kecamatan Tambakrejo sudah delapan tahun mengajukan pembangunan jembatan. Sudah beberapa kali disurvei Pemkab Bojonegoro. Namun, tak kunjung dibangun. Sehingga, warga terpaksa menyeberang sungai saat beraktivitas ke luar dusun.
YANA DWI KURNIYA WATI, Radar Bojonegoro.
PAGI itu terlihat anak-anak berseragam merah putih berjalan menyeberang sungai di Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo. Di barisan depan dan belakang, terlihat ibu-ibu menggendong anaknya yang sudah mengenakan seragam sekolah.
Tanpa alas kaki, dengan penuh kehati-hatian, pelan-pelan menginjakkan kaki di lumpur tepi sungai. Plean-pelan bergiliran menerabas derasnya arus sungai.
Kondisi ini terjadi hampir setiap hari, saat berangkat dan pulang sekolah. Saat matahari mulai memuncak dengan memancarkan sinarnya, para petani juga terlihat lalu lalang menyeberang sungai, untuk pergi ke sawah. Di antara mereka memikul pupuk melintasi tepi sungai yang penuh lumpur untuk ditabur di lahannya.
Pembangunan jembatan di sungai Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo cukup mendesak.
Karema warga terpaksa menyeberang sungai untuk beraktivitas. Bahkan, siswa terpaksa menyusuri sungai saat pulang dan pergi sekolah.Warga berharap Pemkab Bojonegoro segera mencarikan solusi, salah satunya membangun jembatan.
‘’Anak-anak terutama SD (sekolah dasar) digendong orang tuanya untuk menyeberang (sungai),’’ tutur Kepala Desa (Kades) Napis, Kecamatan Tambakrejo Mulyono.
Dia menceritakan, sungai terletak di RT 50 Dusun Koripan, Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo itu menghubungkan Dusun Ngengo, Desa Ngrancang; dan Dusun Mboti, Desa Turi, kecamatan setempat. Namun, hingga kemarin (12/12) belum ada pembangunan jembatan untuk akses warga.
Anak sekolah diseberangkan orang tua ketika musim kemarau. Sedangkan, saat musim hujan hingga banjir warga kesulitan menyeberang dan menyebabkan anak tidak sekolah.
‘’Setiap tahun dicek dan setiap tahun mengajukan proposal. Tapi, sampai akhir tahun ini (2023) belum ada kabar,’’ ceritanya.
Baca Juga: Kades Sudah Lapor Tiga Kali, Perbaikan Jembatan di Desa Turi Kecamatan Tambakrejo Masih Belum Jelas
Jembatan itu satu-satunya akses warga setempat. Meski melalui dusun lainnya kondisi masih sama tanpa jembatan. Bahkan, tidak hanya kesulitan akses untuk sekolah, warga juga terkendala ketika mendistribusikan pupuk ke sawah ketika musim hujan.
‘’Ini kelompok tani nglangsiri (mengangkut sedikit demi sedikit) pupuk dari Dusun Mbagi ke Dusun Koripan karena aksesnya terbatas,’’ keluhnya.
Dia mengatakan, telah mengajukan proposal pembangunan jembatan setiap tahun. Namun, belum ada jawaban dari pihak terkait. Karena belum menjadi jalan kabupaten, seharusnya dibangun melalui bantuan khusus desa (BKD).
Dan, desa pelosok termasuk Desa Napis, Ngrancang, dan Turi, Kecamatan Tambakrejo menjadi prioritas.
‘’Tahun ini sebenarnya masuk data P-APBD (perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah). Seandainya disetujui melalui BKD harusnya jembatan sudah terbangun,’’ urainya.
Dia menuturkan, desanya telah mengajukan peningkatan status menjadi poros kabupaten. Namun, tidak disetujui.
Kades Ngrancang, Kecamatan Tambakrejo Sudadi menambahkan, sungai menghubungkan tiga desa tersebut belum dibangun meski diajukan sejak delapan tahun silam.
‘’Warga sangat kesulitan untuk aksesnya. Harapan kami segera ada pembangunan jembatan,’’ harapnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari