BLORA, Radar Bojonegoro - Rasa gurih santan dan pahit kopi berpadu saat menyesap Kopi Santan Mbah Sakijah yang menjadi ikon Kabupaten Blora sejak 40 tahun. Hingga kini, cita rasa kopi santan masih jadi juara di dunia perkopian Kota Sate itu.
Warung kopi yang bermarkas di Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora itu tak pernah sepi pengunjung. Sembari menikmati nuansa pedesaan sekaligus menikmati kopi santan jadi pilihan utama segala kalangan di Blora.
Pemilik warung kopi santan Rokhim mengatakan, bisnis yang ia jalani ini merupakan bisnis keluarga, peninggalan kakek neneknya. Tepatnya, pada 1980, Mbah Sakijah memulai bisnis kopi ini secara tidak sengaja.
’’Awalnya dulu almarhum mbah cuman buka warung kopi kothok biasa. Nah, waktu itu mbah sedang memasak santan dan kelebihan. Lebihan santannya itu dicampur ke kopi kothoknya. Eh, ternyata rasanya enak. Banyak yang menyicipi, akhirnya dijual hingga sekarang ini,” terangnya.
Rokhim juga mengatakan, walau sudah berpindah tangan hingga generasi ketiga, kopi yang dijual tak pernah ganti resep ataupun komposisi. Bubuk kopinya dan santan kelapanya, ia buat sendiri dari racikan bumbu dapur rahasia.
Bahkan, saat dipegang dirinya, Kopi Santan Mbah Sakijah ia bawa ke mancanegara. ’’Pernah sempat kirim ke Korea. Bersyukur bisa membawa nama baik kopi santan dan Blora,” ucapnya.
Kopi Santan Mbah Sakijah ini selalu terjual ratusan gelas setiap harinya. ’’Sehari habis kurang lebih 10 kilogram bubuk kopi dan 10 buah kelapa buat santannya. Itupun kami masak sendiri, mulai dari sangrai kopinya itu juga pakai teknik tradisional,” tuturnya.
Selain itu, pecinta Kopi Santan Sakijah tak hanya warga asli Blora, juga dari pengunjung luar kota. ’’Segala kalangan. Pejabat juga ikut menyicipi gurihnya kopi santan ini. Pak Ganjar Pranowo pernah menyicipi walaupun tidak langsung ke sini. Yang baru-baru ini dikunjungi pak Fadli Zon. Katanya enak dan harus go nasional bahkan go internasional,” jelasnya.
Adapun keunikan lainnya di luar komposisi kopi santan tersebut. Yaitu, gelas kopinya. Rokhim menuturkan, ukuran gelasnya konsisten puluhan tahun. ’’Walau ganti baru, gelasnya dari dulu ukurannya segini dan jenisnya gelas Belimbing. Tidak ada pegangannya,” terangnya.
’’Itu ada filosofinya, gelas tanpa pegangan itu artinya bisa dinikmati seluruh kalangan. Dari bawah sampai atas. Selain itu, takarannya sudah pas sesuai isian gelasnya,” imbuh Rokhim.
Sementara itu, warga Lamongan singgah menyicipi Kopi Santan Mbah Sakijah, Arif Nur Hakim mengatakan, kali pertama menikmati kopi santan legendaris itu. Menurutnya, rasanya gurih dan beda dari kopi biasanya. ’’Cocok dengan rekomendasi teman-teman yang menyarankan mampir ke Kopi Santan Mbah Sakijah, saat berkunjung ke Blora,” ungkapnya. (hul/bgs)
Editor : Hakam Alghivari