Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Marak Kasus Kekerasan di Blora, Pemkab Krisis Tenaga Psikolog

Hakam Alghivari • Jumat, 3 November 2023 | 20:36 WIB
ilustrasi Kekerasan, Psikologi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
ilustrasi Kekerasan, Psikologi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tentu para korban membutuhkan pendampingan psikologi. Tapi ironisnya, tenaga psikolog yang dimiliki Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora hanya satu orang.

Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora Luluk Kusuma Agung Ariadi mengatakan, penanganan kasus kekerasan anak di Blora butuh psikolog. Sementara, tenaga psikolog di daerah kurang.

Begitu juga rumah singgah atau rumah aman butuh optimalisasi. ‘’Rumah singgah itu paling berat. Kemudian penanganan terkait dengan anak, yakni korban pencabulan anak. Sementara psikolog di kabupaten hanya satu,” jelasnya.

Meski minim, terang dia, pihaknya mengupayakan pendampingan psikologi tetap berlangsung. Termasuk upaya menggandeng Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) Cepu agar turut bantu mengkaver pendampingan psikologi di wilayah Cepu, Kedungtuban, Sambong, Menden, Randublatung, dan lainnya.

‘’Saya menyampaikan hal ini kepada PPSDM untuk meminta bantuan psikolog,” imbuhnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Nur Bestia Bertawati menerangkan, psikolog yang mempunyai wewenang melakukan pendampingan psikologi hanya ada satu orang. Saat ini, bertugas di RSUD Blora, termasuk untuk memberikan pendampingan kepada korban perempuan dan anak di daerah.

‘’Kami hanya ada satu (psikolog) saja yang sudah S-2. Sebenarnya juga ada (psikolog) yang S-1. Tapi secara prosedur tidak diperbolehkan (memberikan pendampingan psikologi),” terangnya.

Nur menjelaskan, belum ada rencana penambahan psikolog tahun ini. Karena harus melalui perekrutan aparatur kepegawaian daerah. Namun, bisa disiasati dengan perekrutan melalui badan layanan umum daerah (BLUD). Sebab, BLUD punya otonomi pengelolaan anggaran. ‘’BLUD bisa merekrut, jadi bukan langsung ikatan dinas atau pegawai pemda,” katanya. (luk/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#psikologi #Kekerasan #blud #rsud blora #Dinsos P3A #Pemkab Blora #blora