BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Bangunan Prakemerdekaan di Desa Klino, Kecamatan Sekar menarik perhatian.
Arsitekturnya eksotis khas jaman dulu ini dikenal dengan nama Persanggrahan Klino. Bangunan diduga peninggalan Belanda ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Persanggrahan Klino berbentuk rumah panggung dengan fondasi persegi di beberapa sudut bawah rumah. Lantai dan dinding persanggrahan ini keseluruhan berasal dari papan kayu.
Pintu depan terdapat tiga anak tangga sebagai jalan masuk ke. Dari luar, persanggrahan tersebut terlihat seperti rumah panggung satu lantai saja. Namun, ternyata Persanggrahan Klino memiliki dua lantai.
‘’Di setiap lantai ada kamar mandi. Untuk kamar-kamar terletak di lantai dua,’’ ujar Resnanto, Kepala Dusun Gayam, Desa Klino.
Dia mengatakan, Persanggrahan Klino ini merupakan bangunan peninggalan Belanda. Bentuknya masih utuh, tidak ada yang diubah. Namun, untuk dinding sudah diganti dengan kayu baru.
‘’Sampai sekarang kondisi bangunan masih bagus, tidak ada yang keropos. Meskipun usianya sudah sangat tua,’’ tambahnya.
Persanggrahan Klino tersebut saat ini ditempati oleh asisten perhutani (asper). Meski sudah ada rumah khusus, namun asper lebih suka tinggal di persanggrahan. Tidak jarang pula, Persanggrahan Klino tersebut digunakan sebagai tempat pertemuan pejabat terkait.
Sekretaris Desa Klino Andiko menyampaikan, konon persanggrahan Klino berlokasi tidak jauh dari Gunung Pandan ini dulu dikenal sebagai tempat sunyi.
Semasa penjajahan Jepang pada akhir 1943, tempat tersebut digunakan untuk menciptakan lagu mars Seruan Rimba. Ketika pelaksanaan rapat kehutanan tiga daerah. Yakni, meliputi Saradan, Nganjuk, dan Bojonegoro.
Mars tersebut diciptakan oleh R. Notosoekotjo (MBS 1943) terakhir menjabat Kepala Sub Bagian Penyuluhan Jawatan Kehutanan.
Sedangkan, syairnya disusun oleh Jahya Bahram (SKMT 1945) terakhir Let Kol AD menjabat Kepala Bagian Keamanan Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.
‘’Lagu itu menjadi lagu perjuangan pertama Berbahasa Indonesia. Sebelum lagu Indonesia Raya beredar di derah, terutama di kehutanan,’’ kisahnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari