BLORA, Radar Bojonegoro - Jumlah eceng gondok menumpuk di bantaran Bengawan Solo turut Desa Sumberpitu, Kecamatan Cepu lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Juga warga sekitar bantaran menduga intensitas pencemaran limbah di Bengawan Solo meningkat.
‘’Dan, sepertinya semakin sering limbahnya, karena dua hari kemarin di sini pladu, banyak ikan yang kelihatan kepalanya (mabuk), ini ikan sisa pladu tadi pagi,” ungkap Kamid sambil menunjukkan ikan sisa tangkapannya.
Menurut Kamid, apabila dihitung per dua minggu sekali, warna air bengawan berubah. Kemungkinan akibat pencemaran limbah. Terbaru, dirinya menjumpai air bengawan berubah hitam kemerahan pada Minggu lalu (22/10).
Saat warna air berubah, dirinya sudah siap-siap membawa alat seperti tongkat dengan ujung bergerigi lancip (pecuk). Sebenarnya, Kamid mengaku sedikit khawatir ketika mengonsumsi ikan tangkapannya. Namun, keadaan memaksanya tetap mengonsumsi. ‘’Biasanya juga dijual atau makan sendiri,” katanya.
Selain limbah mencemari bengawan, jumlah eceng gondok melimpah juga mengganggu para pemilik perahu. Mereka harus berusaha lebih keras menyingkirkan akar eceng gondok yang sudah tertancap kuat di pinggir dasar bengawan. Bahkan, tambangan penyeberangan tidak beroperasi.
‘’Eceng gondok menumpuk di sini, sudah penuh sampai seberang sana. Penyeberangan ditutup karena perahu tidak bisa berjalan,” ungkap Nasripin, juga warga Desa Sumberpitu.
Nasripin mengatakan, eceng gondok terjadi musiman di aliran bengawan. ‘’Namun, jumlahnya tahun ini lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan, sudah mengendap lama di sini,” katanya. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari