BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Petani wilayah Kecamatan Temayang menanti masa akhir panen tembakau yang diprediksi pertengahan September. Raut wajah para petani tembakau tampak semringah, karena harga tembakau saat ini naik hingga dua kali lipat.
Tahun lalu, harga tembakau langsung dari pohon hanya Rp 2.500 per kilogram. Tahun ini naik mencapai Rp 5.000 per kilogram. ‘’Para petani tembakau senang sekali. Luar biasa,’’ ujar Suyono petani tembakau asal Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang.
Dia menjelaskan, masa tanam tembakau selama 80 hari panen. Perawatannya dilakukan pemupukan secara irit. Biasanya 1,5 kuintal pupuk per hektare. Tapi, lanjut dia, beda lahan biasanya juga beda pemupukannya.
Kalau lahan tidak subur, pupuk sekitar 250 kilogram per hektare. ‘’Saya menggunakan pupuk urea subsidi 50 kilogram dengan harga Rp 130 ribu. Selain itu, juga menggunakan NPK, tapi saya ganti dengan pupuk phonska,” tambahnya.
Selain Kecamatan Temayang, terdapat pula beberapa kawasan di Bojonegoro ditanami tembakau. Di antaranya, Kecamatan Baureno, Kedungadem, Kepohbaru, Sugihwaras, Sukosewu, Ngasem, dan Malo.
Suyono menerangkan, cara panen tembakau tidak langsung habis dalam sekali panen. Melainkan, bisa dipanen berkali-kali. Misalnya, diambil tiga daun paling bawah. Satu minggu kemudian, diambil lagi empat daun atasnya. Jarak satu minggu lagi, empat daun diatasnya lagi.
Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Timur (Jatim) Mudi membenarkan, harga tembakau sedang mengalami kenaikan. Adapun panen termbakau dimulai awal Agustus hingga Oktober. ‘’Tembakau hanya satu kali tanam dalam setahun,” jelasnya
Di wilayah Jatim terdapat dua jenis tembakau. Yakni, virginia dan jawa. Tren harga tembakau virginia kering naik dibanding tahun sebelumnya. Semula Rp 25.000 sampai Rp 36.000 per kilogram naik menjadi Rp 37.000 sampai Rp 47.000 per kilogram.
‘’Sedangkan, harga tambakau jawa kering menurun menjadi Rp 33.000 sampai rp 35.000 per kilogram dari sebelumnya mencapai Rp 42.000 per kilogram,” ungkapnya.
Kenaikan harga disebabkan kebutuhan saat ini cukup tinggi. Serta, karena tiga tahun terakhir banyak petani mengalami gagal tanam akibat anomali iklim. (ewi/yna/bgs)
Editor : M. Yusuf Purwanto