BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Memasuki musim kemarau, sungai Bengawan Solo mulai surut. Tumpukan batu di dasar sungai terpanjang di Pulau Jawa itu mulai tampak.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, bangunan menyerupai tembok tersebut berada tepat di area tikungan arus bengawan Kelurahan Jetak. Tersusun dari bebatuan yang berjejer rapi. Rerata memiliki panjang sekitar 30 meter dari selatan ke arah tengah sungai.
Jhoni Susanto, pegiat sejarah di Komunitas Bojonegoro Tempo Doeloe (KBTD) mengatakan, meski belum menemukan sumber-sumber terkait bangunan tersebut. Namun diperkirakan struktur bangunan tersebut ada sejak era kolonial.
Kalau fungsi kurang lebih sebagai pemecah atau penahan ombak sungai. ‘’Untuk mengurangi erosi di sisi selatan bengawan,” ungkapnya.
Angga, salah warga Kelurahan Jetak, Kecamatan Bojonegoro Kota menambahkan, bangunan tersebut diperkirakan sudah ada sejak zaman Belanda. Rerata warga sudah melihat tembok tersebut turun temurun, khususnya ketika sungai surut.
Namun, dari tahun ke tahun bangunan kian habis. batu di tembok tersebut diambil orang tak bertanggung jawab. ‘’Padahal bisa berfungsi sebagai panghalau arus sungai,” tandasnya.
Kondisi tebing bengawan yang tidak ada penghalau arus, membuat tanah di sekitar sungai terus terkikis. Apalagi kawasan Jetak tersebut tepat di tikungan bengawan, yang membuat arus menabrak langsung ke kawasan tebing. Hal tersebut berdampak pada sedikitnya 15 rumah terancam longsor. (dan/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto