BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Fenomena dingin di Bojonegoro ketika malam, cukup bikin masyarakat merasa kedinginan.
Ketika malam cukup dingin dengan suhu sekitar 21 derajat Celsius. Tentu, masyarakat Bojonegoro melawan dingin dengan memakai jaket.
Cuaca ekstrem di pergantian musim menuntut warga menjaga Kesehatan. Saat malam cukup dingin dengan suhu sekitar 21 derajat Celsius, Ketika siang mencapai 36 derajat Celsius.
Fenomena ini dinilai wajar terjadi di musim kemarau seperti saat ini. Terlebih, bulan ini merupakan puncak dari musim kemarau.
‘’Semakin mendekati puncak musim kemarau, suhu juga akan semakin rendah. Sehingga, akan terasa lebih dingin,’’ ujar Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Ardhian Orianto.
Fenomena suhu dingin saat malam hari ini belum bisa diprediksi entah akan terjadi sampai kapan. Namun, berdasar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau akan terjadi Agustus hingga September.
‘’Kondisi saat ini termasuk jenis kemarau kering. Semakin kering, juga akan semakin dingin,’’ jelasnya.
Ardhian mengatakan, fenomena suhu dingin saat ini bisa berdampak pada pernapasan. Sehingga, tidak disarankan untuk masyarakat pergi mendaki di musim seperti saat ini. ‘’Cuaca akan lebih dingin, apalagi di daerah-daerah pegunungan,’’ katanya.
Eko salah satu masyarakat Desa Sumberarum, Kecamatan Dander mengatakan, beberapa hari terakhir memang terasa lebih dingin saat malam hari. Biasanya kalau pulang kerja malam tidak memakai jaket.
Tapi, akhir-akhir ini selalu kedinginan kalau berkendara malam, terlebih tanpa menggunakan jaket. ‘’Dinginnya terasa sampai tulang,’’ ujarnya.
Dia melanjutkan, saat tidur juga pasti kedinginan kalau tidak memakai selimut. Padahal biasanya jarang selimutan dan masih menggunakan kipas angin. Tapi, sekarang tidak kuat kalau menyalakan kipas di malam hari.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, puluhan pengunjung duduk di bangku taman sekitar pukul 13.00 kemarin.
Risma, salah satu pengunjung mengatakan, dirinya sering menyempatkan waktu beristirahat di bangku taman alun-alun, karena tempatnya yang sejuk dan teduh. Menurutnya, alun-alun masih sering ramai khususnya di jam-jam istirahat dan pulang kerja. ‘’Sebenarnya enak dan anginnya segar, namun kurang terawat,” ungkapnya. (ewi/dan/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto