Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Badut di Traffic Light di Lamongan Makin Menjamur, Begini Kritik Pegiat Seni

Khorij Zaenal Asrori • Senin, 10 Juli 2023 | 20:32 WIB
PERLU PEMBINAAN: Pengemis berpakaian badut saat meminta-minta di traffic light di pusat Lamongan kota. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
PERLU PEMBINAAN: Pengemis berpakaian badut saat meminta-minta di traffic light di pusat Lamongan kota. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

LAMONGAN, Radar Lamongan - Pengemis berpakaian badut menjadi fenomena baru. Jumlahnya makin menjamur, yang meminta-minta di traffic light. Ini tentu memberikan stigma buruk bagi badut, yang dikenal sebagai penghibur pada acara ultah anak-anak. Fenomena ini menjadi perhatian dan sorotan dari berbagai pihak.

Pantauan Jawa Pos Radar Lamongan, Badut ini terlihat di beberapa lampu merah. Salah satunya traffic light Jalan Basuki Rahmad di sebelah gedung DPRD Lamongan. Para badut jalanan ini mendekati pengendara dengan membawa tempat kecil saat lampu merah.

Rodli TL, salah satu pegiat seni di Lamongan mengatakan, ada beberapa pelaku kesenian yang sebenarnya tidak salah, yakni melakukan proses kesenian di tempat umum atau sebagainya. Sebab, ruang sesungguhnya yang disediakan pemerintah belum ada. Meski begitu, diakuinya, seniman tetap harus mempertimbangkan nilai estetika.

''Jangan dijadikan alat untuk mencari uang atau mengemis, harus mempertimbangkan bagaimana tampilan kesenian seperti badut, menjadi tontonan yang indah, bukan peristiwa yang mengganggu aktivitas publik,'' tutur Rodli.

Menurut dia, masyarakat seni membutuhkan ruang publik untuk berekspresi. Hal itu menjadi tanggung jawab semua pihak. Termasuk badut itu menjadi bagian dari kesenian.

Tentunya pemerintah dan juga masyarakat, ruang publik kesenian perlu dimunculkan, kemudian menjadi ruang mereka (seniman, Red) untuk berekspresi dan hidup, ucap pegiat seni asal Kecamatan Kalitengah tersebut.

Senada, Anggota Komisi D DPRD Lamongan, Imam Fadlli meminta agar badut harus dikembalikan fungsinya untuk menghibur anak-anak. Misalnya di alun-alun, bisa diajak berfoto atau bernyanyi bersama anak-anak. Selain itu, dia sepakat perlu adanya tempat khusus bagi para badut, sehingga tidak meminta-minta di lampu merah.

Kalau memang yang di lampu merah, dirasa perlu penegakan, harus disadarkan secara persuasif, mereka dikasih saluran, jangan dilarang saja, harus diberi tempat berekspresi, ucap Imam.

Politisi F-Gerindra ini mengatakan, badut yang di perempatan lampu merah sempat hilang. Namun saat ini muncul lagi. Sehingga dia meminta adanya pendekatan persuasif.

Selaku pengemban perda, Satpol PP perlu koordinasi, dengan melakukan pendekatan manusiawi, kalau itu ditertibkan ya dengan baik, imbuhnya.

Imam mengamati, fenomena badut ini merata di lampu merah pusat Lamongan kota. Aktivitas tersebut dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan dan badut tersebut. Rerata para pengemis badut masih muda dan perlu pembinaan.

Jadi bagaimana caranya diberikan skill,  diasah kemampuan, karena terlihat masih muda-muda, harapnya.

Kabid Trantibun Satpol PP Lamongan Sutrisno menuturkan, pihaknya sudah sering melakukan penertiban. Selain itu, sudah dilakukan beberapa upaya, agar badut tidak kembali lagi ke jalan. Salah satunya dengan menyita pakaian, serta juga dilakukan pembinaan.

Jadi kebanyakan masih muda, jadi dilakukan pembinaan, pungkasnya. (sip/ind)

Editor : M. Yusuf Purwanto
#uang #traffic light #Badut #mengemis #lamongan