BLORA, Radar Bojonegoro - Pembangunan Pasar Cepu mulai proses penimbunan material urukan. Proses itu dianggarkan sebesar Rp 75 juta. Sisa bangunan pasar dibongkar dikembalikan ke aset daerah. Sedangkan pedagang direlokasi di dekat pasar. Mereka menempati bangunan yang lama kosong.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Pembanguan Pasar Induk Cepu Sugistri Jayanto menjelaskan, pembangunan fisik Pasar Induk Cepu belum dimulai. Sebab, usai dibongkar beberapa minggu lalu, saat ini masih proses pengurukan lahan.
‘’Masih pengurukan. Untuk bangunan fisiknya masih menunggu proses lelang selesai di LPSE," ungkapnya Senin (3/7).
Sugiatri menjelaskan, pemkab menyediakan anggaran sebesar Rp 100 juta. Anggaran itu dibagi untuk proses pembongkaran sebesar Rp 25 juta dan pengurukan Rp 75 juta. Bangunan fisik pasar induk dari kementerian sebesar Rp 3 miliar.
‘’Anggaran dari kementerian untuk bangunan fisiknya, tidak bisa untuk pengurukan. Jadi diambilkan anggaran daerah,’’ terangnya.
Usai pembongkaran pasar, sisa-sisa bangunan lama seperti kayu, besi, dan benda-benda lainnya dikembalikan kepada badan pendapatan, pengelolaan keuangan, dan aset daerah (BPPKAD). Juga ada yang diberikan kepada pondok pesantren untuk dimanfaatkan.
‘’Kemarin dari ponpes mengajukan proposal. Sisa pembongkaran satu lokal untuk diberikan kepada ponpes," terangnya.
Sekretaris Paguyuban Pedagang Pasar Induk Cepu Repto mengatakan, setelah pembongkaran pedagang tidak memanfaatkan sisa bangunan karena merupakan aset daerah. Saat ini para pedagang direlokasi di sebelah pasar. Beberapa menempati bangunan lama yang tidak terpakai.
‘’Sudah satu bulanan pindah. Untuk pemasukan masih stabil seperti biasa. Hanya memang pelanggan butuh penyesuaian saja,’’ ungkapnya. (luk/zim)
Editor : M. Yusuf Purwanto