MENGACU Buku Maribong karya Muhammad Andrea, pembagian kerajaan Mataram melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 turut membawa perubahan terhadap kedudukan administrasi Jipang, yang kini disebut Bojonegoro. Wilayah yang sebelumnya menjadi bagian dari struktur pemerintahan Mataram ini kemudian berada di bawah kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Dalam tata pemerintahan yang baru, Jipang dipimpin oleh seorang tumenggung sebagai pejabat yang menjalankan otoritas kesultanan di tingkat daerah.
Kedudukan tersebut bertahan hingga terjadinya perubahan politik yang lebih luas di Jawa pada penghujung masa VOC, ketika pengaruh pemerintah kolonial semakin besar dalam urusan kerajaan-kerajaan Jawa. "Situasi politik di Jawa mulai mengalami perubahan besar setelah VOC dibubarkan pada 1799 dan seluruh wilayah kekuasaannya diambil alih oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Pergantian tersebut tidak serta-merta memperbaiki keadaan," lanjut Andre.
Justru, kata dia, ketika Herman Willem Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal pada 1808, pemerintah kolonial sedang menghadapi krisis yang serius. Blokade laut yang dilakukan Inggris menyebabkan pemasukan pemerintah menurun drastis, sementara ancaman serangan Inggris ke Jawa semakin nyata. Dalam kondisi seperti itu, Daendels berupaya memperkuat pertahanan pulau Jawa melalui berbagai proyek militer dan pembangunan infrastruktur dalam skala besar.
Baca Juga: Menuju HJB ke-349: Awal Terbentuknya Bojonegoro
Kebutuhan untuk membangun benteng, gudang militer, galangan kapal, jalan pertahanan, jembatan, dan berbagai infrastruktur lainnya membuat pemerintah kolonial memerlukan pasokan kayu jati dalam jumlah besar. Daendels berupaya menempatkan pengelolaan dan perdagangan kayu jati di bawah kendali pemerintah kolonial.
Kebijakan ini menyasar kawasan Mancanegara Wetan Kesultanan Yogyakarta serta sebagian wilayah Kasunanan Surakarta. Wilayah Panolan, Padangan, Jipang, dan Blora menjadi target utama karena memiliki hutan jati berkualitas tinggi dan terbaik di Jawa, sekaligus memanfaatkan jalur transportasi Bengawan Solo untuk proses pengangkutan kayu menuju pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara.
"Bagi Daendels, keberhasilan memperoleh wilayah-wilayah Mancanegara Timur tersebut merupakan pencapaian strategis yang sangat penting karena memberinya kendali atas kawasan hutan jati, jalur Bengawan Solo, serta daerah-daerah yang dianggap vital bagi pertahanan kolonial. Namun keberhasilan itu tidak berlangsung lama," kata Andre. (*)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah