Seniman Reog Ponorogo Restui Barongan Blora ke UNESCO

Rahul Oscarra Duta • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:40 WIB
RESTU: Seniman Reog Ponorogo beri dukungan Barongan Blora masuk masuk daftar warisan budaya takbenda UNESCO. (IST/RADAR BOJONEGORO)
RESTU: Seniman Reog Ponorogo beri dukungan Barongan Blora masuk masuk daftar warisan budaya takbenda UNESCO. (IST/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Barongan Blora selangkah lebih dekat menuju panggung budaya dunia. Bukan dengan meninggalkan akar tradisinya, melainkan dengan merangkul saudara serumpun yang lebih dulu mendapat pengakuan UNESCO, Reog Ponorogo. Para seniman yang dipimpin Marji menyatakan persetujuan agar Barongan Blora diusulkan melalui skema USL Extension atau perluasan pengakuan Reog Ponorogo di UNESCO.

Pernyataan tersebut bukan sekadar basa-basi antarseniman. Dukungan disampaikan secara lisan dan tertulis, sebagai bentuk penerimaan terhadap upaya pelestarian kesenian yang memiliki akar budaya serumpun.

“Rahayu… Rahayu… Rahayu… Reog Ponorogo! Kami komunitas Reog Ponorogo setuju dan mendukung Barongan Blora menjadi USL Extension Reog Ponorogo di UNESCO. Sebagai kesenian yang serumpun, kami siap mendukung agar Barongan Blora juga mendapatkan pengakuan dunia seperti halnya Reog yang telah lebih dulu terdaftar,” ujar Marji bersama komunitas seniman Reog Ponorogo.

Bagi kedua daerah, kesamaan akar budaya bukan alasan untuk menyeragamkan kesenian. Justru dari akar yang sama, setiap daerah tumbuh dengan karakter, tokoh, dan ekspresi seni yang khas.

Baca Juga: Optimistis Menuju Pengakuan Dunia, Bojonegoro Jalani Validasi UNESCO Global Geopark

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengatakan, Reog Ponorogo dan Barongan Blora sama-sama memiliki keterkaitan dengan cerita Panji. Namun, perkembangannya membentuk identitas seni yang berbeda di setiap daerah. Selain Blora dan Ponorogo, tradisi barongan juga berkembang di sejumlah daerah, seperti Blitar, Kediri, Kudus, dan Demak.

“Lewat FGD ini kami sangat senang dan mendukung ketika teman-teman seniman Blora, pemerintah daerah, penggiat, dan seluruh elemen ingin mengusulkan Barongan Blora bisa diinskripsi ke UNESCO. Sama seperti Reog Ponorogo, ini bisa masuk melalui skema extension atau perluasan,” jelasnya.

Judha berharap pengusulan tersebut tidak hanya menambah pengakuan budaya Indonesia di mata dunia, tetapi juga memperkuat keberlanjutan kesenian tradisional di daerah.

“Semoga dengan masuknya pengusulan Barongan Blora ke USL Extension Reog Ponorogo di UNESCO, semakin memperkaya khazanah budaya Indonesia. Ponorogo dan Blora bersaudara dalam berkesenian dan berkebudayaan,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Bapperida Blora Heru Eko Wiyono mengatakan, pertemuan tersebut menjadi bagian penting untuk membangun kesepahaman antara dua daerah. Pemkab Blora ingin memastikan langkah menuju UNESCO dilakukan dengan menghormati Reog Ponorogo sebagai kesenian yang lebih dahulu memperoleh pengakuan. Menurut Heru, kesepakatan para seniman itu akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Bupati Blora dan Plt Bupati Ponorogo pada Jumat (16/10).

“Setelah hari ini kami bersilaturahmi dan menggelar FGD di Ponorogo, insyaallah besok sore kesepakatan antara seniman Blora dan Ponorogo diperkuat dengan penandatanganan MoU. Ini sebagai payung hukum bahwa Ponorogo siap mendukung pengusulan Barongan Blora masuk UNESCO, satu rumah dengan Reog Ponorogo,” ujarnya. (hul/bgs)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
USL Extension Budaya Barongan Blora reog ponorogo unesco