Oleh: Yana Dwi Kurniya W
Wartawan Radar Bojonegoro
JIPANG yang saat ini dikenal dengan Bojonegoro sedari lama merupakan negeri yang subur. Terletak di wilayah geografis menguntungkan dan strategis berada di kawasan aliran Sungai Bengawan Solo membuat membuat jalur ini sebagai penghubung utama antara daerah pedalaman dan pesisir utara Jawa.
Muhammad Andrea dalam bukunya yang berjudul Maribong menyebut, melalui jalur sungai ini, berbagai komoditas, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, dan hutan hingga barang-barang perdagangan dari berbagai daerah dapat diangkut dengan lebih mudah dan efisien dibandingkan melalui jalur darat.
Baca Juga: Arsip 1935 Bongkar Sisi Gelap Tuban Sebagai 'Surga' Candu Opium yang Berubah Jadi Kota Mati!
"Selain mendukung aktivitas ekonomi, Bengawan Solo juga mempermudah mobilitas penduduk, pergerakan pasukan, serta distribusi logistik kerajaan," kata Andre, sapaannya.
Bahkan, lanjut Andre, pendapatan masyarakat Jipang tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Keberadaan Bengawan Solo menyediakan sumber daya perairan yang menjadi penopang kehidupan sebagian penduduknya.
Menjadi jalur penghubung antara pedalaman dan pesisir utara, dalam ekspedisi VOC di bawah pimpinan Laksamana Antonio Hurdt yang bergerak dari Jepara menuju Kediri pada 1678 untuk membantu Amangkurat II menghadapi pemberontakan Trunajaya, Belanda untuk pertama kalinya memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai wilayah-wilayah pedalaman Jawa.
Baca Juga: Amuk Massa Sarekat Islam di Tuban Pada 1913 dan Residen Belanda Remehkan Surat Ancaman Kematian
Saat itu, Jipang juga diidentifikasikan sebagai Matahun dengan pejabat yang memerintah daerah ini masih menggunakan gelar resmi Tumenggung Matahun. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan tradisi politik dan pemerintahan yang telah berlangsung sejak masa sebelumnya.
Karena itu, Jipang dapat dipahami sebagai satuan politik yang memiliki akar historis yang kuat serta tetap memertahankan kedudukan pentingnya dalam struktur kerajaan-kerajaan Jawa hingga masa Mataram.
Andre dalam bukunya menyebut, terjadi sejumlah perang pada 1677. Pada masa perang banyak daerah mengalami pergolakan, Jipang tetap tercatat sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Mataram.
Dalam instruksi Amangkurat II kepada para bupati mengenai pengaturan perdagangan beras dan padi yang disusun pada 1677, Jipang disebut bersama Pajang, Madiun, Panaraga, Kadiri, Jepang, Wirasaba, Malang, Blitar, Banyumas, dan Galuh.
"Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa kerajaan masih memandang Jipang sebagai salah satu wilayah penting dalam cakupan politik dan ekonomi Mataram," tutur pria kelahiran Kecamatan Sugihwaras itu. (*)
Editor : Hakam Alghivari