Bukti Jejak Peradaban Neolitikum di Bojonegoro, Penemuan Empat Beliung di Bantaran Bengawan Solo

Dewi Safitri • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:20 WIB
JEJAK PERADABAN: Tim pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Provinsi Jawa Timur wilayah kerja Bakorwil II Bojonegoro meneliti penemuan empat beliung persegi atau kapak persegi. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
JEJAK PERADABAN: Tim pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Provinsi Jawa Timur wilayah kerja Bakorwil II Bojonegoro meneliti penemuan empat beliung persegi atau kapak persegi. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

Penemuan empat beliung persegi menjadi saksi kebudayaan masa Neolitikum di Bojonegoro. Dari bantaran sungai Bengawan Solo, kepingan sejarah itu kini diserahkan ke Museum Rajekwesi untuk dirawat, dijaga, dan dilestarikan sebagai sumber pengetahuan masyarakat.


DEWI SAFITRI, Bojonegoro


JEJAK masa lalu tersimpan di antara tanah dan endapan. Tidak sekadar mengalirkan air. Di tepian sungai Bengawan Solo, masa lalu seolah meninggalkan pesan.

Empat beliung persegi ditemukan, membuka kembali kisah kehidupan manusia dan kebudayaan yang pernah tumbuh pada masa silam.

Setelah penemuan fragmen fosil rahang bawah di Kelurahan Jetak, Bojonegoro. Jejak kehidupan purba kembali mengemuka. Kini, empat beliung persegi yang ditemukan di bantaran sungai menyimpan kisah panjang perjalanan manusia.

Baca Juga: Deprian Agus Salim, Penemu Fosil Manusia Purba di Bengawan Solo: Fragmen Fosil Rahang Bawah Ditemukan di Kelurahan Jetak Bojonegoro

Empat benda itu ditemukan Sutrisno pada September 2026. Tepatnya di bantaran atau teras sungai Bengawan Solo. Diperkirakan berasal dari masa Neolitikum atau zaman batu baru, peninggalan tersebut memiliki usia sekitar 10 ribu tahun.

Benda-benda itu menjadi kepingan sejarah yang memperkaya pemahaman tentang persebaran manusia dan kebudayaannya di wilayah Bojonegoro.

Tim pendata Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) Provinsi Jawa Timur wilayah kerja Bakorwil II Bojonegoro, Achmad Satria Utama, menjelaskan, keempat temuan tersebut merupakan beliung persegi atau kapak persegi. Meski memiliki jenis yang sama, masing-masing mempunyai karakteristik bahan dan pengerjaan berbeda.

Satu beliung berwarna hitam berbahan batu andesit telah mengalami pengupaman secara sempurna. Benda kedua, yang berada di sebelah kiri beliung hitam pada dokumentasi temuan, terbuat dari fosil kayu.

Beliung ketiga berwarna cokelat, berukuran lebih kecil, dan berbahan gampingan kalkarenit. Sementara itu, benda keempat berwarna hitam, berbahan andesit, dengan proses pengupaman yang belum sempurna.

"Keempat benda temuan ini merupakan peninggalan masa Neolithikum, yaitu zaman batu baru. Usia kurang lebih 10 ribu tahun lalu," terangnya.

Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan jejak peradaban manusia ribuan tahun silam. Benda-benda itu bukan sekadar peninggalan batu, melainkan bukti kebudayaan yang pernah tumbuh dan berkembang di wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro.

Menurut Satria, temuan beliung persegi tersebut berkaitan dengan persebaran manusia di Pulau Jawa, khususnya di wilayah Bojonegoro.

 Temuan ini terkorelasi dengan temuan rahang bawang Hominin yang sebelumnya ditemukan oleh Deprian Agus Salim pada Sabtu (20/6) lalu di bantaran Sungai Bengawan Solo di wilayah Kelurahan Jetak.

Baca Juga: Penemu Fosil di Blora Enggan Menyerahkan ke Pemerintah karena Belum Ada Anggaran Tali Asih

Penemuan rahang bawah manusia purba tersebut dinilai yang lebih tua dari manusia pembawa kebudayaan Neolithikum, yakni hubungannya dengan penemuan 4 temuan beliung persegi.

Temuan ini sekaligus membuktikan, bahwa sebaran manusia purba juga menjangkau wilayah Bojonegoro, wilayahnya memang terlintasi aliran Bengawan Solo.

"Temuan-temuan manusia pendukung dan kebudayaannya juga banyak ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Satu di antaranya di Ngandong, Blora," jelasnya.

Kini, keempat beliung persegi itu telah diserahkan kepada pengelola Museum Rajekwesi Bojonegoro pada Minggu (27/9) lalu. Agar benda-benda tersebut dapat dijaga, dirawat, dan dilestarikan.

"Keempat temuan telah saya serahkan untuk dijaga, dilestarikan, dan dirawat di Museum Rajekwesi Bojonegoro pada 27 September 2026. Langsung ke pengelola museum, Mas Daffa," pungkasnya. (*/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
beliung persegi masa Neolitikum Museum Rajekwesi Bojonegoro penemuan bojonegoro