Bojonegoro Wilayah Strategis Dalam Perang Trunajaya

M. Irvan Romadhon • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 08:01 WIB
Ilustrasi Perang Trunojoyo
Ilustrasi Perang Trunojoyo

Oleh: M. IRVAN RAMADHON


Perang Trunajaya pada dekade 1670-an merupakan titik balik penting dalam sejarah Jipang atau kini Bojonegoro. Jipang banyak muncul dalam laporan-laporan VOC yang berkaitan dengan operasi militer di pedalaman Jawa. Bahkan disebutkan memiliki detasemen.

Berdasar buku Maribong yang ditulis Muhammad Andrea, pada 1678 ketika Susuhunan Amangkurat II, dengan dukungan VOC, melancarkan ekspedisi militer untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Trunajaya. Operasi yang dipimpin oleh Laksamana Antonio Hurdt tersebut bergerak dari Japara menuju Kadiri.

Pada tahap awal, ekspedisi tersebut terdiri atas sekitar seribu prajurit bersenjata dan tiga ribu tenaga pengangkut logistik, kemudian berkembang menjadi kekuatan yang diperkirakan mencapai tiga belas ribu orang, meskipun hanya sebagian yang dipersenjatai secara penuh.

Andrea dalam bukunya menjelaskan Rute utama yang ditempuh pasukan Hurdt melewati Jepara,Kudus, kemudian mengikuti jalur Sungai Serang melintasi Pegunungan Kendeng sebelum menyeberangi Bengawan Solo menuju kawasan Gunung Lawu dan selanjutnya bergerak ke Nganjuk hingga mencapai Kadiri.

Baca Juga: Bojonegoro Berawal dari Jipang

‘’Dalam perjalanan menuju Kediri, pasukan utama Hurdt di Nganjuk bergabung dengan detasemen lain yang datang dari Jipang setelah memutari Pegunungan Kendeng melalui jalur timur,” ungkapanya.

Kehadiran detasemen dari Jipang dalam ekspedisi tersebut merupakan petunjuk penting bahwa pada tahap itu wilayah Jipang berada di pihak Amangkurat II dan VOC dalam menghadapi pemberontakan Trunajaya.

Arti strategis Jipang dalam Perang Trunajaya semakin tampak dalam laporan mengenai pendudukan wilayah Japan dan Wirasaba oleh pasukan gabungan Mataram-VOC. Sumber-sumber menyebutkan bahwa penguasaan atas kedua wilayah itu sekaligus memutus jalur menuju kawasan dataran tinggi, termasuk akses ke Kediri dan Jipang.

Sehingga menunjukkan bahwa Jipang merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan mobilitas militer yang menghubungkan pedalaman Jawa Timur dengan wilayah-wilayah di sekitarnya. Dalam konteks operasi militer, penguasaan atas Kediri dan Jipang menjadi faktor penting untuk mengendalikan kawasan timur Mataram.

‘’Bagi Jipang, Perang Trunajaya menandai perubahan penting dalam perjalanan sejarahnya. Jika sebelumnya wilayah ini lebih banyak dikenal sebagai bagian dari sistem apanase para pejabat tinggi Mataram, maka sejak perang tersebut Jipang mulai tampil sebagai kawasan yang memiliki arti strategis dalam operasi militer maupun pengelolaan administrasi kerajaan. Perubahan kedudukan ini menjadi landasan bagi reorganisasi pemerintahan yang dilakukan Mataram setelah berakhirnya Perang Trunajaya, ketika Jipang memperoleh posisi yang semakin jelas dalam struktur pemerintahan di pesisir utara dan pedalaman Jawa Timur,” terangnya. (irv/bgs)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Perang Trunajaya sejarah Jipang VOC bojonegoro Jipang