RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kabupaten Bojonegoro memiliki sejumlah situs yang menyimpan cerita masa lalu. Salah satunya adalah Petilasan Prabu Angling Dharma di Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai bekas Kerajaan Malawapati.
Nama Angling Dharma cukup dikenal dalam cerita rakyat Jawa. Sosoknya digambarkan sebagai seorang raja yang bijaksana dan memiliki kesaktian. Kisah tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari cerita sejarah lokal Bojonegoro.
Namun, di balik legenda yang berkembang, situs ini juga menyimpan jejak arkeologi yang menarik untuk ditelusuri. Berikut tujuh fakta menarik tentang Petilasan Angling Dharma dan legenda Raja Malawapati.
1. Dipercaya sebagai Bekas Kerajaan Malawapati
Petilasan Angling Dharma di Wotanngare diyakini masyarakat setempat sebagai lokasi bekas Kerajaan Malawapati atau Malawopati, tempat Prabu Angling Dharma memerintah.
Baca Juga: Kisah Perlawanan Sosrodilogo yang Mengubah Sejarah Bojonegoro
Kepercayaan tersebut menjadi bagian penting dari tradisi lokal Bojonegoro. Penelitian arkeologi juga pernah dilakukan di kawasan yang dikenal sebagai Situs Mlawatan untuk menelusuri kaitan antara legenda Angling Dharma dan peninggalan masa lalu.
Meski demikian, keberadaan Kerajaan Malawapati dalam cerita rakyat belum dapat disamakan dengan bukti sejarah yang memastikan bahwa kerajaan tersebut benar-benar berdiri di lokasi itu.
2. Memiliki Peninggalan Berupa Tumpukan Batu Bata
Salah satu hal menarik dari petilasan ini adalah keberadaan tumpukan batu bata di bawah sebuah struktur batu yang dikenal sebagai Pakon Watu.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro menyebutkan bahwa susunan batu bata tersebut oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai bagian dari gapura.
Kondisi tanah di sekitarnya juga dinilai menyerupai bekas kawasan permukiman. Keberadaan tinggalan tersebut membuat situs ini menarik, bukan hanya dari sisi legenda, tetapi juga sebagai objek kajian sejarah dan arkeologi.
3. Penelitian Arkeologi Menemukan Jejak Permukiman Masa Majapahit
Fakta lain yang tidak kalah menarik adalah hasil penelitian arkeologi di Situs Wotanngare.
Penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan sejumlah tinggalan yang mengindikasikan bahwa kawasan tersebut pernah digunakan sebagai permukiman. Temuan yang dibahas dalam penelitian Hery Priswanto antara lain pecahan gerabah dan uang kepeng.
Berdasarkan temuan awal tersebut, situs ini diperkirakan berkaitan dengan masa Majapahit.
Temuan itu memberikan gambaran bahwa Wotanngare memiliki nilai arkeologis yang penting. Namun, hasil penelitian tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa situs itu merupakan istana Prabu Angling Dharma.
4. Legenda Angling Dharma Berkaitan dengan Nama-Nama Tempat
Cerita tentang Angling Dharma juga dikaitkan dengan sejumlah nama tempat di sekitar Bojonegoro.
Baca Juga: Bojonegoro Tempat Tinggal Kaum Bangsawan Kerajaan
Penelitian Situs Wotanngare mencatat beberapa toponim yang berhubungan dengan legenda tersebut, di antaranya Desa Budhug, Tanah Tibong, Kedhung Gandhu, Kedhung Pathak Buto, dan Gunung Pegat.
Nama-nama tersebut menjadi petunjuk menarik untuk menelusuri bagaimana cerita Angling Dharma berkembang dan terhubung dengan lingkungan masyarakat setempat.
Meski begitu, kaitan setiap nama tempat dengan tokoh Angling Dharma perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi dan penafsiran lokal, bukan otomatis sebagai bukti keberadaan tokoh tersebut secara historis.
5. Angling Dharma Dikenal sebagai Raja yang Memiliki Kesaktian
Dalam cerita rakyat Jawa, Prabu Angling Dharma digambarkan sebagai raja yang memiliki kemampuan istimewa. Salah satu kisah yang populer menceritakan kemampuannya memahami bahasa binatang.
Kisah tersebut membuat Angling Dharma berbeda dari gambaran raja pada umumnya dalam cerita rakyat. Ceritanya juga memuat berbagai ujian yang berkaitan dengan kebijaksanaan, kesetiaan, dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Seiring waktu, kisah Angling Dharma berkembang dalam tradisi lisan dan sastra. Karena itu, cerita mengenai kesaktiannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari legenda, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi.
6. Ada Cerita tentang Dewi Setyowati dan Burung Mliwis Putih
Salah satu kisah yang dikaitkan dengan petilasan ini adalah cerita mengenai Dewi Setyowati dan Prabu Angling Dharma.
Menurut keterangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, terdapat lokasi yang oleh masyarakat dipercaya sebagai bekas tempat pemandian. Tempat itu dikaitkan dengan kisah pertemuan Dewi Setyowati dan Prabu Angling Dharma yang konon menjelma menjadi burung Mliwis Putih.
Cerita tersebut menambah daya tarik petilasan karena menghubungkan kondisi tempat dengan kisah tokoh-tokoh dalam legenda.
Kendati demikian, cerita mengenai tempat pemandian dan peristiwa tersebut merupakan kisah yang berkembang di masyarakat, bukan hasil pembuktian arkeologis.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Rel Kereta Api Bojonegoro–Tuban, Jalur Penggerak Ekonomi Pantura
7. Menjadi Bagian dari Identitas Budaya Bojonegoro
Petilasan Angling Dharma tidak hanya memiliki daya tarik bagi masyarakat yang tertarik pada cerita kerajaan, tetapi juga menyimpan nilai budaya bagi Bojonegoro.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pernah menyebut petilasan tersebut dalam kegiatan ziarah makam leluhur daerah. Hal ini menunjukkan bahwa situs tersebut turut mendapat tempat dalam kegiatan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap sejarah dan tradisi lokal.
Bagi masyarakat, legenda Angling Dharma menjadi salah satu warisan cerita yang terus dikenang. Sementara itu, penelitian arkeologi membuka kesempatan untuk memahami situs tersebut melalui pendekatan ilmiah. Perpaduan cerita rakyat dan temuan arkeologi membuat Petilasan Angling Dharma menarik untuk terus dipelajari serta dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Menelusuri Legenda dan Fakta Sejarah
Petilasan Angling Dharma di Wotanngare memperlihatkan bagaimana cerita rakyat dapat melekat pada suatu tempat dan menjadi bagian dari identitas daerah.
Legenda Raja Malawapati masih menarik untuk ditelusuri, terutama ketika dibandingkan dengan temuan arkeologi di kawasan tersebut. Namun, penting untuk membedakan kepercayaan masyarakat, cerita turun-temurun, dan fakta yang didukung penelitian.
Dengan pendekatan tersebut, Petilasan Angling Dharma dapat dipahami sebagai situs yang memiliki nilai budaya sekaligus menyimpan potensi penelitian sejarah lebih lanjut. (*)
Sumber:
-
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Obyek Wisata – Petilasan Angling Dharma: https://dinbudpar.bojonegorokab.go.id/menu/detail/6/ObyekWisata
-
Hery Priswanto, Situs Wotanngare-Bojonegoro: Nilai Penting dan Pengembangannya, Berkala Arkeologi, Vol. 33 No. 1, 2013. DOI: https://doi.org/10.30883/jba.v33i1.4
-
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Menyambut HJB Ke-344, Pemkab Bojonegoro Selenggarakan Ziarah ke Makam Leluhur: https://baghumas.bojonegorokab.go.id/berita/baca/137