Lika-Liku Usaha Ledre di Bojonegoro, Anak Muda Mulai Melirik

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:20 WIB
LEDRE : Proses pembuatan Ledre. Jajanan khas Bojonegoro ini memiliki cita ras khas.
LEDRE : Proses pembuatan Ledre. Jajanan khas Bojonegoro ini memiliki cita ras khas.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bojonegoro tak hanya dikenal sebagai Kota Migas. Kabupaten ini juga memiliki julukan khas, yakni Kota Ledre. Sebutan tersebut lekat dengan ledre, jajanan tradisional yang menjadi salah satu oleh-oleh andalan Bojonegoro.

Ledre awalnya dikenal berbahan dasar tepung beras dan gaplek atau singkong kering. Seiring perkembangan zaman, bahan bakunya turut mengalami perubahan. Kini, ledre banyak dibuat menggunakan tepung dan pisang yang menghasilkan cita rasa khas.

Usaha ledre pun terus berkembang. Tak hanya ibu-ibu yang menekuni produksi jajanan tradisional ini, generasi muda juga mulai menunjukkan minat untuk meneruskan usaha keluarga. Regenerasi tersebut menjadi harapan agar ledre tetap lestari sekaligus mampu bertahan di tengah perkembangan zaman.

Rumiati, produsen ledre asal Kecamatan Sukosewu sekaligus pemilik merek Ledre Sultan, mengaku sudah melihat munculnya regenerasi di keluarganya. Anaknya bahkan telah mampu membuat ledre sejak duduk di bangku kelas VI sekolah dasar (SD).

Baca Juga: Ledre Bojonegoro: Gulungan Manis Sejarah dalam Simbol Kebanggaan Kota

”Kalau di keluarga, anak kami sudah bisa dan mau melanjutkan. Dia sudah bisa membuat ledre sejak kelas VI SD, tetapi sekarang masih kuliah di Malang,” katanya.

Menurut Rumiati, salah satu kendala dalam menjalankan usaha ledre adalah permodalan. Persoalan tersebut terutama terasa ketika pesanan sedang ramai, tetapi ada pembeli yang belum memberikan uang muka atau down payment (DP).

Padahal, modal dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan proses produksi. Meski demikian, pemasaran ledre buatannya telah menjangkau sejumlah daerah di luar Bojonegoro.

”Pembeli sekarang datang dari Bojonegoro sendiri, juga Malang, Surabaya, dan Jawa Tengah,” tambahnya.

Sementara itu, Dwi, produsen ledre asal Kecamatan Purwosari, telah menekuni usaha tersebut selama sebelas tahun. Dia belajar membuat ledre dari ibunya. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa proses pembuatan ledre membutuhkan keterampilan, ketelatenan, dan ketenangan. Menurut Dwi, saat pertama kali belajar membuat ledre, tangannya kerap terasa panas. Selain itu, ketenangan juga menjadi kunci agar hasil produksi tetap baik.

”Kalau membuat ledre harus tenang. Kalau tidak tenang, pikirannya nanti memengaruhi hasilnya dan ledre bisa rusak,” ujarnya. (yna/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Kota Ledre kuliner bojonegoro ledre