Kisah Perlawanan Sosrodilogo yang Mengubah Sejarah Bojonegoro

Farhan Reza Ardiansyah • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:31 WIB
Ilustrasi sosrodilogo
Ilustrasi kisah perlawanan sosrodilogo

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sejarah Kabupaten Bojonegoro tidak bisa dilepaskan dari perlawanan Raden Tumenggung Sosrodilogo terhadap pemerintah kolonial Belanda pada masa Perang Diponegoro. Perjuangan yang berlangsung di wilayah Rajekwesi pada 1827–1828 itu menjadi salah satu peristiwa penting yang memengaruhi perjalanan pemerintahan Bojonegoro.

Sosrodilogo dikenal sebagai tokoh yang memimpin perlawanan rakyat di kawasan Jipang dan Rajekwesi. Perjuangannya menjadi bagian dari Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830.

Perlawanan tersebut tidak hanya menjadi catatan perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga berkaitan dengan perubahan kekuasaan dan lahirnya nama Bojonegoro yang dikenal hingga sekarang.

Berawal dari Perang Diponegoro

Perang Diponegoro pecah pada 1825 dan meluas ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Konflik tersebut melibatkan Pangeran Diponegoro beserta para pendukungnya dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda.

Baca Juga: Bojonegoro Tempat Tinggal Kaum Bangsawan Kerajaan

Dalam perkembangannya, perlawanan juga menjalar ke wilayah timur laut Jawa, termasuk kawasan Rajekwesi yang kini berkaitan dengan sejarah Kabupaten Bojonegoro.

Raden Tumenggung Sosrodilogo kemudian muncul sebagai salah satu pemimpin perlawanan di kawasan tersebut. Ia berpihak kepada Pangeran Diponegoro dan menggerakkan pasukan untuk menghadapi kekuasaan kolonial.

Berdasarkan catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro, rakyat Jipang mendukung perjuangan melawan Belanda. Sosrodilogo memimpin perebutan Rajekwesi yang saat itu berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial.

Sosrodilogo Berhasil Merebut Rajekwesi

Perlawanan Sosrodilogo mencapai titik penting pada akhir 1827. Pasukannya berhasil merebut Rajekwesi dan mengguncang kekuasaan pemerintah kolonial di kawasan tersebut.

Keberhasilan merebut Rajekwesi membuat pemerintah kolonial harus mengerahkan kekuatan untuk merebut kembali wilayah itu.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Perang Diponegoro tidak hanya berlangsung di sekitar Yogyakarta, tetapi juga memberikan dampak besar bagi daerah-daerah lain, termasuk wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Bojonegoro.

Belanda Merebut Kembali Rajekwesi

Keberhasilan Sosrodilogo menguasai Rajekwesi tidak berlangsung lama. Pemerintah kolonial Belanda melakukan serangan balasan untuk mengembalikan kekuasaannya.

Menurut catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro, pasukan pemerintah kolonial berhasil merebut kembali Rajekwesi pada 2 Januari 1828. Kota tersebut mengalami kehancuran akibat pertempuran.

Setelah kehilangan kendali atas Rajekwesi, perlawanan Sosrodilogo terus menghadapi tekanan dari pasukan kolonial. Perjuangannya berakhir dalam rangkaian konflik pada 1828.

Baca Juga: Mengapa Dipilih 20 Oktober? Mengurai Dualisme Sejarah Hari Jadi Bojonegoro

Meski mengalami kekalahan secara militer, perlawanan tersebut meninggalkan jejak penting dalam sejarah daerah. Peristiwa itu menjadi bagian dari proses perubahan pemerintahan dan pembentukan identitas Bojonegoro.

Dari Rajekwesi Menjadi Bojonegoro

Salah satu dampak penting dari rangkaian konflik tersebut adalah perubahan pusat pemerintahan dan penggunaan nama Bojonegoro.

Setelah Rajekwesi mengalami kehancuran, pemerintah kolonial mempertimbangkan pembentukan pusat pemerintahan baru. Catatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro menyebutkan bahwa nama Bojonegoro dipilih sebagai pengganti Rajekwesi pada 1828.

Pergantian nama itu menjadi bagian penting dari perjalanan administrasi daerah. Rajekwesi yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan kemudian digantikan oleh Bojonegoro sebagai nama yang terus digunakan hingga kini.

Namun, sejarah Bojonegoro memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada peristiwa perlawanan Sosrodilogo. Perubahan nama pada 1828 perlu dipahami sebagai salah satu babak penting dalam sejarah kabupaten, bukan sebagai satu-satunya awal berdirinya pemerintahan daerah.

Jejak Perlawanan dalam Sejarah Lokal

Kisah Sosrodilogo memperlihatkan bagaimana peristiwa besar seperti Perang Diponegoro turut memengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah yang kini dikenal sebagai Bojonegoro.

Perlawanan tersebut berkaitan dengan perebutan kekuasaan, pertempuran di Rajekwesi, serta perubahan pemerintahan setelah pasukan kolonial kembali menguasai wilayah itu.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga pernah mengangkat kisah Sosrodilogo dalam pementasan seni yang mengisahkan runtuhnya Rajekwesi. Dalam cerita yang ditampilkan, kehancuran pusat pemerintahan lama dikaitkan dengan peninggalan berupa umpak atau bekas tiang yang kemudian dihubungkan dengan asal-usul nama Desa Ngumpakdalem.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dari ingatan sejarah masyarakat setempat. Meski demikian, detail cerita lokal perlu dibedakan dari catatan administratif dan dokumen sejarah agar pembaca dapat memahami mana yang tercatat dalam sumber sejarah dan mana yang berkembang sebagai tradisi lisan.

Baca Juga: Bojonegoro Berawal dari Jipang

Perlawanan Sosrodilogo pada akhirnya menjadi pengingat bahwa sejarah Bojonegoro terbentuk melalui berbagai perubahan politik dan perjuangan masyarakat. Peristiwa di Rajekwesi pada 1827–1828 menjadi salah satu babak yang ikut membentuk perjalanan daerah ini hingga dikenal sebagai Kabupaten Bojonegoro. (*)


Sumber

  1. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro. Bojonegoro dari Masa ke Masa.
    https://dinasperpusarsip.bojonegorokab.go.id/index.php/berita/baca/11

  2. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Angkat Sejarah Bojonegoro di Hari Jadi Provinsi Jatim.
    https://bojonegorokab.go.id/berita/1840/angkat-sejarah-bojonegoro-di-hari-jadi-provinsi-jatim

  3. Universitas Airlangga, Repositori Institusi. Referensi akademik mengenai perlawanan Sosrodilogo dan Perang Jawa.
    https://repository.unair.ac.id/66513/1/FS%20Sej%2056-17%20Zul%20p%20Abstrak.pdf

Editor : Bhagas Dani Purwoko
rajekwesi aden Tumenggung Sosrodilogo kabupaten bojonegoro sejarah bojonegoro