RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Setiap tanggal 20 Oktober, riuk-pikuk peringatan Hari Jadi Kabupaten (HJB) Bojonegoro dirayakan. Pawai budaya, spanduk ucapan, hingga safari ke makam-makam tertentu digelar untuk memperingati hari lahir daerah di tepian Bengawan Solo ini.
Namun, jika kita menyelami lembar-lembar arsip sejarah dan dokumen administrasi abad ke-17 hingga ke-19, sebuah pertanyaan mendasar muncul, Mengapa tanggal 20 Oktober 1677 yang dipilih sebagai hari lahir, padahal nama Bojonegoro sendiri baru resmi lahir 151 tahun kemudian?
Pertanyaan ini bukan untuk meragukan legitimasi HJB, melainkan untuk memahami bagaimana historiografi Bojonegoro dibangun, yakni dengan membedakan antara kelahiran kelembagaan (struktur politik) dan kelahiran nama (entitas administratif).
Pusaran Konflik Mataram dan Perjanjian Jepara 1677
Perlu menarik jauh ratusan tahun. Akar dari peringatan ini berawal pada tanggal 20 Oktober 1677. Tidak berada di pedalaman Bengawan Solo, melainkan terikat erat pada intrik politik dan perang saudara di Keraton Mataram Islam.
Pada tahun 1677, Keraton Mataram di Plered hancur lebur akibat gelombang perlawanan pasukan Trunajaya asal Madura. Sunan Amangkurat I melarikan diri ke arah barat dan mangkat di Tegalarum. Kala itu, putranya, Pangeran Adipati Anom, naik tahta menjadi Amangkurat II dengan kondisi kerajaan yang limbung dan tanpa tentara.
Untuk merebut kembali kekuasaannya dari pasukan Trunajaya, Amangkurat II terpaksa mengambil langkah dramatis, meminta bantuan militer Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sebagai imbalannya, VOC menuntut kompensasi wilayah, hak monopoli perdagangan, serta restrukturisasi kekuasaan di kawasan Mancanegara Wetan (wilayah timur Mataram).
Gejolak proses negosiasi dan konsolidasi kekuasaan itulah, pada 20 Oktober 1677, status wilayah Jipang (wilayah induk yang mencakup daerah Bojonegoro, Padangan, hingga Blora saat ini) ditingkatkan dari kadipaten bawahan menjadi kabupaten administratif resmi Kerajaan Mataram.
Mas Tumapel: Wedana Bupati Pertama di Tepi Bengawan
Berbarengan dengan pengubahan status Jipang tersebut, Raja Amangkurat II mengangkat seorang bangsawan bernama Pangeran Mas Toepamungkas atau yang lebih dikenal sebagai Mas Tumapel sebagai Wedana Bupati Mancanegara Wetan.
Mas Tumapel berkedudukan di Jipang (wilayah Padangan/Kalitidu). Momen pengangkatan Mas Tumapel pada 20 Oktober 1677 inilah yang dicatat oleh tim peneliti sejarah Pemkab Bojonegoro pada tahun 1988 sebagai titik pilar pertama dimulainya sistem pemerintahan kabupaten yang berjalan secara kontinu hingga hari ini.
Secara pokok, tanggal 20 Oktober 1677 adalah Hari Lahirnya Sistem Pemerintahan Kabupaten di wilayah yang kaya akan minyak ini.
Pindah Ibu Kota ke Rajekwesi hingga Lahirnya Nama "Bojonegoro" (1828)
Lantas, di mana letak nama Bojonegoro?
Perjalanan sejarah mencatat, pusat pemerintahan kabupaten ini beberapa kali berpindah tempat. Dari Jipang Padangan, pusat pemerintahan kemudian digeser ke arah selatan ke kawasan Rajekwesi (sekitar Kota Bojonegoro saat ini) pada tahun 1725 oleh Raden Tumenggung Haria Mentahun I atas perintah Kasunanan Surakarta. Selama lebih dari satu abad, daerah ini dikenal dengan nama Kabupaten Rajekwesi.
Nama Bojonegoro sendiri baru benar-benar muncul setelah pecahnya Perang Diponegoro (1825–1830). Di wilayah Rajekwesi, perlawanan gigih menentang Belanda dipimpin oleh Bupati Rajekwesi saat itu, Raden Tumenggung Sosrodilogo, yang merupakan seorang ipar Pangeran Diponegoro.
Setelah perlawanan Sosrodilogo berhasil diredam oleh gabungan pasukan kolonial, Pemerintah Hindia Belanda merestrukturisasi wilayah ini untuk menghapus jejak pemberontakan.
Melalui keputusan (Besluit) Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 14 / Staatsblad No. 68 tertanggal 25 September 1828, nama Kabupaten Rajekwesi resmi diubah menjadi Kabupaten Bodjonegoro. R. Adipati Djojonegoro diangkat sebagai bupati pertama yang menyandang gelar pimpinan Bojonegoro.
Perlu diketahui, kata Bodjonegoro sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuno: Bhoja yang memiliki arti pesta, makanan, atau kesenangan, dan Negara yang berarti negeri. Bagi pemerintah kolonial kala itu, nama ini dipakai sebagai simbol eufemisme, harapan akan sebuah negeri yang damai dan bersenang-senang setelah ditaklukkannya perlawanan sengit rakyat Rajekwesi.
Memilih Akar Pribumi dibanding Keputusan Kolonial
Penetapan 20 Oktober 1677 sebagai Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro, alih-alih memilih tanggal 25 September 1828 saat nama Bojonegoro diresmikan merupakan keputusan historiografi yang sadar.
Pemerintah Daerah dan para sejarawan lokal memilih menyandarkan identitas hari lahir daerah pada legitimasi tata pemerintahan pribumi Mataram (20 Oktober 1677) di bawah kepemimpinan Mas Tumapel, ketimbang mengacu pada dokumen administrative yang diterbitkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda (25 September 1828).
Bahwa peradaban pemerintahan di Bojonegoro telah memgakar kuat di sepanjang aliran Bengawan Solo, melewati pusaran intrik kerajaan, perang saudara, hingga lahir kembali menjadi daerah yang kita kenal hari ini. (k/bgs)
DAFTAR PUSTAKA & RUJUKAN KREDIBEL
1. Dokumen Resmi Pemda & Arsip Kolonial:
-
Tim Penyusun. (1988). Sejarah Kabupaten Bojonegoro. Bojonegoro: Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bojonegoro. (Dokumen acuan penetapan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro).
-
Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 14 / Staatsblad No. 68 (25 September 1828). (Arsip Resmi Pengubahan Nama Regentschap Rajekwesi menjadi Bodjo-Negoro).
2. Naskah Kuno & Babad:
-
Babad Taji & Babad Tanah Jawi — Catatan tradisional perpindahan wilayah Mancanegara Wetan Kerajaan Mataram Islam pasca Perjanjian Jepara 1677.
3. Media Massa & Kanal Sejarah Independen:
-
Kompas.com: Sejarah Kabupaten Bojonegoro, Wilayah di Tepi Bengawan Solo yang Dulu Bernama Jipang (Dipublikasikan 7 Juni 2023).
-
Tempo.co: Sejarah Kabupaten Bojonegoro yang Telah Berdiri Selama Lebih dari 3 Abad (Dipublikasikan 20 Oktober 2024).
-
Detik.com (DetikJatim): Asal-usul Bojonegoro yang Lahir dari Kadipaten Jipang (Dipublikasikan 13 Oktober 2025).
-
DamarInfo: Ketika Dua Tanggal Bertemu: Menelusuri Ulang Hari Lahir Bodjonegoro (Kajian Sejarah Lokal, Juni 2025).
-
SuaraDesa.co: Legenda Angling Dharma hingga Jejak Sejarah Bojonegoro: Dari Rajekwesi Menjadi Bojonegoro (Dipublikasikan 9 Agustus 2026).