TIRAI SUNYI DADA
kemarin api ini masih membara, hingga mampu tembus dinding batas
tetapi yang tersisa kali ini hanya lelah yang menghempas lepas
diriku yang dulu begitu kuat, sudah tak mampu kukenali
terlepas genggamanku, serta ragaku kian terikat kuat
kurindukan nyala yang pernah Engkau titipkan padaku
semangat yang kini hilang di telan oleh sunyi
pada celah remuknya dada, air mataku menetes perlahan
kini aku bersimpuh mohon ampunan atas rasa ketidakberdayaan
kembalikanlah nyala itu ke dalam dada ini
jangan biarkan hamba tenggelam dalam rapuhnya jiwa
hati ini sedang teramat butuh
maka pantiklah bara semangat ini
teras_belakang, 120826
ASESMEN HIDUP
wahai Sang Pencipta
memang kerap goyah langkah ini pada jalan sunyi
sesak dada ini ditimpa badai yang tak kunjung purna
tetapi malam ini, kurebahkan segala keluh dan gengsi diri
keikhlaskan dan menerima tiap butiran soal yang Engkau berikan
dan aku sadar, tak ada takdir-Mu yang sia-sia
serta tak akan ada nestapa yang hadir tanpa makna
untuk itu kuletakkan resahku di atas sejadah pasrah resah
tiap takdir kupeluk walau air mata terkadang tumpah
tetapi wahai sang Pemilik Jiwa yang Maha Mengetahui segalanya
Engkau pahami betapa rapuhnya raga dan jiwa ini
sesuaikanlah beban ini dengan ukur jemari rinci
timbang ujian-Mu seimbang dengan batas kekuatan sandang
janganlah Engkau biarkan beban ini meremukkan tulang yang ringkih
jangan biarkan duka melampaui batas sanggupku menahan pedih
karena aku hanyalah hamba yang mudah patah
dan tanpa uluran genggaman-Mu, aku pasti runtuh dan menyerah lemah
berikan aku ruang untuk tetap bernapas lega
hibahkan aku bahu yang cukup kokoh untuk menyangganya
kuikhlaskan berjalan di lorong ujian-Mu yang lajang
asal Engkau pastikan... aku tak akan karam dan tenggelam dalam suram
Bumi Jaka Tingkir, 140826
MENETES LAGI
mengapa harus jatuh lagi air kornea itu?
perlahan menetes di lengang menjelang petang
bawa luka yang harusnya tak guna
torehkan duka yang tak ingin di tuju
kalau memang tiap bulir jernih yang luruh
dan lahir dari salahku serta membekas utuh
maka izinkan kataku datang memelukmu
bawa tulus maaf dari kedalaman kalbuku
tak pernah sedetikpun rniat merobek bahagiamu
atau menjadi alasan redupnya binar matamu
atas luka yang tak sengaja terukir aku meminta maaf
dan atas kecewa yang terlanjur mengalir deras
biarlah kusapu duka di pipimu itu
semoga senyummu kembali menyapa pada lain waktu
singkirkan egoisme diri ini
sehingga terdapat bahagia abadi
Sugihwaras, 020926
* Guru SMP Negeri 1 Baureno.
Editor : Farhan Reza Ardiansyah