Puisi Radar Bojonegoro: Karya Susanto

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 07:20 WIB
Kumpulan buku (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)
Kumpulan buku (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)

TIRAI SUNYI DADA

kemarin api ini masih membara, hingga mampu tembus dinding batas

tetapi yang tersisa kali ini hanya lelah yang menghempas lepas

diriku yang dulu begitu kuat, sudah tak mampu kukenali

terlepas genggamanku, serta ragaku kian terikat kuat

kurindukan nyala yang pernah Engkau titipkan padaku

semangat yang kini hilang di telan oleh sunyi

pada celah remuknya dada, air mataku menetes perlahan

 

kini aku bersimpuh mohon ampunan atas rasa ketidakberdayaan

kembalikanlah nyala itu ke dalam dada ini

jangan biarkan hamba tenggelam dalam rapuhnya jiwa

hati ini sedang teramat butuh

maka pantiklah bara semangat ini

 

teras_belakang, 120826

 

 

 

 

ASESMEN HIDUP

wahai Sang Pencipta

memang kerap goyah langkah ini pada jalan sunyi

sesak dada ini ditimpa badai yang tak kunjung purna

tetapi malam ini, kurebahkan segala keluh dan gengsi diri

keikhlaskan dan menerima tiap butiran soal yang Engkau berikan

dan aku sadar, tak ada takdir-Mu yang sia-sia

serta tak akan ada nestapa yang hadir tanpa makna

untuk itu kuletakkan resahku di atas sejadah pasrah resah

tiap takdir kupeluk walau air mata terkadang tumpah

 

tetapi wahai sang Pemilik Jiwa yang Maha Mengetahui segalanya

Engkau pahami betapa rapuhnya raga dan jiwa ini

sesuaikanlah beban ini dengan ukur jemari rinci

timbang ujian-Mu seimbang dengan batas kekuatan sandang

janganlah Engkau biarkan beban ini meremukkan tulang yang ringkih

jangan biarkan duka melampaui batas sanggupku menahan pedih

karena aku hanyalah hamba yang mudah patah

dan tanpa uluran genggaman-Mu, aku pasti runtuh dan menyerah lemah

 

berikan aku ruang untuk tetap bernapas lega

hibahkan aku bahu yang cukup kokoh untuk menyangganya

kuikhlaskan berjalan di lorong ujian-Mu yang lajang

asal Engkau pastikan... aku tak akan karam dan tenggelam dalam suram

 

Bumi Jaka Tingkir, 140826

 

 

 

 

MENETES LAGI

mengapa harus jatuh lagi air kornea itu?

perlahan menetes di lengang menjelang petang

bawa luka yang harusnya tak guna

torehkan duka yang tak ingin di tuju

 

kalau memang tiap bulir jernih yang luruh

dan lahir dari salahku serta membekas utuh

maka izinkan kataku datang memelukmu

bawa tulus maaf dari kedalaman kalbuku

 tak pernah sedetikpun rniat merobek bahagiamu

atau menjadi alasan redupnya binar matamu

atas luka yang tak sengaja terukir aku meminta maaf

dan atas kecewa yang terlanjur mengalir deras

biarlah kusapu duka di pipimu itu

semoga senyummu kembali menyapa pada lain waktu

singkirkan egoisme diri ini

sehingga terdapat bahagia abadi

Sugihwaras, 020926

* Guru SMP Negeri 1 Baureno.

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
tirai sunyi puisi jiwa