RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan kekayaan alam dan budaya Jawanya. Di balik sejarah panjang daerah ini, terdapat kisah mengenai Wong Kalang, kelompok masyarakat yang keberadaannya telah lama menjadi bagian dari sejarah Jawa.
Suku Kalang kerap menjadi perhatian karena cerita masyarakat yang menyebut sebagian keturunannya memiliki postur tubuh tinggi, tegap, dan berukuran lebih besar dibandingkan orang Jawa pada umumnya. Namun, anggapan mengenai ciri fisik tersebut perlu dilihat secara hati-hati karena tidak dapat dijadikan patokan mutlak untuk menentukan seseorang sebagai keturunan Kalang.
Kajian antropologi dan sejarah justru menunjukkan bahwa orang Kalang secara fisik sebenarnya sulit dibedakan secara pasti dari masyarakat Jawa lainnya. Penelitian Balai Arkeologi menyebut ciri fisik bukanlah satu-satunya dasar untuk mengenali masyarakat Kalang.
Memiliki Sejarah Panjang di Bojonegoro
Keberadaan orang Kalang memiliki hubungan erat dengan kawasan hutan di Jawa. Dalam sejumlah prasasti Jawa Kuno, istilah kalang sering dikaitkan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan kayu. Pada masa berikutnya, orang Kalang dikenal sebagai kelompok masyarakat yang hidup di sekitar hutan dan bekerja sebagai penebang atau pengolah kayu.
Bojonegoro menjadi salah satu wilayah penting dalam pembahasan sejarah Kalang. Jejaknya antara lain ditemukan di kawasan pegunungan Kendeng bagian utara, terutama di wilayah Malo dan Kedewan.
Salah satu peninggalan yang paling menarik adalah kubur Kalang, yakni makam dengan struktur peti batu. Penelitian arkeologi terhadap situs Kubur Kalang di Bojonegoro dan Tuban menghasilkan pertanggalan sekitar 1420 hingga 1620 Masehi.
Benarkah Orang Kalang Bertubuh Lebih Besar ?
Cerita mengenai orang Kalang yang memiliki tubuh lebih tinggi dan tegap telah lama berkembang di masyarakat. Sejumlah tulisan populer juga menggambarkan mereka sebagai kelompok yang mempunyai fisik kuat.
Namun, hal tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh keturunan Kalang.
Baca Juga: Mengenal Ruwatan Murwakala Bojonegoro, Tradisi Leluhur yang Terus Dilestarikan
Kajian antropologis mengenai Kalang justru menyebut bahwa secara fisik orang Kalang sukar dibedakan dengan orang Jawa. Dengan demikian, tinggi badan, bentuk tubuh, warna kulit, maupun bentuk rambut tidak dapat digunakan sebagai bukti tunggal untuk memastikan seseorang merupakan keturunan Kalang.
Perbedaan postur tubuh yang ditemukan pada sebagian orang yang dianggap sebagai keturunan Kalang bisa saja dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor genetik, lingkungan, pola makan, aktivitas fisik, dan perkawinan antarkelompok selama perjalanan sejarah.
Karena itu, anggapan bahwa seluruh orang Kalang memiliki tubuh lebih besar sebaiknya dipandang sebagai cerita atau karakteristik yang berkembang dalam masyarakat, bukan sebagai ciri biologis yang berlaku untuk semua orang Kalang.
Dikenal Sebagai Masyarakat yang Dekat dengan Hutan
Dalam sejarahnya, orang Kalang memiliki hubungan kuat dengan kawasan hutan. Mereka dikenal memiliki keterampilan yang berkaitan dengan kayu dan kehidupan di lingkungan hutan.
Kondisi geografis Bojonegoro yang sejak masa lalu memiliki kawasan hutan luas turut menjadi salah satu alasan wilayah ini penting dalam sejarah masyarakat Kalang.
Balai Pelestarian Kebudayaan juga mencatat bahwa kekayaan hutan Bojonegoro pada masa lalu memiliki peranan penting dalam perkembangan ekonomi wilayah tersebut. Aktivitas penebangan kayu kemudian menjadi salah satu pekerjaan kelompok masyarakat Kalang.
Jejak Kubur Kalang Masih Bisa Ditemukan
Salah satu bukti penting keberadaan Kalang di Bojonegoro adalah situs-situs makam kuno.
Penelitian menyebut sejumlah situs Kubur Kalang berada di wilayah seperti Kawengan, Gunungmas, dan Kidangan. Kubur tersebut memiliki bentuk berbeda dari makam modern, menggunakan susunan lempengan batu sebagai bagian dari struktur makam.
Temuan tersebut menjadi bagian penting untuk memahami kehidupan masyarakat masa lalu di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya.
Penelitian terbaru mengenai pertanggalan absolut situs Kubur Kalang juga menunjukkan bahwa tradisi penguburan tersebut masih digunakan pada rentang sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-17.
Identitas Kalang Kini Semakin Sulit Ditelusuri
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Kalang semakin berbaur dengan masyarakat Jawa lainnya. Kondisi tersebut membuat garis keturunan dan identitas Kalang di Bojonegoro tidak selalu mudah ditelusuri.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Wiwit Panen Padi di Bojonegoro, Wujud Syukur Masyarakat
Penelitian tentang hubungan Wong Kalang dan masyarakat Samin di Bojonegoro juga menunjukkan adanya berbagai asumsi mengenai hubungan keduanya, tetapi belum terdapat kesimpulan yang dapat memastikan hubungan genealogis tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah Kalang masih menyimpan banyak pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Bukan Sekadar Cerita tentang Tubuh Besar
Kisah mengenai orang Kalang dengan postur tubuh tinggi dan besar memang menarik perhatian. Namun, kekayaan sejarah mereka sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar persoalan fisik.
Jejak Kalang berkaitan dengan sejarah masyarakat Jawa, kehidupan di kawasan hutan, pekerjaan pengolahan kayu, tradisi penguburan, hingga perubahan sosial yang berlangsung selama berabad-abad.
Bojonegoro menjadi salah satu daerah penting untuk mempelajari jejak tersebut. Keberadaan situs Kubur Kalang menjadi pengingat bahwa kawasan ini memiliki lapisan sejarah yang panjang dan masih menyimpan banyak hal yang perlu diteliti.
Dengan demikian, Suku Kalang sebaiknya dikenali bukan hanya karena cerita tentang postur tubuhnya, tetapi juga karena warisan sejarah dan budaya yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Jawa. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko