BELUM MERDEKA
langit Agustus menyapa dengan penuh harap
dan Agustus datang membawa angin yang masih sama
ketuk jendela ruang yang kian sepi
hari berganti tanpa banyak bersuara
tetapi namamu tetap menetap rapat di hati ini
Baca Juga: Puisi: Oleh Suharsono
memang aneh, bagaimana waktu terus berjalan maju
sedang rindu ini justru kian tenggelam padamu
di saat bulan ini riuh dengan segala cerita
hening milikmu yang justru paling bergema
tiada balas dari jarak yang kau bentang
hanya keheningan yang kau titipkan pada tiap malam
untaian kata yang kukirim biarlah mengambang bayang
jadi bisikan yang perlahan meredam
Baca Juga: Puisi: Karya Malik Ibnu Zaman
meskipun tak ada sapa yang kembali padaku
biarlah rasa ini bermalam di ujung waktu
Agustus pasti tahu aku masih serindu itu padamu
meski jawabanmu hanyalah diam yang membisu
dan balasan sapa maya tak terbaca adanya
teras_belakang, 030826
TIADA SAPA
cahaya gawai kembali redup
tiada sapa nama, tanpa sapa yang kupinta
padahal hanya sebaris kata yang kunanti
sekadar penawar agar dada tak sesak seperti ini
pernah aku benar-benar tak bisa lewati hari tanpa kabar darimu
meskipun hanya sebuah chat sederhana
itu merupakan benteng dari riuhnya raguku
tetapi semakin kucoba bertahan dalam hening ini, semakin batin ini tercabik perlahan
menunggu penantian yang tak pasti,laksana memelihara perih dalam sunyi
Baca Juga: PUISI: Oleh Susanto Guru SMP Negeri 1 Baureno.
bukan keinginku menuntut terlalu jauh
hanya saja rindu ini sudah terlanjur lelah
karena dalam hening yang tak kau jeda,
terdapat jiwa yang tersiksa, berjuang sendirian di balik keterbelakangan jiwa
Baureno, 060826
TITIP RINDU MELALUI SAYAP GARUDA
pada pelukan udara pagi buta penuh gigil
dinginnya menusuk hingga ke tulang ringkih ini
dimana melintas Garuda Air perlahan meninggalkan landasan
serta di antara derak mesin dan kabut senyap
terdapat derai air mata yang tak sempat ku usap
kuterbangkan rindu ini bersama kepakan sayap baja raksasa
bawa bongkahan duka dan kehangatan yang tersisa
berhembus tembus dinginnya awan
membelah jarak yang kejam ini
berharap hanya untuk sampai pada pelukmu yang selalu kukenang
wahai angin pagi, jika ingin berbisik di jendelamu nanti
ketahuilah, itu rinduku yang baru saja mengangkasa bersama kotak hitamnya
berharap kau disana menerima bingkisan rindu yang teramat sangat
Juanda Internasional Airport, 090826
BINTANG KECILKU
detik yang mulai berbisik perlahan
pergantian hari berikan usiamu bertambah satu tingkat
senyum itu masih sama, hangatkan gubuk kita
tetapi bahumu kian tegap, tuk menyapa sebaya
selamat hari lahir putraku tersayang
lelaki mungil yang kini kian melompat jauh
pada tiap jejak langkahmu adalah cerita indah untuk kita
yang kami pahat bersama doa di setiap waktu yang tak pernah lelah
menuntun di setiap langkah dan keputusan kehendakmu
untuk jadikanmu pribadi yang kokoh di tengah badai
akan tetapi lembut dan santun di hadapan sesama
kami berharap...
semoga hatimu selalu dipenuhi dengan kebajikan
pikiranmu diterangi oleh kebiasaan dan kejujuran
semoga cita-cita tinggi yang kau gantungkan di langit, dapat kau raih tanpa harus merasa terhimpit
teruslah bertumbuh menjadi lelaki yang tangguh tanpa keluh
jadilah pelindung, penerang, dan tak mudah runtuh
di mana pun kelak kau tegakkan kakimu berdiri
untaian doa kami akan selalu menjadi pelindung yang tak pernah retak
Gubukku, 11 Agustus 2026
* Guru SMP Negeri 1 Baureno. Pegiat seni-sastra-budaya di padhepokan “Sanggar Pakeliran” Sraturejo dan Sanggar Membaca-Menulis Indonesia (SaMMIn) Bojonegoro.
Editor : Farhan Reza Ardiansyah