Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Susanto

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:10 WIB
Ilustrasi kemerdekaan (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi kemerdekaan (PINTEREST/RADAR BOJONEGORO)

BELUM MERDEKA

 

langit Agustus menyapa dengan penuh harap

dan Agustus datang membawa angin yang masih sama

ketuk jendela ruang yang kian sepi

hari berganti tanpa banyak bersuara

tetapi namamu tetap menetap rapat di hati ini

 Baca Juga: Puisi: Oleh Suharsono

memang aneh, bagaimana waktu terus berjalan maju

sedang rindu ini justru kian tenggelam padamu

di saat bulan ini riuh dengan segala cerita

hening milikmu yang justru paling bergema

tiada balas dari jarak yang kau bentang

hanya keheningan yang kau titipkan pada tiap malam

untaian kata yang kukirim biarlah mengambang bayang

jadi bisikan yang perlahan meredam

 Baca Juga: Puisi: Karya Malik Ibnu Zaman

meskipun tak ada sapa yang kembali padaku

biarlah rasa ini bermalam di ujung waktu

Agustus pasti tahu aku masih serindu itu padamu

meski jawabanmu hanyalah diam yang membisu

dan balasan sapa maya tak terbaca adanya

 

teras_belakang, 030826


                 TIADA SAPA

 

cahaya gawai kembali redup

tiada sapa nama, tanpa sapa yang kupinta

padahal hanya sebaris kata yang kunanti

sekadar penawar agar dada tak sesak seperti ini

 

pernah aku benar-benar tak bisa lewati hari tanpa kabar darimu

meskipun hanya sebuah chat sederhana

itu merupakan benteng dari riuhnya raguku

tetapi semakin kucoba bertahan dalam hening ini, semakin batin ini tercabik perlahan

menunggu penantian yang tak pasti,laksana memelihara perih dalam sunyi

 Baca Juga: PUISI: Oleh Susanto Guru SMP Negeri 1 Baureno.

bukan keinginku menuntut terlalu jauh

hanya saja rindu ini sudah terlanjur lelah

karena dalam hening yang tak kau jeda,

terdapat jiwa yang tersiksa, berjuang sendirian di balik keterbelakangan jiwa

 

Baureno, 060826


TITIP RINDU MELALUI SAYAP GARUDA

 

pada pelukan udara pagi buta penuh gigil

dinginnya menusuk hingga ke tulang ringkih ini

dimana melintas Garuda Air perlahan meninggalkan landasan

serta di antara derak mesin dan kabut senyap

terdapat derai air mata yang tak sempat ku usap

 

kuterbangkan rindu ini bersama kepakan sayap baja raksasa

bawa bongkahan duka dan kehangatan yang tersisa

berhembus tembus dinginnya awan

membelah jarak yang kejam ini

berharap hanya untuk sampai pada pelukmu yang selalu kukenang

 

wahai angin pagi, jika ingin berbisik di jendelamu nanti

ketahuilah, itu rinduku yang baru saja mengangkasa bersama kotak hitamnya

berharap kau disana menerima bingkisan rindu yang teramat sangat

 

Juanda Internasional Airport, 090826


 

BINTANG KECILKU

 

detik yang mulai berbisik perlahan

pergantian hari berikan usiamu bertambah satu tingkat

senyum itu masih sama, hangatkan gubuk kita

tetapi bahumu kian tegap, tuk menyapa sebaya

 

selamat hari lahir putraku tersayang

lelaki mungil yang kini kian melompat jauh

pada tiap jejak langkahmu adalah cerita indah untuk kita

yang kami pahat bersama doa di setiap waktu yang tak pernah lelah

menuntun di setiap langkah dan keputusan kehendakmu

untuk jadikanmu pribadi yang kokoh di tengah badai

akan tetapi lembut dan santun di hadapan sesama

 

kami berharap...

semoga hatimu selalu dipenuhi dengan kebajikan

pikiranmu diterangi oleh kebiasaan dan kejujuran

semoga cita-cita tinggi yang kau gantungkan di langit, dapat kau raih tanpa harus merasa terhimpit

teruslah bertumbuh menjadi lelaki yang tangguh tanpa keluh

jadilah pelindung, penerang, dan tak mudah runtuh

di mana pun kelak kau tegakkan kakimu berdiri

untaian doa kami akan selalu menjadi pelindung yang tak pernah retak

 

Gubukku, 11 Agustus 2026

* Guru SMP Negeri 1 Baureno. Pegiat seni-sastra-budaya di padhepokan “Sanggar Pakeliran” Sraturejo dan Sanggar Membaca-Menulis Indonesia (SaMMIn) Bojonegoro.

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
sayap Garuda merdeka jiwa