Mengenal Sandur Bojonegoro, Seni Pertunjukan Tradisional yang Penuh Makna

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 21:45 WIB
Sandur, salah satu warisan kesenian budaya khas Bojonegoro yang harus terus dilestarikan. (ISTIMEWA/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Sandur, salah satu warisan kesenian budaya khas Bojonegoro yang harus terus dilestarikan. (ISTIMEWA/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki beragam kesenian tradisional yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Sandur, seni pertunjukan tradisional yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyimpan nilai budaya, sosial, hingga filosofi kehidupan.

Sandur dikenal sebagai kesenian rakyat yang berkembang di tengah masyarakat pedesaan Bojonegoro. Pertunjukan ini memadukan berbagai unsur seni, seperti teater tradisional, musik, tari, tembang, serta dialog antarpemain.

Dalam pementasannya, Sandur biasanya menghadirkan sejumlah tokoh dengan karakter dan peran masing-masing. Cerita yang dibawakan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat, terutama mengenai hubungan manusia dengan lingkungan, kehidupan sosial, perjuangan, serta berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Asal Usul Tari Thengul, Tarian Khas Bojonegoro yang Sarat Nilai Budaya

Salah satu hal menarik dari Sandur adalah adanya unsur simbolik dalam setiap pertunjukan. Berbagai adegan, tokoh, maupun perlengkapan pementasan dapat memiliki makna tertentu yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia.

Selain sebagai hiburan, Sandur juga menjadi media untuk menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Nilai kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, kerja keras, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam menjadi bagian dari pesan yang dapat ditemukan dalam kesenian tersebut.

Keberadaan Sandur juga menunjukkan bagaimana masyarakat Bojonegoro memiliki cara tersendiri dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal. Pementasan yang melibatkan banyak orang secara tidak langsung memperkuat interaksi dan rasa kebersamaan antarwarga.

Namun, perkembangan zaman menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan Sandur. Generasi muda kini memiliki banyak pilihan hiburan modern sehingga kesenian tradisional berpotensi semakin jarang dikenal dan dipentaskan.

Karena itu, pelestarian Sandur menjadi tanggung jawab bersama. Tidak hanya seniman dan pelaku budaya, tetapi juga masyarakat, sekolah, komunitas, serta pemerintah daerah dapat berperan dalam menjaga keberadaan kesenian tersebut.

Baca Juga: Kumpulan Bahasa Unik di Bojonegoro, Dialek Khas yang Menjadi Identitas Masyarakat

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengenalkan Sandur kepada generasi muda melalui kegiatan di sekolah, festival budaya, pertunjukan seni, hingga pemanfaatan media sosial. Dengan kemasan yang lebih menarik tanpa menghilangkan nilai tradisinya, Sandur diharapkan dapat semakin dekat dengan anak muda.

Sandur bukan sekadar pertunjukan tradisional. Di dalamnya terdapat cerita, simbol, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan terus diperkenalkan dan dilestarikan, Sandur diharapkan tetap menjadi salah satu kekayaan budaya Bojonegoro yang hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Budaya kesenian tradisional sandur bojonegoro