PUISI: Oleh Susanto Guru SMP Negeri 1 Baureno.

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:10 WIB
Ilustrasi buku
Ilustrasi buku

PUISI-PUISI

Oleh: Susanto

 

PELUNAK BATUKU

 

dinding yang dibangun tinggi itulah watakku

egois, perasa, dan bebal berkelakuan

kataku acap kali ketus potong sepi

menolak lembutnya rasa yang coba menghampiri

banyak yang bilang, aku si hati batu

terlalu sulit diketuk, enggan menerima ragu

tetapi kamu datang bawa sabar yang tak berhenti habis

hadapi egoku yang kadang begitu egois

ketika aku mengeras oleh amarah dan luka

tidak membalas dengan hantaman yang sama olehmu

kau hanya duduk, melipat jarak, lalu membuka telinga

jadi dermaga bagi riuh yang tak kunjung reda

 

aku hanya mampu berucap terima kasih telah sudi mendengar

tatkala suara ini parau dan logikaku tersasar

tak pernah menghakimi sudutku yang curam

kau justru menampung segala keluh yang kelam suram

dihadapan setiamu yang mendengarkan

batu di dada ini perlahan menemukan retakan

bukan karena hancur oleh pukulan

tetapi karena luluh oleh ketulusan yang kau berikan padaku

 

Sugihwaras, 200726

 

 

BELAJAR IKHLAS

 

jika memang di sana telah terbit senyum yang kau idamkan

sedangkan jalanku kini tak lagi mau kau lalui

langkah yang kau tuju, tak akan aku halangi

dan aku biarkan jarak melipat semua kenangan lalu

 

jika langkah tanpaku membuatmu bahagia

dan melepas semua membawa kebaikan yang nyata

maka kuserahkan riuh rinduku pada angin sore ini

aku barter kecewa dengan ikhlas yang mendalam

 

kasih tak selalu tentang merengkuh erat ketat

terkadang ia hadir dalam doa yang terpanjat

kini diri ini rela atas segala laku dan keputusanmu

Karena bahagiamu, kini jadi damaiku juga

 

Baureno, 280726

OK BAIK, katamu...!!!

 

ponselku mulai meredup dalam sunyi

beberapa panggilan yang tak pernah kau sentuh

untaian pesan yang mengambang di ruang sepi

jadi saksi gagu bahwa kita telah runtuh

 

bagimu mungkin diam adalah jalan keluar

mungkin rangkaian tersopan untuk mengakhiri rasa

dann merasa lega tanpa harus bertengkar

tutup lembaran tanpa beban di dada

bisa jadi ini memang yang terbaik bagimu

menjauh pergi dan mematikan rindu

 

tetapi sungguh tidak untuk diri ini kawan

tertatih mengejar bayangmu yang lari menjauh

kurasa kau memilih tenang dalam ketidakpedulian

sedangkan aku tenggelam dalam ribuan pertanyaan

jika penutup cerita kita harus berupa keheningan

biarlah kukemas sisa hatiku sendiri, dalam kerelaan nestapa

 

teras_belakang, 290726

 

 

* Guru SMP Negeri 1 Baureno. Pegiat seni-sastra-budaya di padhepokan “Sanggar Pakeliran” Sraturejo dan Sanggar Membaca-Menulis Indonesia (SaMMIn) Bojonegoro.~

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
pelunak batuku SMP Negeri 1 Baureno ikhlas puisi