PUISI-PUISI
Oleh: Susanto
PELUNAK BATUKU
dinding yang dibangun tinggi itulah watakku
egois, perasa, dan bebal berkelakuan
kataku acap kali ketus potong sepi
menolak lembutnya rasa yang coba menghampiri
banyak yang bilang, aku si hati batu
terlalu sulit diketuk, enggan menerima ragu
tetapi kamu datang bawa sabar yang tak berhenti habis
hadapi egoku yang kadang begitu egois
ketika aku mengeras oleh amarah dan luka
tidak membalas dengan hantaman yang sama olehmu
kau hanya duduk, melipat jarak, lalu membuka telinga
jadi dermaga bagi riuh yang tak kunjung reda
aku hanya mampu berucap terima kasih telah sudi mendengar
tatkala suara ini parau dan logikaku tersasar
tak pernah menghakimi sudutku yang curam
kau justru menampung segala keluh yang kelam suram
dihadapan setiamu yang mendengarkan
batu di dada ini perlahan menemukan retakan
bukan karena hancur oleh pukulan
tetapi karena luluh oleh ketulusan yang kau berikan padaku
Sugihwaras, 200726
BELAJAR IKHLAS
jika memang di sana telah terbit senyum yang kau idamkan
sedangkan jalanku kini tak lagi mau kau lalui
langkah yang kau tuju, tak akan aku halangi
dan aku biarkan jarak melipat semua kenangan lalu
jika langkah tanpaku membuatmu bahagia
dan melepas semua membawa kebaikan yang nyata
maka kuserahkan riuh rinduku pada angin sore ini
aku barter kecewa dengan ikhlas yang mendalam
kasih tak selalu tentang merengkuh erat ketat
terkadang ia hadir dalam doa yang terpanjat
kini diri ini rela atas segala laku dan keputusanmu
Karena bahagiamu, kini jadi damaiku juga
Baureno, 280726
OK BAIK, katamu...!!!
ponselku mulai meredup dalam sunyi
beberapa panggilan yang tak pernah kau sentuh
untaian pesan yang mengambang di ruang sepi
jadi saksi gagu bahwa kita telah runtuh
bagimu mungkin diam adalah jalan keluar
mungkin rangkaian tersopan untuk mengakhiri rasa
dann merasa lega tanpa harus bertengkar
tutup lembaran tanpa beban di dada
bisa jadi ini memang yang terbaik bagimu
menjauh pergi dan mematikan rindu
tetapi sungguh tidak untuk diri ini kawan
tertatih mengejar bayangmu yang lari menjauh
kurasa kau memilih tenang dalam ketidakpedulian
sedangkan aku tenggelam dalam ribuan pertanyaan
jika penutup cerita kita harus berupa keheningan
biarlah kukemas sisa hatiku sendiri, dalam kerelaan nestapa
teras_belakang, 290726
* Guru SMP Negeri 1 Baureno. Pegiat seni-sastra-budaya di padhepokan “Sanggar Pakeliran” Sraturejo dan Sanggar Membaca-Menulis Indonesia (SaMMIn) Bojonegoro.~
Editor : Farhan Reza Ardiansyah