Oleh: Suharsono
Fajar menyingsing di ufuk Timur Lamongan, membawa semburat merah yang perlahan mengikis sisa-sisa malam. Di langit yang mulai terang, gema takbir mengalun dari corong masjid kampung, menyusup di antara rimbun daun bambu, tegakan pohon jati yang meranggas, dan kabut pagi yang mengalir tenang di atas tanah basah. Suara itu tidak bergemuruh, melainkan luruh seperti ketukan lembut yang menyapa dada Kohar, sebuah bagian dalam dirinya yang sudah lama beku oleh urusan-urusan dunia. Suasana pagi itu begitu hening, seolah seluruh alam desa sedang menahan napas, bersiap menyaksikan sesuatu yang hendak runtuh di dalam jiwa seorang manusia.
Di bawah lambaian daun gelagah yang masih menyimpan embun, Kohar berdiri diam. Matanya menatap genangan air kecil di tanah, menangkap bayangan dirinya sendiri. Namun, pagi ini Kohar tidak sedang mengagumi setelan kain katun mahalnya yang halus. Matanya justru menembus jauh ke dalam dadanya sendiri, tempat di mana sebuah berhala tak kasat mata telah lama bertakhta. Itulah berhala keangkuhan sebagai priayi baru; rasa pongah yang selalu menuntut penghormatan dari orang-orang kecil, rasa kepemilikan yang berlebihan pada harta, serta gengsi kedudukan yang sering kali menumbalkan ketulusan. Di hadapan gema takbir yang suci, semua keburukan itu terpampang telanjang, tak lagi bisa disembunyikan di balik jubah kemapanan.
Hari raya kurban kali ini mendadak hadir seperti cermin retak di hadapan Kohar. Ingatannya melayang pada masa kecil, saat ia duduk di lantai kayu Langgar Dhuwur mendengarkan kisah guru ngajinya. Kisah tentang Nabi Ibrahim yang mengayunkan pisau ke leher putranya atas nama kepatuhan yang mutlak. Dulu, kisah itu terasa jauh dan asing. Namun di keheningan pagi ini, Kohar tersadar bahwa pisau Ibrahim itu sesungguhnya tidak sedang mencari leher seorang anak suci. Pisau itu sedang mengincar leher kesombongannya sendiri. Kesombongan yang telah menebal dan mengeras oleh pujian orang-orang kampung.
Betapa sering ia mengorbankan perasaan tetangga kiri-kanan, menyisihkan hak orang-orang kecil, hanya demi menjaga agar harga dirinya tetap terlihat tegak dan terhormat. Ia begitu rajin menghitung untung rugi, tetapi hampir tak pernah berani menyembelih ketamakan yang mengalir bersama darah di urat nadinya sendiri. Ritus kurban pagi ini bukan lagi sekadar perkara menyembelih hewan ternak, melainkan sebuah pengadilan batin yang sunyi. Di sana, diri Kohar menjadi hakim yang memeriksa, terdakwa yang gemetar, sekaligus algojo bagi egonya yang selama ini mendongak menantang langit.
Menghancurkan berhala di dalam hati rupanya jauh lebih perih dan berdarah ketimbang merobohkan patung batu di kuil-kuil kuno. Berhala batin ini begitu halus; ia sering kali menyamar dalam bentuk perasaan paling suci, paling benar, dan merasa paling banyak berkorban untuk sesama. Di bawah langit Allah yang mahaluas, Kohar mendadak merasa sangat kerdil. Ia merasa tak lebih dari sebutir debu kering di pelataran masjid, yang sewaktu-waktu bisa diterbangkan angin ke mana pun takdir menghendaki.
Kohar mulai mengerti, esensi kurban yang sejati adalah proses mengikis habis rasa ke-Aku-an. Tujuannya sederhana, namun berat: agar di dalam ruang hatinya yang bersih, tidak ada lagi yang tersisa kecuali Sang Khalik. Tidak boleh ada sekutu berupa ambisi pribadi yang tamak dan lancang. Maka, ketika matahari mulai meninggi dan orang-orang mulai merapatkan barisan shaf di tanah lapang, Kohar melangkah maju. Kakinya terasa lebih ringan, meski dadanya sarat oleh gemuruh sesal yang mendalam. Ia menundukkan kepala, bukan lagi sebagai budak dari harga diri yang minta dimanjakan, melainkan sebagai hamba yang berserah diri seutuhnya.
Ketika matahari tepat berada di atas kepala, udara desa mulai menghangat, membawa aroma tanah kering, kotoran ternak, dan bau doa-doa yang dipanjatkan. Di dekat pohon kamboja, seorang jagal memegang sebilah pisau panjang yang berkilat memantulkan terik surya. Kilatan besi itu menyengat mata Kohar, lalu menusuk masuk ke dalam dadanya, memutar kembali lembar-lembar kelam masa lalunya yang selama ini tersimpan rapat.
Jantung Kohar berdegup kencang seiring suara takbir yang terus bertalu. Sebuah bisikan lembut seolah bertanya di telinganya: “Siapakah pemilik sejati dari apa yang kau genggam erat selama ini, Kohar?”
Seketika, dunia di sekitarnya melenyap. Ia melihat kembali bagaimana jemarinya mencengkeram harta dengan ketakutan seorang pengecut yang takut miskin. Ia teringat wajah-wajah letih para tetangga yang pernah ia singkirkan demi meniti tangga karier. Ia teringat kata-kata tajamnya yang pernah melukai harga diri sesama manusia demi meninggikan menara keangkuhannya sendiri. Pergulatan sengit terjadi di dalam batinnya. Berhala di dadanya menjerit, menolak diturunkan dari takhta. Kohar merasa ditarik oleh dua kekuatan: tarikan bumi yang penuh kesenangan materi, dan panggilan langit yang memintanya pasrah tanpa syarat.
Seekor lembu jantan berbulu merah bata direbahkan. Tali tambang menegang, memutus lamunan panjang Kohar. Lenguhan pelan dari hewan yang pasrah itu terdengar begitu dekat, terdengar seperti rintihan jiwa Kohar sendiri yang sedang sekarat menahan beban dosa. Saat leher hewan itu diusap dan doa diserukan, Kohar merasa seolah leher egonya sendirilah yang sedang ditekan kuat ke atas tanah yang panas.
Kohar menyadari kemunafikan ibadah kurbannya selama ini. Ia selalu mengira sudah berkurban hanya dengan menyetor uang untuk membeli hewan ternak paling mahal, yang tak lain hanya untuk memberi makan egonya agar gemuk oleh pujian orang. Hari ini, kepura-puraan itu dikuliti habis. Alangkah murahnya tebusan materi dibandingkan harga sebuah keikhlasan yang tulus.
Saat pisau jagal menyentuh urat nadi sang lembu, ketegangan di dada Kohar mencapai puncaknya. Darah merah segar memancar, merubuhkan tubuh jantan yang besar itu ke bumi. Bersamaan dengan itu, sesuatu yang keras dan kaku di dalam diri Kohar ikut patah dengan senyap namun menggetarkan batinnya. Berhala keangkuhan priayi dan ketamakan yang ia rawat bertahun-tahun runtuh berkeping-keping, membuat dadanya terasa sesak seolah ia ikut mati bersama hewan kurban tersebut.
Di tengah rasa sesak itu, lafaz Allahu Akbar dari pengeras suara masjid hadir seperti hembusan angin sejuk yang menyapu bersih kegelapan di sudut-sudut hatinya. Pekik mengagungkan Tuhan itu memaksa lutut batinnya menekuk. Kohar luruh dalam sujud yang dalam di atas tikar. Tangisnya pecah. Air matanya mengalir deras membasahi pipi, bukan karena meratapi dunia yang hilang, melainkan air mata kebebasan yang melarutkan karat kesombongan yang telah mengerak di jiwanya.
Dalam keheningan sujud itu, waktu seolah berhenti. Setiap embusan napas Kohar kini terasa lapang, tak lagi memikul beban topeng keduniawian. Di atas lantai yang bersahaja itu, ia merasakan sebuah kehangatan yang tak pernah ia temukan pada jabatan atau pujian manusia; sebuah ketenangan murni yang menyembuhkan luka-luka batinnya. Dinding ego yang dulu dibangunnya tinggi-tinggi kini telah runtuh menjadi debu, menyisakan sebidang hati yang bersih dan damai.
Ketika perlahan ia mengangkat kepala dan menyeka sisa air mata, dunia di sekitarnya terasa berubah. Udara siang itu terasa lebih segar, dan wajah-wajah orang kampung yang ada di pelataran masjid tampak begitu dekat di hatinya. Ambisi buta dan ketakutan akan penilaian manusia telah larut bersama air matanya yang mengering. Ia berdiri dan melangkah, bukan lagi sebagai lelaki pongah yang menuntut dihormati, melainkan sebagai jiwa yang merdeka, yang telah menemukan kembali jalan pulang ke haribaan Tuhan.
Matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga yang teduh di langit Utara Lamongan. Gemuruh di dada Kohar telah surut menjadi ketenangan yang sangat dalam. Ia melangkah keluar dari pekarangan masjid dengan sepasang mata yang menatap dunia baru. Tidak ada lagi jarak antara dirinya dan orang-orang kecil. Yang ada hanyalah rasa cinta dan belas kasih yang tulus kepada sesama musafir kehidupan. Tubuhnya bergerak ringan seirama angin sore yang bertiup, berjalan bukan lagi untuk memburu dunia, melainkan untuk mengabdi pada Sang Pemilik Semesta dalam kepasrahan yang abadi.
Di ujung jalan yang mulai remang, Kohar menghentikan langkahnya tepat di persimpangan. Matanya tertuju pada sebuah bayangan tubuh yang terduduk lemas di bawah lampu jalan yang belum menyala. Sosok yang begitu akrab dalam ingatan kelam masa lalunya, seseorang yang dulu paling bertanggung jawab atas segala luka dan dendam yang hampir menghancurkan hidupnya.
Kohar meraba saku bajunya, merasakan jemarinya menyentuh sebuah benda kecil yang selama ini ia simpan untuk hari pembalasan, sementara dari kejauhan, suara azan Magrib mulai berkumandang membelah kesunyian Lamongan. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap sosok itu yang kini perlahan menoleh ke arahnya dengan wajah pucat penuh ketakutan, lalu Kohar mulai melangkah lagi. “Siapakah pemilik sejati dari apa yang kau genggam erat selama ini, Kohar?”, ucap batinnya lirih.
Bumi Utara, 27.05.26.06.00
Editor : Bhagas Dani Purwoko