RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah riuh pameran seni rupa Malaysia, sebuah pertunjukan justru memilih jalur sunyi. Karya narrative art bertajuk The Sounds of Silence yang digagas Welda Sanavero hadir sebagai pengalaman yang tak sekadar ditonton, tetapi dirasakan. Karya dari perempuan Blora itu dipentaskan di Galeri Petronas.
Karya ini mengawinkan sastra, musik, dan pendekatan terapeutik dalam satu panggung yang intim. "Tidak ada misi khusus. Kami sebagai sastrawan hanya ingin berkarya lebih inovatif untuk mengambil peran dalam perjalanan panjang zaman," ujar Welda Sanavero.
Kolaborasi dengan musisi Vigil Kristologus serta dukungan komunitas Jingga Purnama membuat pertunjukan ini berdiri di antara karya-karya besar seniman Malaysia. Namun, alih-alih tenggelam, pertunjukan ini justru tampil berbeda. Pendekatan yang mengedepankan "keheningan" menjadi daya tarik tersendiri di tengah dominasi visual yang kuat.
"Melalui sastra dan musik, karya terapeutik ini adalah upaya membangun kesadaran kolektif mengenai narrative medicine," lanjut Welda.
Baca Juga: Manganan Janjang Naik Kelas, Tradisi Desa Jadi Warisan Budaya Indonesia
Tak hanya berhenti sebagai karya seni, proyek ini juga menyentuh ranah diplomasi budaya. Dalam rangkaian tur buku, tim The Sounds of Silence mendapat sambutan dari KBRI Kuala Lumpur. Dukungan tersebut mempertegas bahwa karya lintas medium seperti ini memiliki posisi strategis dalam mempererat hubungan antarnegara.
"Peradaban dibentuk oleh bahasa, dan bahasa pula yang membentuk perspektif manusia dalam melihat kehidupan," kata Welda, menegaskan fondasi karyanya.
Di sisi lain, apresiasi dari kurator dan pelaku seni setempat memperlihatkan bahwa pendekatan ini memiliki ruang untuk berkembang lebih luas. Perpaduan sastra dan musik dianggap sebagai bentuk eksplorasi yang masih jarang disentuh secara serius di kawasan Asia Tenggara.
"Kami hanya mencoba menghadirkan bahasa yang tubuh kita kenal—sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata," jelas Welda.
Pemilihan instrumen tradisional sape' menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan ini. Bunyi yang dihasilkan bukan sekadar musikalitas, melainkan medium resonansi antara tubuh, batin, dan lingkungan sekitar.
"Dalam literatur Timur, sape' adalah instrumen yang bersifat kosmik. Ia membuka ruang antara tubuh, batin, dan semesta," ungkapnya.
Melalui The Sounds of Silence, Welda menegaskan bahwa sastra tidak harus berhenti di halaman buku. Ia bisa hidup, bergerak, bahkan menyembuhkan. Sebuah upaya kecil, namun relevan, di tengah dunia yang semakin bising.
"Kami percaya, di tengah kebisingan zaman, manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali mendengar dirinya sendiri," tutup Welda. (hul/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana