RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bojonegoro bukan sekadar kabupaten yang dilintasi sungai terpanjang di Pulau Jawa. Lebih dari itu, wilayah di tepian Bengawan Solo ini menyimpan kisah panjang tentang lahirnya peradaban, perdagangan, budaya, bahkan agama di Jawa bagian timur.
Sejak masa lampau, sungai selalu menjadi urat nadi kehidupan manusia. Bengawan Solo, dengan panjang lebih dari 600 kilometer yang mengalir dari Wonogiri hingga bermuara di Gresik, memainkan peran vital sebagai jalur transportasi utama. Di masa lalu, ketika jalan darat belum berkembang, sungai inilah yang menghubungkan masyarakat antardaerah, termasuk Bojonegoro, dalam roda ekonomi dan kebudayaan.
Sungai Sebagai Jalan Raya Peradaban
Letak Bojonegoro di tengah jalur Bengawan Solo menjadikannya titik penting dalam jaringan perdagangan kuno. Pedagang dari pedalaman Jawa Tengah membawa hasil bumi dan kerajinan menuju pesisir utara melalui sungai ini. Sebaliknya, barang-barang dari pelabuhan Gresik dan Tuban, mulai dari garam, rempah, hingga kain mengalir ke pedalaman lewat perahu kayu yang menyusuri arus Bengawan.
Tak heran, banyak permukiman kuno tumbuh di sepanjang bantaran sungai. Bojonegoro menjadi semacam “pelabuhan sungai” yang menampung aktivitas niaga dan budaya masyarakat sejak berabad-abad lalu.
Jejak Arkeologi dan Peradaban Kuno
Berbagai temuan arkeologis menguatkan bahwa Bojonegoro pernah menjadi bagian dari peradaban besar masa lampau.
Di Kecamatan Kasiman dan Kalitidu, ditemukan batu megalitik dan struktur batu besar yang disebut warga sebagai Watu Gong dan Watu Tumpuk. Artefak itu diyakini berasal dari masa prasejarah, ketika manusia mulai mengenal pemujaan terhadap arwah leluhur.
Sementara itu, di Soko dan Ngorogunung, Temayang, ditemukan arca batu, yoni, dan pecahan bata kuno, pertanda pengaruh kuat Hindu-Siwais pada abad ke-9 hingga 12 Masehi. Beberapa temuan manik-manik dan nekara perunggu di daerah Malo dan Trucuk bahkan menunjukkan adanya jalur perdagangan yang terhubung dengan dunia luar, jauh sebelum era Majapahit.
Bengawan Solo, dengan arusnya yang tenang tapi panjang, menjadi saksi bisu lahirnya peradaban yang kini hanya tersisa dalam bentuk artefak dan cerita rakyat.
Dari Hindu-Buddha ke Islam
Selain jejak Hindu-Buddha, Bojonegoro juga memiliki sejarah panjang penyebaran Islam. Jalur sungai menjadi rute dakwah para wali dan pedagang Islam dari pesisir Gresik menuju pedalaman Jawa.
Beberapa daerah seperti Padangan, Kalitidu, dan Balen menyimpan makam-makam tokoh penyebar agama Islam awal yang dikenal masyarakat sebagai “buyut” atau “mbah sepuh.” Mereka diyakini berperan besar dalam mengenalkan ajaran Islam melalui pendekatan sosial dan perdagangan.
Proses Islamisasi di Bojonegoro pun berlangsung damai dan akulturatif. Nilai-nilai lama tidak serta-merta hilang, melainkan berbaur dengan ajaran baru, membentuk tradisi yang khas hingga kini.
Warisan Budaya Bengawan
Hubungan masyarakat Bojonegoro dengan Bengawan Solo tak pernah benar-benar putus. Sungai ini bukan hanya jalur air, tapi juga sumber inspirasi budaya dan spiritualitas.
Hingga kini, warga masih menggelar tradisi larung sesaji Bengawan Solo, sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan. Kesenian rakyat seperti Sandur dan Tayub, yang dulu sering dipentaskan di pasar-pasar tepian sungai, juga menjadi warisan budaya yang terus lestari. Bahkan, banyak tembang rakyat yang menceritakan kisah cinta, duka, dan harapan di tepi Bengawan.
Identitas Sungai yang Hidup
Melihat berbagai jejak itu, jelas bahwa Bojonegoro bukan sekadar “daerah yang dilewati sungai.” Ia adalah bagian penting dari jalur peradaban Bengawan Solo, jalur yang melahirkan aktivitas ekonomi, membentuk budaya, dan menyebarkan agama.
Air Bengawan Solo tak hanya mengalirkan kehidupan, tapi juga mengalirkan identitas masyarakat Bojonegoro dari masa ke masa.
Kini, di tengah derasnya arus modernisasi, kisah Bengawan Solo di Bojonegoro tetap relevan. Sungai ini bukan hanya tinggal legenda, melainkan cermin sejarah panjang peradaban manusia di tepi air, yang mengajarkan bahwa kebudayaan besar selalu lahir dari harmoni antara alam dan manusia. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana