RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sego Buwuhan merupakan salah satu makanan khas Bojonegoro yang kerap disajikan Ketika hajatan terutama saat terdapat pernikahan, dan telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Buwuhan berasal dari kata Buwuh yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti uang atau bahan yang diberikan oleh tamu kepada tuan rumah sebagai sumbangan suatu upacara atau pesta.
Proses pembuatan sego buwuhan berasal dari budaya gotong royong masyarakat bojonegoro Ketika ada hajatan, dan sego buwuhan kerap kali diberikan sebagai bentuk timbal balik atau ungkapan terimakasih dari pemilik hajat kepada seseorang yang sudah memberikan sumbangan atau biasa disebut masyarakat bojonegoro sebagai Buwuh.
Sego buwuhan merupakan nasi putih dengan berbagai lauk pelengkap seperti daging sapi, telur, sayuran blonceng, sambal goreng, mie kuning, tempe bobor, hingga rempeyek yang cukup variatif dengan guyuran kuah santan bumbu medok yang khas, dibungkus dengan daun jadi menambah kesedapan masakan ini Ketika dinikmati. Mengingat hutan bojonegoro juga didominasi pohon jati tak heran jika pembungkus makanan khas ini Adalah daun jati.
Baca Juga: Sego Buwuhan: Jantung Tradisi Pernikahan Bojonegoro yang Diakui Warisan Budaya Nasional
Makanan ini semakin popular sejak peresmian jembatan Sosrodilogo, bupati Bojonegoro Anna Muawanah mengenalkan sego buwuhan, dalam programnya Pinarak Bojonegoro dengan mengadakan acara Pagelaran Bojonegoro Thengul International Folklore Festival pada tahun 2019.
Saat itu terdapat Lomba Cipta Menu Nasi Buwuhan, dengan jurinya adalah chef Juna Rorimpandey, yang merupakan juri Master Chef Indonesia pesertanya dari 28 kecamatan di Bojonegoro. Dalam lomba tersebut disajikan 26.600 bungkus sego buwuhan sehingga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI), kategori hidangan terbanyak. (mae-mgg/edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana