Seorang pemuda Bojonegoro Muhammad Maulana Ahsan merupakan sosok di balik akun Instagram @kejepangan. Akun berpengikut 62 ribu orang itu fokus bikin konten belajar bahasa Jepang.
BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro
BELAJAR bahasa Jepang bisa di mana saja tanpa tatap muka. Juga, tidak harus kuliah. Muhammad Maulana Ahsan berusaha membuat terobosan belajar bahasa Jepang secara praktis.
Pemuda alumni jurusan rekayasa perangkat lunak (RPL) SMKN Sumberrejo, Bojonegoro, itu membuat beragam konten belajar bahasa Jepang melalui Instagram. Semua bisa mengakses. Ahsan membuat akun @kejepangan terkait belajar bahasa Jepang. Ternyata pengelola akun ini memiliki pengikut 62 ribu.
Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha menghubungi pengelola akun melalui pesan langsung Instagram pada Senin (22/8). Namun, pesan tak langsung direspons. Baru dibalas setelah dua hari, karena tentu banyak pesan masuk di akun berpengikut puluhan ribu.
Akhirnya mendapat nomor HP akun @kejepangan. Ternyata sedang tidak berada di Bojonegoro. Ia saat ini berdomisili di Jakarta Utara. Sehingga obrolan berlanjut via sambungan telepon.
Kreativitas pemuda Bojonegoro tanpa batas. Sosok Ahsan ini unik. Dia bikin akun @kejepangan tanpa latar belakang disiplin ilmu bahasa Jepang. Ahsan lulus SMKN Sumberrejo pada 2015. Pemuda asal Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru, itu bekerja di Surabaya.
Namun, di sela kesibukannya, mulai 2017 ia getol belajar bahasa Jepang secara mandiri dan otodidak. “Hasrat belajar karena suka manga (bahasa Jepang di komik) maupun anime Jepang,” kata pemuda kelahiran 1998 itu.
Ahsan bukan sekadar iseng belajar bahasa Jepang. Bahkan, dia memberanikan diri mengambil sertifikasi Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) pada 2019 (setara TOEFL). “Ambil sertifikat JLPT itu ada lima level. Paling rendah N-5 dan paling tinggi N-1. Pas 2019 itu saya dua kali ambil sertifikasi, pertama N-4 lalu N-3,” terangnya.
Nahasnya, pandemi Covid-19 membuat pekerjaannya di Surabaya rugi. Sehingga ia memutuskan pulang kampung Bojonegoro pada 2020. Karena banyak waktu luang di rumah, Ahsan fokus bikin konten belajar bahasa Jepang via Instagram. Terus mengasah kemampuan berbicara pakai bahasa Jepang.
Karena ia merasa meski sudah punya sertifikat N-3, ternyata saat berbicara dengan orang Jepang asli via media sosial masih kesulitan. Sehingga, Ahsan manfaatkan ragam media sosial maupun aplikasi belajar bahasa Jepang. “Biar bagaimanapun belajar bahasa asing itu perlu secara berkala dipraktikkan,” ucapnya.
Awalnya hanya memproduksi konten berupa gambar. “Karena sejujurnya saat awal bikin @kejepangan kurang begitu menguasai konten video. Beberapa bulan lalu sudah mulai rutin bikin konten video,” ujarnya.
Perlahan pengikutnya bertambah. Mulai ribuan hingga puluhan ribu dalam kurun waktu dua tahun. Ke depannya ia ingin mengembangkan aplikasi belajar bahasa Jepang. Suatu saat ingin bertandang ke negeri Sakura. (*/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto