ULET: Lukman Hakim mahir membuat kostum karakter jejepangan dan rajin ikut lomba cosplay di Jatim.
Lukman Hakim begitu tertarik dengan budaya populer Jepang. Diawali menjadi seorang cosplayer, lalu Lukman menekuni perajin kostum beragam karakter kartun maupun series.
BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro
TAS berukuran besar ditenteng Lukman Hakim naik ke lantai dua rumahnya. Bergegas Lukman memperlihatkan salah satu kostum buatannya. Yakni, kostum Kamen Rider Zero-One yang identik kuning. Kostum itu ia buat dua tahun lalu untuk koleksi pribadi. Rencananya mau ia pakai untuk ikut lomba-lomba cosplay. Tapi ternyata gagal akibat pandemi Covid-19.
Lukman bisa dibilang dedengkot cosplay di Bojonegoro. Salah satu pendiri Cosplay Community Bojonegoro (Cocobo) pada 2014 silam. Lukman tak bisa lepas dari dunia berbau jejepangan. Menurutnya, produk budaya populer Jepang hampir meracuni seluruh generasi kelahiran 1990-an.
“Kami yang lahir 1990-an pasti tumbuh dewasa dengan kartun-kartun atau film Jepang. Bedanya mungkin kalau saya lebih menyelami budaya populer Jepang, salah satunya cosplay,” ujar pemuda kelahiran 1991 itu.
Sejak terjun sebagai cosplayer lebih delapan tahun, puluhan piala lomba cosplay seputaran Jawa Timur sudah ia sabet. Sayangnya, cosplayer di Bojonegoro jarang berani ikut lomba ke luar kota. Sehingga perkembangan komunitas cosplay tergolong lambat.
Pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota itu tidak ingin setengah-setengah di dunia cosplay. Sejak 2015 Lukman tertarik belajar otodidak bikin kostum sendiri. Kali pertama ia buat kostum karakter di dalam game Dynasty Warriors bernama Lu-Bu.
Lukman mulai gandrung dengan drama televisi atau series Jepang yaitu Kamen Rider. Akhirnya mendorong Lukman belajar bikin kostum Kamen Rider. Modalnya bahan baku terdiri atas busa hati, lem, gunting, dan aksesoris lainnya. “Belajarnya dengan teman-teman yang sudah terjun bikin kostum dan YouTube,” tuturnya.
Juga dibantu perangkat lunak komputer bernama Pepakura. Durasi pembuatannya sekitar seminggu hingga sebulan. Lukman pun sejak awal 2022 mencoba ngamen di car free day (CFD) Alun-Alun Bojonegoro setiap Minggu.
“Ngamen-nya yaitu keliling pakai kostum Kamen Rider bareng teman satu komunitas. Setiap ada anak-anak minta foto bareng bisa bayar seikhlasnya,” katanya.
Ada keseruan saat ngamen setiap Minggu. Juga merasa bahagia melihat anak-anak kecil semringah melihatnya pakai kostum Kamen Rider. “Malah kepikiran pengin bikin kostum Kamen Rider RX atau biasa kenal Satria Baja Hitam. Jadi biar lebih mudah dikenali masyarakat,” ujarnya.
Lukman menilai pembuatan kostum karakter itu mudah dipelajari. Sayangnya di dalam komunitasnya belum terlihat tanda-tanda regenerasi. Padahal dia sudah sering mengajak anggota komunitasnya bikin kostum bersama di rumahnya. “Tapi memang yang punya niat tinggi untuk belajar bikin kostum karakter belum kelihatan,” tuturnya. (*/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto