Hewan hias harganya lebih menjanjikan dibandingkan jenis biasa. Termasuk ayam hias pheasant. Ayam hutan alias ayam merah bertubuh kecil dari luar negeri itu bisa menghasilkan banyak cuan.
M Gamal Ayatullah, Radar Lamongan,
LAHAN di belakang rumah Abdul Hamid, 41, warga Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, dimanfaatkan untuk beternak ayam. Bukan ayam biasa. Namun ayam pheasant, salah satu jenis ayam hias.
Ada sepuluh kotak berukuran 2 x 3 meter dengan pembatas ram besi. Setiap kotak diisi 7 – 10 ayam pheasant. Salah satu ciri mencolok pheasant dibandingkan ayam umumnya, ekornya lebih panjang dan bulunya berwarna terang.
‘’Awalnya dulu saya melakukan ternak ayam Bangkok, ayam kate dan ayam ketawa,’’ ceritanya.
Sejak kecil, Hamid suka merawat hewan ternak. Pada 2011, salah satu temannya di Sidoarjo menawarkan ayam pheasant. Dia memutuskan beternak ayam tersebut setelah mengetahui cara merawatnya yang tak beda jauh dengan ayam biasa.
‘’Saya memilih ayam pheasant, suka pada warnanya yang cerah,’’ tuturnya.
Hamid tidak kesulitan untuk mencari pakan ayam pheasant. Dia cukup memberi pakan dengan beras merah, kacang hijau, jagung, dan kedelai.
Beras merah dinilai berkhasiat untuk stamina ayam. Kacang hijau diberikan saat musim hujan seperti saat ini. Tujuannya, menstabilkan birahi ayam baik pejantan maupun betina.
Sedangkan saat kemarau yang cuacanya panas, Hamid sering memberikan pakan dari buah dari pepaya dan sayuran. Tujuannya, menjaga kebugaran tubuh ayam.
Di kandangnya, Hamid kini memiliki jenis lady amherst pheasant, yellow pheasant, dan golden pheasant. Kemudian silver pheasant dan ringneck pheasant. Totalnya, ada sekitar 50 ekor.
Hamid menilai pheasant lebih tahan penyakit dibandingkan ayam kampung. Sejak beternak ayam hias itu, dia melihat ayamnya mengalami penyakit terberat snot. Hamid cukup memisahkan ayam yang terkena penyakit itu agar tidak menular dan mencarikan obatnya.
‘’Yang paling sering, saya jumpai pada saat pergantian musim hanya flu. Namun, diberikan vitamin serta obat sudah sembuh lagi,’’ ujar bapak dua anak ini.
Musim kawin ayam jenis ini terjadi di November. ‘’Kalau bertelur, mulai bulan November hingga bulan Februari ini,’’ imbuhnya.
Masa penetasan ayam pheasant 26 – 27 hari, lebih lama dibandingkan ayam kampung yang 21 hari masa penetasannya.
Ayam pheasant harganya jauh lebih mahal dibandingkan ayam biasa. Hamid menjual ayamnya di usia remaja dengan harga Rp 12 juta hingga Rp 25 juta untuk satu betina dan jantan siap bertelur. Dia sudah menjual ayamnya itu ke Medan, Riau, Aceh, Makassar, hingga Bali. (*/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto