PU SDA Harus Menjamin Ketersediaan Air, Pemkab Target 300 Ha Sawah Baru

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:40 WIB
PANEN: Petani sedang panen padi di sawah, harga gabah di Kecamatan Sugihwaras tembus Rp 7.400 per kilogram. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)
PANEN: Petani sedang panen padi di sawah, harga gabah di Kecamatan Sugihwaras tembus Rp 7.400 per kilogram. (DEWI SAFITRI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM –  Sebagian besar penduduk Bojonegoro masih menggantungkan pendapatan dari sektor pertanian. Namun, tak semua generasi muda ingin melanjutkan profesi itu. Akibatnya, jumlah petani kian susut. Berdasar data hasil pencacahan sensus pertanian tahap dua badan pusat statistik (BPS) pada 2023, jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 269.623 rumah tangga. 

Sementara itu, mengacu data dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP), jumlah rumah tangga usaha tani kini tercatat 269.267 rumah tangga. Hal ini lantas mendapat respons Bupati Bojonegoro Setyo Wahono. Ia mengatakan, harus ada geliat agar pertanian tetap eksis agar generasi ke depan mau bertani. "Biar muncul sendiri keinginan itu dari anak anak. Petani ini membanggakan dan menghasilkan," tutur Wahono saat Festival Gumregah Tani Bojonegoro, Jumat (16/10). 

Oleh karena itu, lanjut dia, harus ada upaya serius dari seluruh stakeholder. Di antaranya desa yang memungkinkan adanya embung maka dapat dibangun dan memaksimalkan irigasi maupun sumber air lainnya. "Kata kunci pertanian ini air, pupuk, dan teknologi. Hari ini baru memperbaiki air dan menjalin kerja sama dengan UGM (Universitas Gajah Mada) terkait gamagora (jenis padi, red). Ada kenaikan 2 ton, nanti harapannya ada balai benih di Bojonegoro," tuturnya.

Baca Juga: 65 Mahasiswa Fakultas Pertanian Unigoro Resmi Sandang Gelar Sarjana Pertanian

Kemudian, kata Wahono, lahan baku sawah harus ditingkatkan seperti mencetak sawah baru. Pihaknya menarget, dalam dua hingga tiga tahun ke depan ada cetak sawah baru seluas 300 hektare (ha). Ia ingin Bojonegoro dikenal sebagai daerah lumbung pangan. "Pertanian jadi salah satu skala prioritas kita, untuk dinas PU SDA (pekerjaan umum sumber daya air) air dan irigasi harus dimaksimalkan," tegas pria kelahiran Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo itu. 

Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bojonegoro Nurul Azizah menyampaikan, lahan baku sawah saat ini di angka 92,3 ribu ha di mana 87 persen di antaranya merupakan kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B), yakni 83 ribu ha. Di sisi lain, produksi padi mengalami kenaikan dari 710 ribu ton di 2025 menjadi 886 ribu ton tahun ini. 

"Kalau ada cetak sawah baru, masyarakat mengajukan sawah baru ini sangat kami dukung. Pak bupati mendukung ada sawah baru. Ini tugas pengurus HKTI yang baru dilantik, mengupayakan cetak sawah baru dan melaporkan ke bupati," imbuh perempuan yang juga menjawab Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro itu. 

Sementara itu, Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani mengatakan, dalam geliat pertanian telah dilakukan sejumlah upaya. Meliputi penyaluran pupuk subsidi, asuransi usaha tani padi (AUTP), pemberian alsintan, pembangunan jalan usaha tani (JUT), serta sekolah lapang. "Menurut sensus pertanian, sebanyak 269.267 rumah tangga usaha pertanian. Apabila satu rumah ada tiga orang maka hampir 800 ribu orang tergantung pertanian," katanya. (yna/msu)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
badan pusat statistik Pertanian bojonegoro universitas gajah mada wakil bupati