RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ziarah makam leluhur menjadi salah satu rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. Pemkab Bojonegoro menggelar ziarah di tiga makam leluhur untuk mengenang sekaligus wujud penghormatan tokoh pendahulu, Jumat (16/10).
Ziarah dipimpin Bupati Bojonegoro bersama wakil bupati, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Tiga makam yang dikunjungi, yakni makam Adipati Pangeran Aryo Dalem di Kelurahan Kadipaten, makam Haryo Matahun di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander, serta makam Kanjeng Sumantri di Kelurahan Mojokampung.
Di setiap lokasi, rombongan mendapat penjelasan sejarah, dilanjutkan pembacaan tahlil, doa bersama, dan tabur bunga. Pemkab melalui Dinas Sosial juga menyerahkan tali asih kepada juru kunci makam dan imam tahlil.
Baca Juga: Rangkaian HJB ke-349 Diisi Agenda Keagamaan hingga Wisata
Juru kunci makam Pangeran Aryo Dalem, Sutiyono menyampaikan, terkait tradisi mayu cungkup atau perbaikan atap makam Buyut Dalem. Tradisi tersebut digelar setiap bulan Dzulhijah pada Rabu Pahing. Berikutnya, pada Rabu Wage dilaksanakan tradisi manganan atau sedekah bumi.
Penggantian atap menggunakan alang-alang dari Kecamatan Ngasem. Bagian wuwung atau puncak atap diganti tepat pukul 12.00 WIB, diiringi gending Kodok Ngorek yang dipercaya sebagai kesukaan Mbah Buyut Dalem.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat menjaga warisan leluhur Bojonegoro. "Dari padi sudah mulai dipasang dari bawah," ujarnya.
Sementara itu, juru kunci makam Haryo Matahun, Sugianto menceritakan, terkait Adipati Arya Matahun. Menurutnya, sosok Adipati tersebut dikenal sebagai Pangeran Sasongko atau Raden Songko. Tokoh tersebut merupakan keturunan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, melalui trah Raden Patah, Raja Demak.
“Adipati Arya Matahun gugur dalam pertempuran melawan pasukan Madura dan Sampang di wilayah Badholeng, Sedayu, Kabupaten Gresik. Pertempuran itu dipicu penolakan Cakraningrat dari Madura untuk menghadap Susuhunan Pakubuwono II di Kartasura," kisahnya. (ewi/bgs)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah