Dari Majapahit ke Demak, Bagaimana Perubahan Kekuasaan Membentuk Sejarah Bojonegoro?

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:35 WIB
Bojonegoro terbentuk dari Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Bojonegoro terbentuk dari Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sejarah Bojonegoro tidak dapat dilepaskan dari perubahan kekuasaan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa. Sebelum dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan kawasan pertanian, wilayah ini pernah berada dalam pengaruh Kerajaan Majapahit, kemudian beralih ke Kesultanan Demak ketika kekuatan politik dan keagamaan di Jawa mengalami perubahan.

Peralihan tersebut bukan sekadar pergantian penguasa. Perubahan kekuasaan turut membuka jalan bagi berkembangnya Islam, perubahan tata kehidupan masyarakat, serta terbentuknya struktur pemerintahan baru yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Bojonegoro.

Berdasarkan catatan sejarah yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Majapahit hingga abad ke-16. Ketika pengaruh Majapahit melemah dan Kesultanan Demak berkembang, Bojonegoro kemudian masuk dalam wilayah kekuasaan Demak.

1. Bojonegoro dalam Bayang-Bayang Kekuasaan Majapahit

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara yang mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14. Pengaruhnya meluas ke berbagai wilayah, termasuk sejumlah kawasan di Jawa Timur.

Baca Juga: Jejak Kerajaan Majapahit di Bojonegoro, dari Prasasti hingga Situs Permukiman Kuno

Dalam catatan sejarah daerah, Bojonegoro disebut sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit hingga abad ke-16. Pengaruh masa Hindu-Buddha di kawasan ini juga menjadi bagian dari kajian sejarah lokal, meskipun penelusuran setiap situs dan peninggalan tetap membutuhkan pembuktian melalui penelitian arkeologi maupun sumber tertulis.

Pada masa tersebut, kekuasaan kerajaan tidak selalu berarti seluruh wilayah dikelola secara langsung oleh pusat pemerintahan. Hubungan antara kerajaan dan daerah dapat melibatkan pejabat lokal, penguasa setempat, serta jaringan ekonomi dan politik.

Karena itu, untuk memahami posisi Bojonegoro pada masa Majapahit, diperlukan pembacaan terhadap sumber sejarah yang tersedia, bukan sekadar menganggap batas wilayah kerajaan pada masa lampau sama dengan batas kabupaten sekarang.

2. Kemunduran Majapahit Membuka Jalan bagi Kesultanan Demak

Memasuki akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, pengaruh Majapahit mengalami kemunduran. Sejumlah faktor, termasuk konflik politik internal dan perubahan jaringan perdagangan, ikut membentuk kondisi yang memungkinkan munculnya kekuatan baru di Jawa.

Salah satu kekuatan tersebut adalah Kesultanan Demak, yang berkembang sebagai pusat politik Islam di pesisir utara Jawa. Demak memiliki posisi strategis karena terhubung dengan jaringan perdagangan maritim dan komunitas Muslim yang tumbuh di berbagai kota pelabuhan.

Dikutip dari penelitian Nugrah Novita Rahmawati, Subaryana, dan Mardikun dalam Rinontje: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah berjudul “Kerajaan Demak dan Pengaruhnya Terhadap Islamisasi di Pulau Jawa” membahas hubungan antara kemunduran Majapahit, perkembangan Demak, dan meluasnya pengaruh Islam di Jawa.

Sementara itu, dalam artikel Abd Rahman Hamid “Jaringan Maritim dan Islamisasi Demak Abad XV–XVI” yang terbit di jurnal JAWI pada 2025 menjelaskan bahwa perkembangan Demak berkaitan dengan posisi strategis jalur pelayaran, kemunduran Majapahit, dan peran komunitas Muslim dalam perdagangan pantai utara Jawa.

 

Temuan kajian tersebut membantu menjelaskan konteks perubahan politik yang turut memengaruhi Bojonegoro. Namun, perubahan kekuasaan di tingkat daerah perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika yang lebih luas, bukan dianggap berlangsung serentak dan dengan pola yang sama di seluruh wilayah Jawa.

3. Dari Demak, Bojonegoro Memasuki Masa Perubahan Islam

Peralihan pengaruh dari Majapahit menuju Demak juga menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Bojonegoro. Jika masa sebelumnya identik dengan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha, berkembangnya kekuasaan Islam membawa perubahan dalam kehidupan keagamaan dan tata nilai masyarakat.

Meski demikian, proses Islamisasi tidak dapat dipahami hanya sebagai akibat pergantian penguasa. Penyebaran agama juga berlangsung melalui hubungan perdagangan, dakwah para ulama, pendidikan keagamaan, serta interaksi dengan tradisi masyarakat setempat.

Penelitian Naily Fadhilah berjudul “Jejak Peradaban dan Hukum Islam Kerajaan Demak” yang diterbitkan dalam Al-Mawarid: Jurnal Syariah dan Hukum membahas hubungan antara berdirinya Demak, perkembangan institusi politik Islam, dan perubahan kehidupan sosial-keagamaan di Jawa.

Kajian penelitian dari Frida Najihatul Anas dan Agus Khunaifi dalam jurnal Al-Kainah: Journal of Islamic Studies juga menyoroti peran dakwah kultural dan Walisongo dalam proses Islamisasi Jawa. Kajian tersebut menekankan bahwa penerimaan Islam berkaitan dengan interaksi agama, budaya lokal, dan dukungan kekuasaan politik.

Baca Juga: Jipang Wilayah Strategis Jaringan Politik, Ekonomi, dan Pemerintahan

 

Dalam konteks Bojonegoro, penjelasan ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana perubahan politik pada masa Demak dapat berjalan beriringan dengan perubahan kehidupan masyarakat. Namun, detail tentang tokoh penyebar Islam, waktu kedatangan mereka, dan perkembangan komunitas Muslim di setiap daerah tetap perlu ditelusuri melalui sumber lokal dan penelitian lapangan.

4. Tidak Berhenti di Demak, Bojonegoro Beralih ke Pajang dan Mataram

Perjalanan sejarah Bojonegoro tidak berhenti setelah masuk dalam pengaruh Demak. Perubahan kekuasaan kembali terjadi seiring dengan dinamika politik di Jawa.

Berdasarkan riwayat yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, pergolakan politik setelah masa Majapahit dan Demak membawa wilayah ini ke dalam kekuasaan Kerajaan Pajang, kemudian Mataram.

Berikut garis besar perubahan kekuasaan yang tercatat dalam sejarah daerah:

Kerajaan Majapahit (ISTIMEWA)
Kerajaan Majapahit (ISTIMEWA)
Majapahit

Hingga abad ke-16 menurut catatan sejarah daerah

Bojonegoro berada dalam lingkungan kekuasaan Majapahit sebelum pengaruh kerajaan tersebut melemah.

 
Kesultanan Demak (ISTIMEWA)
Kesultanan Demak (ISTIMEWA)
Kesultanan Demak

Abad ke-16

Perkembangan kekuasaan Islam di Jawa turut memengaruhi perubahan politik dan keagamaan di Bojonegoro.

 
Kerajaan Pajang (ISTIMEWA)
Kerajaan Pajang (ISTIMEWA)
Kerajaan Pajang

Paruh kedua abad ke-16

Baca Juga: Ternyata ada Artefak Kuno di Desa Papringan, Kecamatan Temayang: Ada Uang Koin dari Tiongkok dan Kendi Kerajaan Majapahit

Pergeseran kekuasaan setelah masa Demak membawa Bojonegoro ke dalam lingkungan politik Pajang.

 
Kerajaan Mataram (ISTIMEWA)
Kerajaan Mataram (ISTIMEWA)
Kerajaan Mataram

Akhir abad ke-16 dan periode berikutnya

Bojonegoro kemudian masuk dalam lingkungan kekuasaan Mataram, yang berpengaruh terhadap perkembangan pemerintahan di wilayah Jawa bagian timur.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Bojonegoro merupakan bagian dari dinamika politik Jawa yang lebih luas. Kedudukan suatu daerah dapat berubah seiring melemahnya kerajaan lama, munculnya kekuatan baru, dan penataan kembali hubungan antara pusat kerajaan dengan wilayah-wilayah di sekitarnya.

5. Kapan Bojonegoro Mulai Memiliki Pemerintahan Kabupaten?

Salah satu tanggal penting dalam sejarah pemerintahan Bojonegoro adalah 20 Oktober 1677.

Menurut sejarah resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, pada tanggal tersebut status Jipang yang sebelumnya merupakan kadipaten diubah menjadi kabupaten. Mas Tumapel tercatat sebagai wedana bupati Mancanegara Wetan sekaligus bupati pertama yang berkedudukan di Jipang.

Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro. Pada 1725, pusat pemerintahan Kabupaten Jipang dipindahkan ke Rajekwesi, yang lokasinya disebut berada sekitar 10 kilometer di selatan Kota Bojonegoro saat ini.

Fakta ini penting untuk membedakan dua hal: sejarah wilayah Bojonegoro yang telah berlangsung jauh sebelum abad ke-17 dan sejarah pembentukan pemerintahan kabupaten yang memiliki penanggalan administratif tersendiri.

Dengan demikian, perubahan dari Majapahit menuju Demak merupakan bagian dari perjalanan panjang daerah ini, sedangkan pembentukan Kabupaten Bojonegoro pada 1677 menandai babak berbeda dalam sejarah pemerintahan lokal. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
demak penelitian majapahit kerajaan bojonegoro