RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kemarau panjang yang masih berlangsung di Kabupaten Bojonegoro hingga kemarin (14/10) berdampak pada sektor pertanian. Ancaman kekeringan berpotensi menggeser jadwal musim tanam.
Tentu berdampak pada luas tanam hingga produksi padi. Karena ketersediaan air dan waktu tanam tidak sesuai dengan kebutuhan pertanian.
Ahli Klimatologi Universitas Bojonegoro (Unigoro), Heri Mulyanti mengingatkan, kemungkinan mundurnya musim tanam seiring prediksi penurunan curah hujan pada Oktober hingga April mendatang.
“Karena hujan di bulan Desember biasanya turun lebat, akan berkurang volume-nya. Bahkan di laporannya WMO (World Meteorological Organization), bahwa nanti probabilitas terjadi El Nino sampai bulan April,” ujar Dosen Prodi Ilmu Lingkungan Unigoro tersebut.
Baca Juga: Ahli Klimatologi Unigoro Prediksi Musim Tanam Mundur akibat Ancaman El Nino
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, membenarkan potensi mundurnya musim tanam akibat kemarau panjang.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lanjutnya, hujan diperkirakan mulai turun pada November di Kecamatan Sekar dan Ngambon. Sedangkan kecamatan lainnya diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember.
‘’Berdasarkan BMKG November yang mulai hujan ada di Kecamatan Sekar dan Ngambon. Sedangkan kecamatan lainnya Desember,’’ terangnya.
Mundurnya musim tanam berpotensi memengaruhi luas tanam dan produksi padi tahun ini. Sebab, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan waktu tanam dan keberlangsungan budidaya padi.
Sebagai langkah agar petani dapat menyesuaikan kegiatan tanam dengan kondisi cuaca dan mengantisipasi risiko gagal panen selama kemarau panjang. Zaenal mengimbau, agar petani memedomani Rencana Tata Tanam Global (RTTG) yang telah dibuat.
‘’Dan, selalu berkonsultasi kepada PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) terkait informasi kondisi cuaca ter-update,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah