3 Poin Inti 'Surga Wisata' Masa Kolonial:
-
Kapasitas Raksasa Waduk Pacal: Sejak tahun 1937, Bendungan Pacal sudah mencuri perhatian dengan volume air mencapai 41 juta meter kubik, menjadikannya destinasi rekayasa air yang wajib dikunjungi warga Jawa Timur kala itu.
-
Pesona Nglirip dan Pesanggrahan: Berjarak sekitar 30 km di barat laut Kota Bojonegoro, Air Terjun Nglirip setinggi 30 meter sudah dilengkapi pesanggrahan mewah dengan fasilitas berenang dan pemandangan membelah batas perbukitan kapur dan dataran Lembah Solo.
-
Ekspedisi Ekstrem Goa Lawa: Menjelajah Goa Lawa butuh nyali dan pemandu wajib. Tur selama dua jam ini mengharuskan pengunjung naik-turun 10 anak tangga curam demi melihat formasi stalaktit fantastis dan atraksi pantulan gema dari sebuah chi/gong kuno.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Buat kamu yang sedang mencari destinasi wisata alam bernuansa petualangan, tahukah kamu kalau pesona Air Terjun Nglirip, Goa Lawa (Goewo Lowo), hingga Waduk Pacal ternyata sudah diakui sebagai Dorado alias surga liburan dan ekskursi sejarah alam sejak era Hindia Belanda?
Fakta mengejutkan ini terekam jelas dalam arsip koran kolonial Soerabaijasch handelsblad tertanggal 16 Juli 1937, yang kini bisa kamu akses di situs pangkalan data delpher.nl.
Saat itu, kawasan yang masuk dalam administrasi Keresidenan Bojonegoro (kini berada di perbatasan Bojonegoro dan Tuban) ini sudah menjadi rute liburan favorit para ekspatriat Belanda yang menawarkan kombinasi bukit kapur, hutan jati sejuk, sumber air panas dan dingin, serta pemandangan menakjubkan Lembah Solo.
Menurut laporan pandangan mata dari reporter koran kolonial tersebut, perjalanan menyusuri eksotisme alam Keresidenan Bojonegoro dan Tuban terlalu disayangkan jika hanya dihabiskan dalam tempo satu hari. Mereka merekomendasikan liburan akhir pekan panjang untuk benar-benar menikmati kawasan ini.
Baca Juga: Dua Bocah Kembar asal Temayang Tewas Tenggelam di Sungai Pacal, Tidak Ada Saksi
Salah satu daya tarik utamanya adalah Waduk Pacal. Saat itu, Ir. Th. Jacobson dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi (Provinciale Waterstaat) di Bojonegoro bahkan sering turun tangan langsung menjadi pemandu ramah bagi rombongan Natuur-historische Vereeniging (Perkumpulan Sejarah Alam) yang ingin melihat kegagahan bendungan berkapasitas 41 juta meter kubik tersebut.
Nglirip: Pesanggrahan di Batas Lembah
Bagi para pecinta alam ekstrem, destinasi wajibnya bergeser ke arah utara menuju Air Terjun Nglirip dan Goa Lawa. Penulis Belanda masa itu mendeskripsikan betapa strategisnya pesanggrahan Nglirip yang berdiri tepat di garis batas perbukitan kapur utara dan dataran Lembah Solo. Dari beranda depan pesanggrahan, kamu bisa melihat jatuhan air terjun setinggi 30 meter di satu sisi, dan hamparan dataran rendah yang membentang luas hingga ke arah Cepu di sisi lainnya. Di sekelilingnya terdapat tebing curam, ngarai batu, dan kawasan hutan jati (djatibosch) yang luar biasa sejuk.
Tantangan 10 Tangga di Goa Lawa
Untuk menuju Goa Lawa, kamu hanya perlu berjalan kaki santai selama setengah jam dari pesanggrahan Nglirip. Meski mobil pada masa itu bisa mendekat ke lokasi, koran tersebut mewanti-wanti agar pengunjung tidak nekat menyetir di 100 meter terakhir. Alasannya? Ada lintasan rel kereta kehutanan dan gundukan batu yang rawan membuat per kejut mobil patah!
Masuk ke dalam perut gua pun ada aturan ketatnya: dilarang keras masuk tanpa pemandu lokal (bahkan ada dua papan peringatan untuk ini). Perjalanan menyusuri lorong gua digambarkan sangat menantang karena memakan waktu hingga dua jam dan mengharuskan pengunjung memanjat serta menuruni sepuluh anak tangga kayu.
Namun, rasa lelah dan ngeri itu diklaim akan terbayar lunas oleh pemandangan druipsteen (formasi stalaktit dan stalagmit) yang fantastis. Pemandu masa itu juga sudah menyiapkan efek pencahayaan dramatis dan memukul gong untuk memamerkan efek akustik pantulan suara di dalam gua raksasa tersebut.
Informasi Tambahan: Secara geologis, kawasan Air Terjun Nglirip, Goa Lawa, dan pegunungan kapur utara ini berada dalam formasi bentang alam Karst Tuban yang masuk dalam Zona Rembang. Kawasan karst ini menyimpan fungsi ekologis penting sebagai kawasan resapan air bawah tanah. Kamu bisa mempelajari lebih detail mengenai kekayaan geologi dan pelestarian bentang alam kawasan ini melalui publikasi resmi di portal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atau eksplorasi wisata di situs pariwisata Pemkab Tuban dan Bojonegoro.
Editor : Bhagas Dani Purwoko