Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Tua dan Makam Ulama di Bojonegoro

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:45 WIB
Masjid Jami’ Nurul Huda tepatnya di Desa Cangaan, Kec. Kanor,  Kab. Bojonegoro, menjadi salah satu masjid tertua di tepian aliran sungai Bengawan Solo. (GOOGLE MAP/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Masjid Jami’ Nurul Huda tepatnya di Desa Cangaan, Kec. Kanor, Kab. Bojonegoro, menjadi salah satu masjid tertua di tepian aliran sungai Bengawan Solo. (GOOGLE MAP/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Aliran Sungai Bengawan Solo tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bojonegoro, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan sejarah dan perkembangan agama Islam. Di sepanjang kawasan yang terhubung dengan sungai ini, terdapat masjid bersejarah dan makam tokoh agama yang menyimpan cerita tentang dakwah, perjalanan ulama, serta tumbuhnya pusat-pusat kehidupan keagamaan masyarakat.

Salah satu peninggalan yang menarik perhatian adalah Masjid Jami’ Nurul Huda di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. Selain itu, makam Mbah Hasyim dan Mbah Sabil di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, juga menjadi bagian penting dari ingatan masyarakat mengenai perkembangan Islam di wilayah Bojonegoro.

Keberadaan situs-situs tersebut membuka peluang untuk menelusuri bagaimana Bengawan Solo berperan dalam menghubungkan permukiman, aktivitas ekonomi, dan perjalanan manusia pada masa lalu. Namun, hubungan antara sungai dan penyebaran Islam perlu dipahami melalui perpaduan sumber sejarah, penelitian ilmiah, serta tradisi lisan masyarakat.

Masjid Jami’ Nurul Huda, Jejak Islam di Tepian Bengawan Solo

Masjid Jami’ Nurul Huda yang terletak di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, merupakan salah satu masjid bersejarah yang dikenal masyarakat Bojonegoro. Masjid ini diyakini memiliki hubungan dengan perkembangan Islam pada masa Kesultanan Mataram dan disebut-sebut sebagai salah satu masjid tua di wilayah tersebut.

Menurut pemberitaan mengenai sejarah masjid ini, terdapat beberapa versi mengenai tahun pendiriannya. Sebagian riwayat mengaitkannya dengan Ki Ageng Wiroyudo dan tahun 1775 Masehi, sedangkan angka 1262 Hijriah yang tercantum pada pintu masjid setara dengan sekitar 1846–1847 Masehi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sejarah pendirian masjid masih perlu diteliti melalui sumber primer dan penelusuran arsip yang lebih mendalam.

Baca Juga: Dari Bengawan Solo hingga Jalur Perdagangan, Begini Peran Bojonegoro pada Masa Lampau

Meski telah mengalami beberapa kali renovasi, sejumlah unsur lama masih dipertahankan, termasuk pintu kayu jati dengan tulisan Arab dan aksara Jawa serta empat tiang utama yang disebut sebagai bagian dari peninggalan bangunan terdahulu. Masjid ini juga tetap digunakan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat.

Kedekatannya dengan Bengawan Solo menjadi aspek menarik dalam penelusuran sejarah. Pada masa ketika transportasi darat belum berkembang seperti sekarang, sungai dapat menjadi jalur mobilitas penduduk dan barang. Permukiman yang tumbuh di sekitar sungai berpotensi menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah, termasuk para pedagang dan penyebar agama.

Dalam konteks tersebut, masjid dapat berkembang sebagai pusat ibadah sekaligus tempat pendidikan agama, musyawarah, dan pembentukan hubungan sosial. Meski demikian, kedekatan geografis Masjid Jami’ Nurul Huda dengan Bengawan Solo belum dengan sendirinya membuktikan bahwa masjid tersebut merupakan titik pertama masuknya Islam ke Bojonegoro.

Makam Mbah Hasyim dan Mbah Sabil, Menelusuri Jejak Ulama di Padangan

Selain masjid tua, makam ulama juga menjadi sumber penting untuk memahami sejarah perkembangan Islam di Bojonegoro. Salah satu situs yang dikenal masyarakat berada di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, yakni makam Mbah Hasyim dan Mbah Sabil yang dikaitkan dengan tokoh Menak Anggrung.

Dikutip dari Media Indonesia pada 15 Juni 2016, riwayat lokal menyebut Mbah Sabil memiliki nama Pangeran Adiningrat Dandang Kusumo dan melakukan perjalanan dari wilayah Mataram dengan menyusuri Bengawan Solo hingga tiba di Padangan. Di kawasan tersebut, ia bertemu dengan Mbah Hasyim dan kemudian ikut membantu mengajarkan agama Islam kepada masyarakat.

Kisah tersebut juga menyebut bahwa keduanya mendirikan langgar atau musala sederhana untuk mendukung kegiatan dakwah. Tempat ibadah itu kemudian dikaitkan dengan perkembangan masjid dan pesantren di lingkungan setempat.

Makam keduanya dikenal sebagai Sarean Menak Anggrung. Nama tersebut, menurut penuturan setempat, berkaitan dengan lokasi makam yang berada di kawasan tinggi atau menjulang di dekat tebing Bengawan Solo.

Riwayat perjalanan Mbah Sabil melalui sungai memberikan gambaran tentang kemungkinan hubungan antara mobilitas manusia dan perkembangan Islam di daerah aliran Bengawan Solo. Jalur air dapat menghubungkan satu permukiman dengan permukiman lainnya, sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan, tradisi, dan ajaran keagamaan.

Baca Juga: Jejak Kerajaan Majapahit di Bojonegoro, dari Prasasti hingga Situs Permukiman Kuno

Akan tetapi, kisah perjalanan tersebut perlu ditempatkan sebagai riwayat tradisional yang masih membutuhkan pengujian melalui arsip, manuskrip, catatan silsilah, atau bukti sejarah sezaman. Informasi tentang tokoh, tahun kedatangan, dan urutan penyebaran Islam tidak seharusnya langsung dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Makam Kyai Tameng Jati dan Tradisi Dakwah di Bojonegoro

Jejak tokoh agama lainnya dapat ditelusuri melalui makam Kyai Tameng Jati di Desa Sudah, Kecamatan Malo, serta makam Mbah Menak Anggrung Kuncen di Kecamatan Padangan.

Dikutip dari laman resmi Pengadilan Agama Bojonegoro pada 15 September 2026, tim penyusun buku sejarah lembaga tersebut melakukan napak tilas untuk menggali informasi mengenai penyebaran Islam dan sejarah peradilan agama di Bojonegoro. Penelusuran itu mencakup wawancara dengan perawat makam dan tokoh masyarakat setempat.

Menurut riwayat yang dihimpun dari narasumber lokal, Kyai Tameng Jati disebut memiliki nama Syekh Abdurrahman Hadi. Tradisi setempat mengaitkannya dengan perjalanan dakwah dari luar Jawa dan menyebut sejumlah tokoh lain sebagai bagian dari rangkaian penyebaran Islam di Bojonegoro.

Informasi tersebut menarik sebagai bahan awal penelitian sejarah lokal. Namun, karena sebagian keterangannya berasal dari wawancara dan tradisi lisan, kronologi kehidupan tokoh serta hubungan antartokoh masih perlu diperiksa menggunakan sumber sejarah lain.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Kota Lama Padangan, Peninggalannya Masih Bisa Dilihat

Makam-makam ulama tidak hanya berfungsi sebagai tempat ziarah. Dalam kehidupan masyarakat, situs tersebut juga dapat menjadi ruang untuk mewariskan cerita, menjaga ingatan kolektif, dan memperkenalkan tokoh agama kepada generasi muda. Karena itu, pendokumentasian sejarah lisan, silsilah, inskripsi makam, dan perubahan lingkungan di sekitar situs menjadi langkah penting untuk menjaga warisan sejarah Bojonegoro. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
bengawan solo Tokoh sejarah islam masjid