RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro dan Tuban menyimpan jejak sejarah perkeretaapian yang pernah menjadi bagian penting dari perkembangan ekonomi kawasan pantai utara (Pantura) Jawa Timur. Rel yang dahulu menghubungkan wilayah pedalaman dengan pusat perdagangan tersebut tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga berperan dalam pengangkutan hasil bumi dan sumber daya alam pada masa kolonial Belanda.
Sejarah perkeretaapian di kedua wilayah ini berkembang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada masa itu, pemerintah kolonial dan perusahaan kereta api swasta membangun jaringan rel untuk memperlancar distribusi komoditas, termasuk kayu jati, hasil pertanian, dan bahan tambang.
Salah satu jalur yang menjadi bagian penting dari sejarah tersebut adalah lintas Bojonegoro–Jatirogo, yang terhubung dengan jaringan kereta api di kawasan Rembang. Sementara itu, jalur Babat–Tuban–Merakurak menjadi penghubung lain yang mendukung pergerakan barang dari wilayah Tuban menuju jaringan transportasi yang mengarah ke Surabaya.
Awal Pembangunan Rel di Bojonegoro
Pembangunan jalur kereta api di Bojonegoro berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada penghujung abad ke-19, jaringan rel mulai diperluas untuk mengangkut hasil hutan dan komoditas dari pedalaman menuju pusat distribusi.
Artikel sejarah lokal Bojonegoro History mencatat bahwa jalur Gundih–Surabaya dikembangkan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada periode 1897–1903. Jaringan ini melewati Bojonegoro dan menjadi bagian dari pengangkutan hasil produksi wilayah pedalaman.
Pada perkembangan berikutnya, jaringan rel Bojonegoro juga terhubung dengan jalur menuju Jatirogo. Jalur tersebut dibangun melalui kerja sama jaringan perusahaan kereta api yang berbeda, yakni Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) dan NIS.
Keberadaan jalur ini memperlihatkan bahwa pembangunan rel tidak semata-mata bertujuan mengangkut penumpang. Infrastruktur tersebut juga dirancang untuk menunjang kegiatan ekonomi, terutama pengangkutan hasil hutan dan komoditas yang memiliki nilai jual.
Baca Juga: Geger Arsip 1918: Belanda Nekat Babat Lahan Tuban-Bojonegoro Demi Proyek Rel Kereta Api
Jalur Babat–Tuban Diresmikan pada 1920
Salah satu tonggak sejarah perkeretaapian di kawasan Tuban adalah pembukaan jalur Babat–Tuban pada 1 Agustus 1920. Informasi yang dipublikasikan Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Lamongan menyebutkan bahwa jalur tersebut diresmikan pada 31 Juli 1920 dan dibuka untuk umum sehari kemudian.
Jalur sepanjang sekitar 46 kilometer itu dibangun oleh NIS untuk menghubungkan Tuban dengan Babat, Kabupaten Lamongan. Dari Babat, perjalanan dan distribusi barang dapat terhubung dengan jaringan kereta api lain yang mengarah ke Surabaya.
Pada masa itu, Tuban menghasilkan berbagai komoditas, seperti kopra, kapas, kacang-kacangan, kedelai, jagung, dan beras. Kereta api membantu membawa hasil produksi tersebut menuju pusat perdagangan dan pelabuhan untuk didistribusikan lebih jauh.
Namun, jalur Babat–Tuban perlu dibedakan dari jalur Bojonegoro–Jatirogo. Keduanya merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian yang lebih luas di kawasan tersebut, tetapi memiliki lintasan dan sejarah operasional yang berbeda.
Bojonegoro–Jatirogo dan Jejak Angkutan Sumber Daya Alam
Selain jalur menuju Babat dan Surabaya, lintas Bojonegoro–Jatirogo juga memiliki nilai sejarah tersendiri. Jalur ini menghubungkan Bojonegoro dengan wilayah Jatirogo di Kabupaten Tuban, sekaligus tersambung dengan jaringan rel di kawasan Rembang.
Dalam penelitian berjudul Hutan Jati Berkalung Besi: Pengangkutan Kayu Jati di Jawa pada Akhir Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20, yang diterbitkan dalam jurnal Sasdaya: Gadjah Mada Journal of Humanities pada 2017, dibahas bagaimana jaringan kereta api di kawasan hutan jati Jawa berkaitan dengan kepentingan pengangkutan hasil hutan.
Penelitian tersebut memberikan konteks penting untuk memahami perkembangan jalur kereta api di sekitar Bojonegoro dan Rembang. Meski demikian, fungsi setiap lintasan tidak selalu sama karena kondisi ekonomi dan jenis komoditas yang diangkut berbeda-beda.
Dalam perkembangan berikutnya, jalur menuju Jatirogo juga dimanfaatkan untuk mengangkut pasir kuarsa. Laporan sejarah lokal yang diterbitkan Radar Bonang pada Januari 2024 menyebutkan bahwa aktivitas pengangkutan komoditas tersebut menjadi salah satu fungsi jalur Jatirogo sebelum akhirnya tidak beroperasi lagi.
Mengapa Jalur Kereta Api Ini Berhenti Beroperasi?
Seiring perubahan zaman, sejumlah jalur kereta api di kawasan Tuban dan Bojonegoro kehilangan peran ekonominya. Perubahan pola angkutan barang, persaingan dengan transportasi jalan raya, serta pertimbangan biaya operasional menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi jalur-jalur lama tersebut.
Jalur Babat–Tuban–Merakurak mengalami beberapa kali penghentian operasi. Menurut catatan sejarah yang dipublikasikan pemerintah Kabupaten Lamongan, segmen Merakurak ditutup pada 1935, sementara gangguan pada masa pendudukan Jepang dan periode perang setelah kemerdekaan turut memengaruhi operasional jalur. Jalur ini akhirnya tidak lagi beroperasi secara keseluruhan pada dekade 1990-an.
Baca Juga: Menuju HJB ke-349: Awal Terbentuknya Bojonegoro
Sementara itu, jalur kereta api menuju Jatirogo dilaporkan berhenti beroperasi pada 2001. Penutupan tersebut menandai berakhirnya layanan kereta api pada lintas yang pernah digunakan untuk mendukung pengangkutan sumber daya alam dan mobilitas masyarakat setempat.
Bekas stasiun, jalur rel, dan struktur jembatan yang masih dapat ditemukan di sejumlah lokasi menjadi pengingat bahwa jaringan kereta api pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Warisan Sejarah yang Perlu Didokumentasikan
Jejak rel kereta api Bojonegoro–Tuban bukan hanya cerita tentang transportasi masa lalu. Sejarahnya juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi kolonial, eksploitasi sumber daya alam, pertumbuhan permukiman, serta perubahan hubungan antardaerah. (*)
Karena itu, pendokumentasian bekas stasiun, jembatan, jalur rel, peta lama, foto arsip, dan kesaksian masyarakat menjadi penting untuk menjaga ingatan kolektif mengenai sejarah perkeretaapian di kawasan Pantura.
Dengan penelitian yang lebih mendalam, jejak tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah lokal sekaligus bahan pertimbangan bagi upaya pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah.
Sejarah rel Bojonegoro–Tuban pada akhirnya memperlihatkan bahwa infrastruktur transportasi tidak hanya membentuk cara masyarakat bepergian, tetapi juga memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah. Meski sebagian besar lintasan lama telah berhenti beroperasi, warisannya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah kedua kabupaten.
Editor : Bhagas Dani Purwoko