Menelusuri Jejak Sejarah Mbah Malang Negoro dan Tokoh-Tokoh Penting dalam Sejarah Bojonegoro

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 18:27 WIB
Makam Kiai Kasan Wirodikromo atau Sayyid Abu Bakar Alaydrus. (ISTIMEWA)
Makam Kiai Kasan Wirodikromo atau Sayyid Abu Bakar Alaydrus. (ISTIMEWA)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro menyimpan jejak sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan pergantian kekuasaan kerajaan, tetapi juga perjuangan para tokoh lokal, penyebaran agama Islam, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Salah satu nama yang masih dikenang masyarakat hingga kini adalah Mbah Malang Negoro, tokoh yang lekat dengan kisah perjuangan di wilayah Padangan.

Jejak sejarah Mbah Malang Negoro menarik untuk ditelusuri karena berkaitan dengan tradisi lisan, keberadaan makam bersejarah, serta kisah perjuangan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, untuk memahami sosoknya secara utuh, cerita masyarakat perlu dibaca berdampingan dengan penelitian sejarah dan sumber tertulis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mbah Malang Negoro dan Jejak Perjuangan di Padangan

Mbah Malang Negoro dikenal dalam tradisi sejarah lokal yang berkembang di Desa Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Sejumlah riwayat menghubungkan nama tersebut dengan perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa yang berlangsung pada 1825–1830.

Dalam salah satu versi cerita yang berkembang di masyarakat, pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Tanggono Pura, dengan Kiai Kasan Wirodikromo atau Sayyid Abu Bakar Alaydrus sebagai penasihat. Pasukan ini dikisahkan menjalankan strategi untuk menghambat pergerakan Belanda yang menghubungkan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Nama Malang Negoro kemudian melekat pada kisah perjuangan tersebut. Makam yang berada di kawasan Ngasinan menjadi salah satu penanda ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang dikaitkan dengan perjuangan itu.

Baca Juga: Jejak 'Wong Kalang' di Tuban-Bojonegoro: Mitos Diskriminatif Manusia Berekor dan Keturunan Anjing

Meski demikian, terdapat perbedaan riwayat mengenai identitas Mbah Malang Negoro. Artikel Jurnaba berjudul Mbah Malangnegoro Ngasinan, Sosok dan Jejak Perjuangan yang terbit pada Mei 2023, menjelaskan bahwa Mbah Malangnegoro juga dihubungkan dengan Kiai Tjarangsoko, yang disebut sebagai tokoh pembuka wilayah Ngasinan, jauh sebelum Perang Jawa berlangsung.

Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan sosok yang hidup dalam tradisi lokal dengan tokoh-tokoh lain yang kemudian dikaitkan dengannya. Nama Mbah Malang Negoro tidak sebaiknya langsung dianggap merujuk pada satu identitas tanpa memeriksa sumber sejarah yang mendukungnya.

Perang Jawa dan Peran Pangeran Diponegoro

Untuk memahami latar belakang kisah Mbah Malang Negoro, sejarah Perang Jawa menjadi konteks yang penting. Perang yang berlangsung pada 1825–1830 itu merupakan salah satu perlawanan besar terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Jawa.

Dalam jurnal Humaniora Universitas Gadjah Mada, Djoko Surjo melalui tulisan berjudul “Kepemimpinan Pangeran Diponegoro dalam Perspektif Sejarah” membahas kedudukan Diponegoro sebagai pemimpin dan tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Kajian tersebut memberikan kerangka untuk memahami bahwa perjuangan Diponegoro tidak hanya berkaitan dengan pertempuran bersenjata, tetapi juga kepemimpinan, dukungan masyarakat, dan kondisi sosial-politik pada zamannya.

Dalam konteks Bojonegoro, kisah mengenai pasukan Malang Negoro memperlihatkan bagaimana ingatan tentang Perang Jawa diwariskan melalui cerita lokal dan situs makam. Akan tetapi, keterlibatan unit pasukan tertentu, identitas anggotanya, serta detail operasi militernya tetap perlu ditelusuri melalui dokumen sezaman, arsip kolonial, dan penelitian sejarah yang lebih khusus.

Tokoh-Tokoh Lain dalam Sejarah Bojonegoro

Jejak Mbah Malang Negoro hanyalah salah satu bagian dari perjalanan sejarah Bojonegoro. Sejumlah tokoh dan kelompok masyarakat lain turut membentuk identitas wilayah ini.

1. Mas Tumapel dan pembentukan Kabupaten Jipang

Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tentang sejarah kabupaten, pada 20 Oktober 1677 status Jipang diubah menjadi kabupaten dengan Mas Tumapel sebagai bupati pertama yang berkedudukan di Jipang. Peristiwa ini menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Bojonegoro.

Pada 1725, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Jipang ke Rajekwesi. Rangkaian perubahan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Bojonegoro juga berkaitan dengan perkembangan administrasi dan kekuasaan di Jawa.

Baca Juga: Bojonegoro Pernah Diserang Kemarau Panjang Tahun 1940, Tiba-Tiba Dihantam Banjir Bandang

2. Masyarakat Samin dan Wong Kalang

Sejarah Bojonegoro juga dibentuk oleh kelompok masyarakat dengan tradisi dan identitas budaya yang khas. Penelitian Ita Fajar April Liani, Firza Azzam Fadilla, dan Agus Danugroho berjudul “Asal Muasal Wong Jonegoro: Tinjauan Historis Hubungan Wong Kalang dan Masyarakat Samin Bojonegoro” diterbitkan dalam Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, Volume 4 Nomor 2, tahun 2021.

Penelitian tersebut membahas dua pandangan mengenai hubungan antara Wong Kalang dan masyarakat Samin di Bojonegoro. Pandangan pertama melihat adanya keterkaitan berdasarkan budaya, ajaran, perilaku, dan karakteristik tempat tinggal. Pandangan kedua menyatakan bahwa keterkaitan tersebut belum dapat dipastikan.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa asal-usul masyarakat tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu cerita tunggal. Penelitian sejarah membutuhkan kritik sumber, perbandingan bukti, dan interpretasi yang terbuka terhadap kemungkinan berbeda.

3. Para pejuang lokal pada masa revolusi kemerdekaan

Perjuangan masyarakat Bojonegoro tidak berhenti pada masa Perang Jawa. Pada periode revolusi fisik 1948–1949, wilayah ini kembali menjadi arena perlawanan terhadap kembalinya pasukan Belanda.

Marshanda Fitria Intan dalam penelitian “Revolusi Fisik di Kabupaten Bojonegoro Tahun 1948–1949”, yang diterbitkan dalam Historiography: Journal of Indonesian History and Education pada 2022, menguraikan pergerakan pasukan Belanda serta upaya perlawanan masyarakat dan pejuang setempat.

Penelitian itu juga menjelaskan peran Temayang sebagai pusat komando militer. Kajian ini memperlihatkan bahwa sejarah perjuangan Bojonegoro berlangsung dalam beberapa periode yang berbeda, dengan tokoh, strategi, dan situasi politik masing-masing.

Padangan sebagai Ruang Sejarah Penyebaran Islam

Selain dikenal melalui cerita perjuangan, Padangan juga memiliki jejak sejarah keagamaan. Kawasan ini menyimpan makam tokoh-tokoh yang dihormati masyarakat dan menjadi bagian dari tradisi ziarah.

Dikutip dari tulisan Ahmad Wahyu Rizkiawan di NU Online, mengenai sejarah peradaban Islam di kawasan Kedung Pakuncen menghubungkan Padangan dengan perkembangan tradisi Islam, keberadaan ulama, dan kisah tokoh-tokoh lokal dari berbagai periode.

Dalam riwayat yang berkembang, tokoh seperti Sayyid Abu Bakar Alaydrus dikaitkan dengan lingkungan perjuangan dan kehidupan keagamaan di Padangan. Cerita tersebut memperlihatkan bahwa sejarah lokal tidak selalu memisahkan peran sosial, keagamaan, dan perjuangan politik secara tegas.

Meski demikian, informasi mengenai asal-usul tokoh, hubungan kekerabatan, dan masa hidupnya perlu diperiksa melalui sumber yang berbeda. Tradisi lisan merupakan sumber penting untuk menggali sejarah masyarakat, tetapi tetap memerlukan pembandingan dengan bukti tertulis maupun arkeologis. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
Mbah Malang Negoro Padangan pangeran diponegoro sejarah perjuangan