RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan kawasan pertanian di Jawa Timur. Di balik perkembangan wilayahnya saat ini, tersimpan jejak panjang peradaban masa lalu, termasuk keterkaitannya dengan Kerajaan Majapahit.
Sejumlah prasasti, situs arkeologi, struktur bata kuno hingga catatan dalam sumber sejarah menjadi petunjuk bahwa kawasan Bojonegoro pernah memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Jawa pada masa Majapahit.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sendiri mencatat bahwa hingga abad ke-16, wilayah Bojonegoro termasuk dalam kekuasaan Majapahit. Setelah itu, wilayah tersebut mengalami perubahan politik seiring munculnya Kesultanan Demak dan kerajaan-kerajaan berikutnya.
Prasasti Adan-Adan, bukti aktivitas Majapahit
Salah satu bukti penting keberadaan pengaruh Majapahit di Bojonegoro adalah Prasasti Adan-Adan yang ditemukan di wilayah Kecamatan Kalitidu.
Prasasti tersebut menjadi salah satu sumber yang digunakan dalam penelitian mengenai sejarah Majapahit di Bojonegoro. Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa Prasasti Adan-Adan bersama Prasasti Tuhanyaru merupakan sumber penting dalam kajian mengenai keberadaan aktivitas Majapahit di wilayah tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa Bojonegoro bukan sekadar wilayah yang berada di pinggiran kekuasaan Majapahit. Ada aktivitas masyarakat dan pemerintahan yang meninggalkan jejak material maupun tertulis.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI juga mencatat adanya temuan 17 lempeng tembaga dari Prasasti Adan-Adan. Prasasti tersebut berangka tahun 1301 Masehi dan berkaitan dengan penetapan Desa Adan-Adan sebagai wilayah bebas pajak atau sima.
Baca Juga: Menuju HJB ke-349: Awal Terbentuknya Bojonegoro
Wotanngare, situs permukiman masa Majapahit
Jejak lainnya dapat ditemukan di Situs Wotanngare, Kecamatan Kalitidu. Situs ini selama bertahun-tahun menjadi objek penelitian arkeologi karena menyimpan berbagai tinggalan purbakala.
Penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Wotanngare merupakan situs permukiman dari masa Majapahit. Temuan tersebut menarik karena masyarakat setempat sebelumnya mengaitkan kawasan ini dengan kisah Kerajaan Malawapati dan tokoh legendaris Anglingdarma.
Dalam penelitian arkeologi, legenda lokal tidak serta-merta dianggap sebagai bukti sejarah. Namun, cerita yang hidup di tengah masyarakat dapat menjadi petunjuk awal untuk menelusuri suatu kawasan.
Hal tersebut terlihat pada Wotanngare. Sejumlah nama tempat di sekitarnya memiliki keterkaitan dengan legenda Anglingdarma. Penelitian kemudian menemukan tinggalan arkeologis yang menunjukkan adanya permukiman pada masa Majapahit.
Dander dan misteri Badander
Jejak Majapahit di Bojonegoro juga berkaitan dengan Dander.
Nama Dander menjadi menarik karena adanya kemungkinan kaitan dengan Badander, sebuah tempat yang disebut dalam sumber-sumber sejarah seperti Pararaton dan Nagarakretagama.
Menurut Prof. Agus Aris Munandar, identifikasi Badander masih menjadi bagian dari kajian arkeologi-sejarah. Sumber tertulis memang menyebut Badander, tetapi terdapat lebih dari satu lokasi yang mungkin berkaitan dengan nama tersebut sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam konteks Bojonegoro, Dander menjadi salah satu kandidat yang mendapat perhatian para peneliti.
Baca Juga: Ternyata Sejak 1933 Gunung Pandan di Bojonegoro Sudah Jadi Tempat Healing Paling Diincar!
Bahkan, Prof. Agus menyebut Bojonegoro sebagai salah satu lokasi yang mungkin berkaitan dengan karsyan pada masa Majapahit. Karsyan merupakan tempat yang berkaitan dengan kehidupan para resi atau pertapa, biasanya berada jauh dari pusat keramaian.
Namun, penting untuk dicatat bahwa identifikasi Badander dengan Dander Bojonegoro belum dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang sepenuhnya final. Kajian mengenai lokasi tersebut masih membutuhkan penguatan melalui data arkeologi dan sumber tertulis.
Kayangan Api dan jejak kehidupan masa lalu
Kawasan Kayangan Api di Kecamatan Ngasem juga kerap dikaitkan dengan sejarah Majapahit.
Situs ini memiliki fenomena api abadi yang keluar dari dalam tanah. Dalam tradisi masyarakat, lokasi tersebut dikaitkan dengan sosok Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa yang dipercaya berasal dari masa Majapahit.
Yang menarik, kawasan Bojonegoro juga memiliki bukti tertulis berupa prasasti yang ditemukan di sekitar Kalitidu. Karena itu, Kayangan Api dan kawasan sekitarnya menjadi bagian dari kajian yang lebih luas mengenai lanskap budaya dan aktivitas masyarakat pada masa lampau.
Padangan, jalur penting di sepanjang Bengawan Solo
Jejak Majapahit tidak berhenti di kawasan Kalitidu dan Dander. Padangan juga menyimpan cerita mengenai hubungan Bojonegoro dengan jaringan transportasi sungai pada masa Majapahit.
Prasasti Canggu tahun 1358 Masehi mencatat sejumlah tempat di sepanjang sungai yang berfungsi sebagai pelabuhan atau tempat penyeberangan. Dalam kajian mengenai sejarah Padangan, nama Pagdangan dan Djipang disebut berkaitan dengan jaringan pelabuhan sungai tersebut.
Posisi Bengawan Solo menjadi sangat penting karena sungai tersebut merupakan salah satu jalur transportasi alami di Jawa. Keberadaan permukiman dan aktivitas perdagangan di sepanjang sungai memungkinkan kawasan seperti Padangan berkembang sebagai bagian dari jaringan ekonomi dan mobilitas masyarakat pada masa itu.
Penelitian arkeologi yang dilakukan di kawasan Padangan juga menemukan tinggalan berupa struktur bata kuno dan artefak yang dikaitkan dengan masa Majapahit.
Baca Juga: Dijuluki 'Kuburan Monster', Ekspedisi Gunung Pandan 1935 di Bojonegoro Ungkap Arena Tarung Raksasa
Bojonegoro bukan sekadar wilayah pinggiran
Berbagai temuan tersebut memberikan gambaran bahwa hubungan Bojonegoro dengan Majapahit tidak hanya dapat dilihat dari satu situs.
Ada prasasti sebagai sumber tertulis, situs permukiman sebagai bukti arkeologis, jalur Bengawan Solo sebagai jaringan transportasi, serta toponimi atau nama tempat yang menjadi petunjuk dalam penelitian sejarah.
Menurut Prof. Agus Aris Munandar, penelitian mengenai Bojonegoro perlu dilakukan melalui pendekatan arkeologi dan sejarah secara bersamaan. Data arkeologi yang terbatas dapat diperkuat dengan sumber tertulis, seperti Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti.
Pendekatan tersebut penting agar cerita mengenai kejayaan Majapahit di Bojonegoro tidak hanya berhenti pada legenda, tetapi dapat diuji berdasarkan bukti ilmiah.
Menjaga warisan sejarah Bojonegoro
Jejak Majapahit di Bojonegoro pada akhirnya menunjukkan bahwa sejarah daerah tidak selalu tersimpan dalam bangunan besar atau candi yang masih berdiri utuh. Kadang, sejarah justru tersembunyi dalam pecahan bata, prasasti, struktur tanah, artefak, nama tempat, maupun cerita yang diwariskan masyarakat.
Baca Juga: Jejak 'Wong Kalang' di Tuban-Bojonegoro: Mitos Diskriminatif Manusia Berekor dan Keturunan Anjing
Penelitian terhadap Situs Wotanngare, Prasasti Adan-Adan, kawasan Dander, Padangan dan sejumlah lokasi lainnya menjadi penting untuk memperkuat pemahaman mengenai posisi Bojonegoro dalam sejarah Jawa.
Dengan penelitian yang berkelanjutan dan pelestarian situs, jejak masa Majapahit di Bojonegoro bukan hanya menjadi cerita masa lalu. Warisan tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus identitas budaya bagi generasi sekarang dan mendatang. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko