RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi di Jawa Timur, Bojonegoro telah memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat di sepanjang aliran Bengawan Solo. Sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut bukan sekadar sumber air, melainkan juga jalur transportasi, penghubung antardaerah, serta bagian dari jaringan perdagangan yang berkembang sejak masa kerajaan.
Letak geografis Bojonegoro di tepi Bengawan Solo menjadikan wilayah ini memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat pedalaman dan kawasan pesisir utara Jawa. Melalui jalur sungai, hasil bumi dapat dipindahkan, masyarakat dapat berinteraksi, dan berbagai pengaruh kebudayaan berpotensi menyebar antarkawasan.
Sejumlah penelitian sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa Bengawan Solo mempunyai peran penting dalam perekonomian Jawa pada masa lampau. Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui kajian tentang jalur perdagangan sungai, prasasti kuno, hingga temuan perahu bersejarah di wilayah Bojonegoro.
Bengawan Solo, Nadi Transportasi dan Perdagangan Masa Lampau
Pada masa ketika transportasi darat belum berkembang seperti sekarang, sungai menjadi salah satu jalur yang sangat penting untuk menghubungkan daerah pedalaman dengan pusat-pusat perdagangan. Bengawan Solo menyediakan jalur alami bagi pergerakan manusia maupun pengangkutan komoditas dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Penelitian Ahmad Nurul Fauzi dan Septina Alrianingrum berjudul Studi Komparatif Peran Bengawan Solo dan Sungai Brantas dalam Perkembangan Ekonomi Abad ke-10 M–15 M di Jawa Timur, yang diterbitkan dalam jurnal AVATARA pada 2015, menjelaskan bahwa kedua sungai tersebut berperan menghubungkan kawasan pedalaman dan pesisir.
Kajian itu juga menyebut wilayah sekitar Bengawan Solo, termasuk Bojonegoro, Ngawi, Madiun, Tuban, Lamongan, dan Gresik, sebagai bagian dari kawasan penyangga aktivitas ekonomi. Hasil bumi dari pedalaman dapat diangkut melalui jalur sungai menuju pusat perdagangan dan pelabuhan di pesisir utara Jawa.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa posisi Bojonegoro tidak dapat dilepaskan dari jaringan ekonomi regional. Keberadaan sungai memungkinkan wilayah pedalaman terhubung dengan pasar yang lebih luas, meskipun tingkat aktivitas perdagangan di setiap tempat dan periode sejarah tentu tidak selalu sama.
Jejak Perahu Kuno di Bojonegoro, Bukti Penting Sejarah Sungai
Salah satu bukti menarik mengenai hubungan Bojonegoro dengan aktivitas transportasi air adalah penemuan perahu kuno di kawasan Bengawan Solo.
Penelitian Marshanda Fitria Intan berjudul Situs Perahu Kuno dan Perahu Besi di Bojonegoro, yang diterbitkan dalam jurnal Prabayaksa: Journal of History Education pada 2022, mencatat dua temuan penting, yakni perahu kuno di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, yang ditemukan pada 2005, serta perahu besi di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, yang diangkat ke daratan pada 2013.
Temuan tersebut memperkaya pemahaman tentang sejarah transportasi air di Bojonegoro. Perahu merupakan salah satu sarana yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan sungai untuk mobilitas dan pengangkutan barang.
Namun, penting untuk dicatat bahwa keberadaan perahu kuno saja tidak otomatis membuktikan fungsi atau usia seluruh aktivitas perdagangan di lokasi tersebut. Penentuan kronologi dan kegunaan perahu harus mempertimbangkan hasil penelitian arkeologi, kondisi temuan, serta bukti pendukung lainnya.
Meski demikian, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa Bengawan Solo menyimpan warisan sejarah yang layak diteliti lebih jauh, terutama terkait teknologi transportasi dan kehidupan masyarakat sungai pada masa lampau.
Hubungan Bojonegoro dengan Masa Kerajaan Majapahit
Pembahasan mengenai peran Bengawan Solo tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa, termasuk Majapahit yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14.
Penelitian Nur Efendi berjudul Peran Bengawan Solo pada Perekonomian Majapahit Abad XIV–XVI, yang diterbitkan dalam jurnal AVATARA: e-Journal Pendidikan Sejarah pada 2014, menjelaskan bahwa kondisi geografis Jawa Timur, termasuk keberadaan sungai dan dataran rendah, mendukung kegiatan pertanian serta perdagangan.
Bengawan Solo dimanfaatkan untuk pengairan dan transportasi sungai. Aktivitas pelayaran di sepanjang alirannya turut mendukung perkembangan ekonomi dan kemunculan tempat-tempat perdagangan.
Sementara itu, Hari Lelono, peneliti dari Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui kajian Mojopura Wetan, Desa Penyeberangan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo pada Masa Majapahit?, membahas pentingnya akses sungai bagi pergerakan menuju pusat kekuasaan Majapahit.
Artikel yang terbit di jurnal Berkala Arkeologi pada 2024 itu mengulas prasasti Jawa kuno yang menyebut sejumlah desa penyeberangan di tepian Bengawan Solo. Penelitian tersebut juga mengidentifikasi kemungkinan hubungan Mojopura Wetan di Gresik dengan nama Bajrapura dalam sumber prasasti.
Kajian Lelono memberikan gambaran bahwa penyeberangan sungai merupakan bagian dari infrastruktur mobilitas masyarakat pada masa kerajaan. Akan tetapi, pembahasan mengenai lokasi penyeberangan tertentu di Gresik tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa semua titik di Bojonegoro memiliki fungsi yang sama.
Bagi Bojonegoro, penelitian-penelitian tersebut menjadi landasan untuk memahami posisinya dalam lanskap sejarah Bengawan Solo, khususnya sebagai wilayah yang dilalui sungai dan berpotensi terhubung dengan jaringan transportasi serta perdagangan regional.
Dari Pedalaman Menuju Pelabuhan Pesisir Utara Jawa
Pada masa lampau, hubungan antara pedalaman dan pesisir merupakan unsur penting dalam perkembangan ekonomi Jawa. Daerah pedalaman menghasilkan berbagai komoditas, sedangkan kawasan pesisir menjadi tempat pertemuan pedagang dan jalur distribusi menuju wilayah lain.
Penelitian Ahmad Nurul Fauzi dan Septina Alrianingrum pada 2015 menjelaskan bahwa jalur Bengawan Solo menghubungkan kawasan pedalaman Jawa Timur bagian barat dan utara dengan pusat perdagangan di pesisir, termasuk Tuban dan Sidayu.
Wilayah sekitar Bojonegoro termasuk dalam kawasan yang terhubung dengan sistem ekonomi tersebut. Komoditas dari pedalaman dapat diangkut menggunakan jalur sungai sebelum diteruskan ke pusat perdagangan.
Pola ini menunjukkan bahwa peran sungai tidak hanya berkaitan dengan kegiatan jual beli. Sungai juga menjadi sarana distribusi hasil produksi, penghubung antarkelompok masyarakat, dan jalur yang memungkinkan pertukaran barang serta pengetahuan.
Meski begitu, tidak semua barang yang melewati Bengawan Solo dapat dipastikan berasal dari Bojonegoro. Penelitian mengenai komoditas, lokasi perdagangan, dan besarnya aktivitas ekonomi di setiap periode masih diperlukan untuk menjelaskan peran lokal secara lebih terperinci. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko