RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Wilayah Jipang, yang saat ini dikenal sebagai Bojonegoro merupakan negeri yang subur dan makmur. Tak lepas dari kondisi geografis dan berada di kawasan tengah aliran Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Melalui jalur sungai ini, berbagai komoditas, mulai dari hasil pertanian, perkebunan, dan hutan hingga barang-barang perdagangan dari berbagai daerah dapat diangkut dengan lebih mudah dan efisien dibandingkan melalui jalur darat.
Ketersediaan air yang relatif melimpah memungkinkan berkembangnya areal persawahan yang luas dan produktif, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk sekaligus menghasilkan surplus yang dapat diperdagangkan.
Selain padi sebagai komoditas utama, masyarakat juga membudidayakan berbagai tanaman palawija, seperti jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian, serta tanaman pekarangan dan perkebunan seperti kelapa, pinang, gembili, dan sirih.
Baca Juga: Bojonegoro Berawal dari Jipang
Seperti disampaikan Muhammad Andrea dalam bukunya yang berjudul Maribong. Pria akrab disapa Andre ini mengatakan, kemakmuran Jipang beserta melimpahnya hasil bumi pada
wilayah ini dapat ditemukan dalam sebuah catatan tahun 1663 Masehi yang menyebutkan bahwa seorang petinggi Jipang bersama empat atau lima orang pengiring datang menghadap Raja Bungsu (Ampel) dengan membawa berbagai persembahan berupa kelapa, pinang, ubi gembili, sirih, beras, dan ayam. Menunjukkan masyarakat Jipang tidak hanya mengandalkan padi sebagai tanaman pokok.
Berada di jalur penghubung antara pesisir utara dan pedalaman, Jipang memegang peranan penting dalam lalu lintas perdagangan, pergerakan penduduk, serta percaturan politik yang berlangsung di antara para penguasa Jawa dari masa ke masa.
Jipang muncul sebagai salah satu wilayah penting yang menempati jalur strategis antara pesisir utara dan pedalaman Jawa Timur (Jatim). Jipang bukan sekadar wilayah di sepanjang Bengawan Solo, melainkan pusat pemerintahan yang memiliki pengaruh luas terhadap daerah-daerah pedalaman Jawa bagian timur.
"Ini ada kaitannya Mataram dan awal meluasnya kekuasaan VOC di Jawa. Kemudian, utang Mataram dan meluasnya kekuasaan VOC pada 1705-1743," jelas pria asal Kecamatan Sugihwaras itu. (yna/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah