3 Poin Inti Peristiwa Alam Bojonegoro 1940:
-
Peralihan Darurat Tanam Pangan: Kekeringan panjang membuat sawah-sawah gagal diolah untuk padi, sehingga pemerintah turun tangan mengerahkan 10 mandoer khusus dan mendatangkan tenaga ahli pertanian senior, Koesno Adirono, guna menggenjot penanaman palawija (jagung dan ketela).
-
Ledakan Air Kali Mengkoeris: Hujan deras di lereng Gunung Pandan membuat volume air Kali Mengkoeris meluber secara abnormal (rekor tertinggi sejak 1934), menjebol tanggul, merendam tegalan warga, hingga nyaris merendam jalur rel kereta api NIS.
-
Jembatan Provinsi Putus & Isolasi Jalur: Banjir bandang menghantam hebat wilayah Sumberrejo dan Baureno, menghanyutkan bagian oprit dan rangka jembatan di jalan raya utama Bojonegoro–Surabaya hingga melumpuhkan total arus transportasi darat sebelum akhirnya dibangun jembatan darurat dalam waktu 12 jam.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kisah dramatis mengenai kondisi alam Bojonegoro pada awal tahun 1940 terekam jelas dalam arsip surat kabar kolonial De locomotief terbitan 12 Maret 1940, yang dapat kamu telusuri melalui situs pangkalan data delpher.nl.
Wilayah Bojonegoro mulanya dilanda musim kering ekstrem yang membuat para petani gagal menanam padi karena batas waktu tanam terlewati, memaksa pemerintah bergerak cepat membagikan bibit jagung dan ketela.
Namun, situasi berbalik secara ekstrem ketika hujan lebat di kawasan pegunungan Gunung Pandan memicu luapan sungai-sungai kecil seperti Kali Mengkoeris, yang berujung pada banjir bandang dahsyat hingga merusak jembatan besar di jalur provinsi Bojonegoro–Surabaya.
Laporan koran masa lalu tersebut menggambarkan betapa rentannya siklus cuaca di Bojonegoro pada masa itu. Pada awal tahun 1940, curah hujan yang sangat minim sempat menyebabkan stagnasi total pada pengolahan sawah (sawahbewerking).
Karena padi tidak bisa ditanam tepat waktu, Dinas Penyuluhan Pertanian (Landbouw Voorlichtingsdienst atau L.V.D.) mengambil langkah cepat dengan mengalihkan fokus ke tanaman pangan alternatif seperti jagung dan singkong (ketela).
Baca Juga: Bojonegoro Punya Banyak Bendungan, Waduk, dan Embung, Ini Fungsinya Saat Musim Kemarau
Saking seriusnya penanganan pertanian di wilayah ini, L.V.D. Bojonegoro tercatat sebagai instansi pertanian dengan staf terkuat di seluruh Pulau Jawa. Dipimpin oleh Ir. R. Ng. S. Sosrohadikoesoemo (putra dari tokoh Volksraad Sosrohadikoesoemo), instansi ini diperkuat oleh 5 adjunct-konsultan, 6 pengawas lapang, ahli tembakau, hingga kedatangan tenaga ahli senior Koesno Adirono yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun.
Dari Kekeringan Ekstrem Menjadi Amukan Banjir Bandang
Namun, situasi pelik itu seketika berubah drastis dalam hitungan hari. Cuaca panas berganti dengan guyuran hujan lebat tanpa henti, terutama pada jam-jam malam di wilayah perkotaan Bojonegoro hingga kawasan dataran tinggi di lereng Gunung Pandan. Aliran sungai-sungai penting seperti Kali Solo, Kali Semarmendem, dan khususnya Kali Mengkoeris mulai menunjukkan tanda-tanda berbahaya.
Kali Mengkoeris, yang mengalir melewati Kesongo, Kedungadem, ke arah utara menuju Baureno, memperlihatkan volume air yang aneh dan melampaui rekor tahun 1934.
Puncak ancaman terjadi pada hari Selasa malam. Arus air yang sangat deras meluap melewati tanggul, menggenangi ladang warga (tegalans), dan meluber hingga menutupi badan rel kereta api N.I.S. Berkat kesigapan pengawas setempat, kereta pagi berhasil dikendalikan meski mengalami keterlambatan satu jam.
Jembatan Provinsi Hancur dan Aksi Tanggap Darurat
Dampak paling parah dirasakan di sub-distrik Sumberrejo dan Baureno. Arus air yang mengamuk dengan beringas menghantam jembatan di jalur utama provinsi yang menghubungkan Bojonegoro dan Surabaya, tepatnya di antara Sumberrejo dan Talon.
Bagian tengah jembatan ajaibnya masih utuh, namun sisi oprit serta struktur besi dan kayu pendukungnya tersapu bersih oleh arus. Akibatnya, lalu lintas kendaraan bermotor lumpuh total.
Mendengar laporan darurat tersebut, regu teknis Pekerjaan Umum (P.W.) bersama sang Regent (Bupati) langsung meluncur ke lokasi dengan dua truk pengangkut. Tanpa kenal lelah siang dan malam, mereka membangun jembatan darurat (noodbrug) hingga jalur transportasi dapat dibuka kembali dalam kurun waktu 12 jam.
Baca Juga: Kemarau Panjang Tekan Produksi Tembakau di Bojonegoro
Tak lama kemudian, insiden serupa juga menimpa jembatan beton di rute Kedungadem–Kesongo menuju Lamongan. Lagi-lagi, berkat kerja kilat mandor pekerjaan umum, jembatan darurat dari batang pohon kelapa (klapperstammen) berhasil didirikan dalam waktu kurang dari 24 jam demi memulihkan mobilitas warga.
Informasi Tambahan: Karakteristik hidrologi wilayah Bojonegoro yang diapit oleh daerah aliran sungai besar dan topografi pegunungan kapur memang rentan terhadap anomali cuaca ekstrem (peralihan cepat dari kekeringan ke banjir). Untuk memantau data mutakhir terkait mitigasi banjir, status debit air Bengawan Solo, serta sistem peringatan dini bencana di wilayah Bojonegoro, kamu dapat merujuk pada informasi resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro atau portal Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. (*)