3 Poin Inti Sejarah Ekstrem Bengawan Solo:
-
Debit Air Super Labil: Karakteristik Bengawan Solo sangat tidak konstan. Arusnya bisa melonjak di angka maksimal 2.800 m³/detik hingga menyentuh titik terendah 7 m³/detik. Rata-rata debit pada musim hujan (November-April) adalah 400 m³, sedangkan saat kemarau (Mei-Oktober) menyusut drastis ke 92 m³.
-
Proyek 'Rechttrekken' atau Pelurusan Sungai: Aliran air yang lambat menciptakan kelokan sungai ekstrem (meander) yang menjadi biang kerok banjir bandang. Untuk menjinakkannya, pemerintah membuat kanal-kanal sodetan untuk meluruskan jalur sungai.
-
Populasi Keresidenan Bojonegoro: Pada tahun 1940, dinamika sungai ini memengaruhi hajat hidup total 1.794.299 jiwa yang menetap di tiga kabupaten: Bojonegoro (561.239), Lamongan (669.943), dan Tuban (563.117).
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sungai Bengawan Solo nyatanya sudah menjadi "urat nadi" sekaligus ancaman nyata yang secara mutlak menentukan nasib kesejahteraan hampir 1,8 juta penduduk Keresidenan Bojonegoro di era kolonial.
Bayangkan saja, sungai terpanjang di Jawa ini memiliki rekam jejak debit air yang sangat ekstrem dan labil. Aliran tertingginya bisa mengamuk dengan memuntahkan 2.800 meter kubik air per detik, namun bisa menyusut drastis hingga hanya 7 meter kubik di musim kemarau.
Untuk meredam amukan banjir bandang tahunan, pemerintah Hindia Belanda saat itu sampai harus mengeksekusi proyek penggalian kanal khusus demi meluruskan rute sungai yang terlalu berkelok-kelok.
Catatan sejarah hidrologi yang sangat mendetail ini terekam dengan apik dalam arsip surat kabar kolonial De Indische courant edisi 5 April 1940. Kamu kini bisa menelusuri langsung dokumen asli tersebut secara digital melalui pangkalan data sejarah Belanda di delpher.nl.
Dalam laporan pandangan mata di masa itu, sang penulis melukiskan secara dramatis pemandangan sungai saat ia berdiri di tepian berlumpur Bojonegoro. Tepat di bawah kakinya, membentang arus deras air berwarna cokelat pekat yang bergejolak cepat.
Mengalir dari kawasan selatan Pegunungan Kapur (yang titik tertingginya adalah Gunung Pandan) hingga ke Laut Jawa, Bengawan Solo sukses membelah Pegunungan Kendeng di Ngawi dengan kelokan tajam yang seolah tak ada habisnya. Sungai ini kemudian menciptakan wilayah subur bernama Lembah Solo, yang panjang wilayahnya setara dengan 26 jam perjalanan kaki tanpa henti!
Bagi masyarakat pribumi, aliran air Bengawan Solo bukan sekadar lintasan air biasa, melainkan faktor utama penentu roda ekonomi. Tingkat kesejahteraan dan kemiskinan warga sangat bergantung pada kondisi fisik sungai ini. Karena elevasinya (kemiringan daratan) yang sangat landai, aliran air berjalan lambat dan terpaksa memutar membentuk kelokan-kelokan ekstrem.
Saat musim penghujan dengan debit air membeludak, kelokan-kelokan sempit ini tak sanggup menahan volume air raksasa, sehingga air meluap dan memicu bencana banjir (bandjirs). Sebagai solusi peredam bencana, proyek sodetan atau pemotongan kelokan sungai digarap. Siasat meluruskan aliran ini menjadi cara yang logis di masa itu untuk mengendalikan air agar cepat mengalir ke laut, sekaligus melindungi kawasan pemukiman warga di Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.
Informasi Tambahan: Upaya penjinakan dan manajemen tata air Sungai Bengawan Solo faktanya terus berevolusi dari zaman Hindia Belanda hingga ke proyek-proyek mitigasi banjir modern saat ini. Praktik pelurusan sungai (sodetan) dan pembangunan kanal pelimpah banjir (floodway) merupakan subjek kajian krusial dalam hidrologi modern. Buat kamu yang ingin mendalami sejarah dan tata kelola teknis manajemen sumber daya air Bengawan Solo secara kredibel, kamu bisa merujuk pada publikasi resmi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo melalui laman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko