Geger Demam Migas Bojonegoro Sejak 1907: Kisah Bule Nyari Minyak, Malah Nemu Api Abadi Kayangan Api

Bhagas Dani Purwoko • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 18:00 WIB
MIGAS: Kondisi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru saat malam hari. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MIGAS: Kondisi Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru saat malam hari. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

3 Poin Inti Sejarah Demam Minyak Bojonegoro:

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jauh sebelum kawasan Blok Cepu menjadi primadona energi nasional, Bojonegoro dan sekitarnya pernah dilanda demam minyak dan gas bumi (migas) yang sangat luar biasa pada awal abad ke-20.

Berdasarkan laporan arsip koran kolonial Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië terbitan 25 Februari 1907 yang tersimpan di delpher.nl, perburuan konsesi pertambangan memicu persaingan sengit antara perusahaan raksasa, termasuk pelacakan sumber minyak dari Dander, Gunung Pandan, hingga Madiun oleh utusan Standard Oil Company yang justru berujung pada penemuan fenomena geologi unik berupa api abadi yang menyala dari dalam tanah di wilayah Dander, yang kini kita kenal sebagai Kayangan Api.

Membaca arsip koran kolonial dari tahun 1907 ini rasanya seperti menonton film tentang perburuan harta karun. Koresponden koran De Locomotief di Bojonegoro saat itu melaporkan betapa gilanya fenomena petroleumkoorts atau "demam migas".

Semua orang, mulai dari perusahaan raksasa hingga pengusaha lokal, saling sikut memburu konsesi atau izin eksplorasi pertambangan eksklusif di wilayah Keresidenan Rembang dan sekitarnya.

Salah satu cerita paling menarik datang dari sepak terjang Standard Oil Company, perusahaan minyak raksasa asal Amerika. Mereka menyewa seorang mantan administrator penebangan kayu asal Surabaya yang sudah puluhan tahun hafal medan hutan di Rembang untuk mencari sumber-sumber minyak baru.

Baca Juga: Bulan Ini Mulai Pemetaan Survei Seismik Darat 2D Lamturo untuk Ketahui Potensi Cadangan Migas Baru

Ekspedisinya dimulai dari sub-distrik Dander. Di sinilah ia menemukan sebuah anomali geologi yang luar biasa: genangan air (plassen) yang terus-menerus memancarkan kobaran api dari dalam tanah, tak peduli seberapa banyak air yang menggenanginya. Tempat magis yang oleh warga lokal disebut kajanganapi (Kayangan Api) ini kini menjadi salah satu ikon wisata andalan Bojonegoro!

Mitos Tanah Asin dan Tragedi Banjir Minyak

Persaingan mencari minyak saat itu sangat masif. Perusahaan Belanda seperti Dordtsche Petroleum-Maatschappij dan Koninklijke Nederlandsche Petroleum-Maatschappij (cikal bakal Shell) sudah lebih dulu menancapkan bor di daerah Panolan (sekarang dikenal sebagai Cepu), yang saat itu dianggap sebagai distrik minyak terpenting.

Saking tingginya obsesi mencari minyak, para pencari (petroleumnavorschers) mulai merambah hutan belantara seperti Randublatung dan Ngawen. Mereka bahkan menggunakan teori tradisional: jika sebuah tanah terasa asin atau payau, maka di bawahnya pasti terkandung banyak minyak.

Namun, perburuan liar ini juga memakan korban. Laporan tersebut mencatat sebuah insiden mengerikan di sub-distrik Kunduran. Sebuah sumur bor mendadak menyemburkan minyak (petroleumbandjir) dengan volume luar biasa hingga membanjiri dan menenggelamkan banyak perkebunan. Tragisnya, saat mencoba menanggulangi tumpahan minyak tersebut, seorang Asisten Wedana pribumi harus kehilangan nyawanya dengan cara yang mengenaskan.

Bermula dari Tinawun: Kisah Miliarder Dadakan

Tentu saja, episentrum dari semua kegilaan ini berpusat pada satu tempat: Tinawun. Di distrik yang masuk wilayah Bojonegoro inilah cadangan minyak pertama kali ditemukan sekitar 25 tahun sebelum artikel tersebut ditulis (sekitar awal 1880-an).

Awalnya, dua pengusaha tembakau bernama Carp dan Van Sandick mencoba meminta izin eksploitasi di Tinawun, namun ditolak mentah-mentah oleh pemerintah.

Beberapa tahun kemudian, seorang pria bernama Riesz berhasil mendapatkan izin tersebut. Hasilnya? Riesz memompa minyak dalam jumlah yang fantastis, mengeruk keuntungan tak berseri dari konsesinya, dan seketika berubah menjadi pria super kaya yang menghabiskan masa tuanya di sebuah rumah mewah bergaya Paris.

Informasi Tambahan: Fenomena geologi Kayangan Api di Dander pada dasarnya adalah gas alam (methane) yang merembes keluar melalui rekahan patahan bumi dan terakumulasi di permukaan. Fenomena ini terkait erat dengan cekungan hidrokarbon purba (Zona Kendeng dan Zona Rembang) yang memang menjadi sumber kekayaan migas di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Kamu bisa mempelajari lebih lanjut tentang pelestarian situs geoheritage ini di portal Geopark Bojonegoro. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
demam migas standard oil company harta karun bojonegoro kayangan api